Logo JawaPos
Author avatar - Image
23 November 2025, 23.47 WIB

PBNU Memanas Usai Desakan Mundur Gus Yahya dari Jabatan Ketum, Gus Nadir Singgung Seorang Kiai yang Dinginkan Kopi dengan AC

Usai menghadiri Rakor PWNU di Surabaya, Ketum PBNU Gus Yahya tegaskan tak akan mundur dari jabatannya, meski didesak pemakzulan, Minggu (23/11). (Novia Herawati/ JawaPos.com) - Image

Usai menghadiri Rakor PWNU di Surabaya, Ketum PBNU Gus Yahya tegaskan tak akan mundur dari jabatannya, meski didesak pemakzulan, Minggu (23/11). (Novia Herawati/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali memanas setelah beredarnya risalah Rapat Harian Syuriah yang meminta Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mundur dari jabatannya.

Polemik ini memunculkan berbagai tanggapan dari tokoh NU, termasuk akademisi dan ulama muda NU di Australia, Nadirsyah Hosen atau yang akrab disapa Gus Nadir. 

Ia menyikapi situasi tersebut dengan cara yang unik, melalui cerita satir yang menggambarkan tradisi humor ala kiai pesantren.

Gus Nadir mengisahkan sebuah kejadian dalam salah satu peristiwa unik di arena Muktamar NU Jombang tahun 2015. Saat suasana tegang, tiba-tiba seorang Kiai dengan santainya beranjak membawa segelas kopi panas. 

“Dalam satu sesi perdebatan panas di arena Muktamar NU di Jombang 2015, seorang Kiai dengan santai beranjak membawa kopi panasnya,” tulis Gus Nadir dalam akun media sosial X, Minggu (23/11).

Salah satu peserta heran dengan sikap sang kiai, “Lho mau kemana Yai?”. 

Kiai itu menjawab dengan kalimat yang justru mengundang senyum di tengah suasana serius. “Mau mendinginkan kopi saya yang terlalu panas,” ungkapnya. 

Jawaban itu sontak membuat suasana yang tegang menjadi cair. Sebab, cara sang kiai menurunkan suhu kopinya yang tak biasa. Bukannya ditiup atau didiamkan, ia justru mendekatkan gelas kopi tersebut ke arah pendingin ruangan. 

“Caranya....Kiai tersebut mendekati AC dan mendekatkan kopinya ke mesin pendingin itu,” tulis Gus Nadir dalam unggahannya. 

Gus Nadir menilai momen tersebut bukan sekadar nostalgia, melainkan pelajaran dalam menghadapi persoalan organisasi yang memanas. 

“Unik, cara Kiai memecahkan persoalannya. Out of the box. Dan kita dibuat tersenyum melihatnya,” ucapnya.

Mengakhiri pesannya, Gus Nadir mengirim sindiran halus kepada para pihak yang tengah meributkan dinamika PBNU saat ini. Ia menyebut, situasi organisasi kembali memanas, seperti kopi dalam cerita sang kiai. 

“Sekarang 2025, kopi itu kembali terlalu panas, Yai…,” imbuhnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore