Ketum PBNU Gus Yahya akan bertemu dengan Ulama Sepuh di Jakarta, ia ingin meminta nasihat dan doa terkait polemik yang tengah terjadi. (Novia Herawati/JawaPos.com)
JawaPos.com - Usai menghadiri Rakor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) se-Indonesia di Surabaya, Ketum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya dijadwalkan bertemu dengan ulama sepuh di Jakarta.
Berdasarkan informasi yang dihimpun JawaPos.com, pertemuan itu akan digelar di Gedung PBNU lantai 8 Jakarta pada Minggu (23/11) pukul 19.30 WIB. Sebanyak 76 ulama diundang dalam agenda tersebut.
"Kalau dengan ulama (sepuh) ya saya mohon nasihat, mohon doa gimana-gimana. Kalau beliau-beliau bertanya saya jawab. Kalau nggak, ya sudah saya mohon doa saja," tutur Gus Yahya di Surabaya, Minggu dini hari (23/11).
Kakak dari Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas itu hendak meminta petunjuk sekaligus nasihat kepada para kiai dan ulama sepuh tentang polemik di tubuh PBNU, termasuk mengenai desakan pemakzulan dirinya.
"Supaya ada suara moral yang dapat mendorong ke jalan keluar yang maslahat. Biasanya kalau saya ketemu dengan ulama sepuh itu saya hanya minta dinasihati atau doa, nggak pernah mengadu atau mengeluh," imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Gus Yahya mengklaim bahwa dirinya telah berkomunikasi dengan sejumlah suriyah PBNU tentang desakan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketum PBNU periode 2021 - 2026.
"Saya dengan jajaran suriyah sudah bertemu, dan semua yang sudah saya temui mengaku menyesal, karena mereka tidak mendapatkan informasi yang utuh pada mulanya," ucap Gus Yahya.
Sebagai informasi, isu pemakzulan Gus Yahya dari jabatannya sebagai Ketum PBNU mencuat setelah Risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU yang berlangsung di Hotel Aston City, Jakarta pada Kamis (19/11).
Dalam rapat yang dihadiri oleh 37 dari 53 Pengurus Harian Syuriyah PBNU tersebut disimpulkan bahwa Gus Yahya harus mundur atau diberhentikan. Salinan risalah rapat tersebar luas di media sosial.
Risalah yang ditandatangani Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar memuat lima poin. Pada poin terakhir, ditegaskan bahwa Gus Yahya diwajibkan mundur dari jabatan ketum PBNU segera dalam tiga hari.
”Jika dalam waktu 3 hari tidak mengundurkan diri, Rapat Harian Syuriyah PBNU memutuskan memberhentikan KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,” bunyi risalah rapat tersebut.
Di Surabaya, Gus Yahya juga menegaskan bahwa dirinya tak akan mundur dari jabatan Ketua Umum PBNU. Sebab, jabatan tersebut merupakan amanah dari para PWNU pada Muktamar ke-34.
"Saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur, karena saya mendapatkan amanat dari Muktamar ini untuk 5 tahun. Akan saya jalani selama 5 tahun. Insyaallah saya sanggup," pungkas Gus Yahya.
