
Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau yang akrab dipanggil Gus Ipul. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul angkat bicara soal dinamika internal PBNU.
Ia meminta semua pihak tidak beropini lebih jauh terkait munculnya risalah rapat harian Syuriyah yang meminta Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya, untuk mengundurkan diri.
Ia menegaskan, langkah paling bijak saat ini adalah menunggu keputusan resmi para ulama tanpa membuat opini publik.
"Namanya Nahdlatul Ulama, yang memimpin adalah para ulama. Para ulama akan mengambil keputusan sesuai nilai-nilai agama dan ketentuan yang ada. Nah untuk itu saya berharap semua bersabar dan tidak beropini," kata Gus Ipul di Jakarta, Senin (24/1).
Menurut dia, situasi yang terjadi merupakan urusan internal organisasi PBNU. Karena itu, ia meminta semua pihak, termasuk keluarga besar NU maupun pihak luar, tidak berspekulasi tanpa dasar yang jelas.
"Sekali lagi di sini saya sampaikan bahwa itu adalah masalah internal yang akan diselesaikan dengan cara-cara ulama. Tentu kita harapkan semua ikut bersabar, tidak terjebak dalam spekulasi. Tunggu pengumuman resmi," tegasnya.
Gus Ipul memastikan, penjelasan lebih rinci akan disampaikan oleh jajaran Syuriyah PBNU dalam waktu dekat. Ia mengimbau seluruh elemen organisasi tetap berada pada koridor sesuai aturan.
"Prinsipnya sekali lagi, saya minta ke pengurus wilayah (PW) dan pengurus cabang (PC) bersabar, tetap berada pada frekuensinya, mengikuti perkembangan resmi," tuturnya.
Lebih lanjut, Gus Ipul menegaskan bahwa keputusan sepenuhnya berada di tangan otoritas Syuriyah PBNU, yakni Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam.
"Kita serahkan kepada mereka yang memiliki otoritas sesuai AD/ART, yakni Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam. Semuanya mengikuti. Saya juga tidak berkomentar terlalu banyak. Nanti ditunggu saja mungkin satu dalam dua hari ada penjelasan," imbuhnya.
Sebagaimana diketahui, internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergejolak, setelah terbitnya risalah rapat harian Syuriyah yang meminta Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, mundur dari jabatannya. Dokumen tersebut menjadi sorotan publik sejak Jumat (21/11).
Dalam risalah rapat harian itu, Syuriyah PBNU menyampaikan permintaan agar Gus Yahya mundur dari kursi ketua umum. Terdapat sejumlah poin yang menjadi alasan di balik rekomendasi tersebut.
Pertama, rapat menyatakan bahwa diundangnya narasumber yang dianggap memiliki hubungan dengan jaringan Zionisme Internasional, dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) dinilai melanggar nilai dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Serta bertentangan dengan Muqaddimah Qanun Asasi NU.
Kedua, pelaksanaan AKN NU dengan narasumber terkait jaringan Zionisme Internasional di tengah praktik genosida dan kecaman dunia internasional terhadap Israel dinilai memenuhi ketentuan Pasal 8 huruf a Peraturan Perkumpulan NU Nomor 13 Tahun 2025.
Ketiga, rapat menyoroti tata kelola keuangan di lingkungan PBNU yang dianggap mengindikasikan pelanggaran terhadap hukum syara’, peraturan perundang-undangan yang berlaku, Pasal 97–99 Anggaran Rumah Tangga NU, serta Peraturan Perkumpulan NU lainnya.
