Logo JawaPos
Author avatar - Image
10 Desember 2025, 04.36 WIB

Banjir Sumatera-Aceh Sudah Tewaskan 964 Orang, Terbanyak Dari Agam Sumbar

Kondisi pascabencana di Nagari Salareh Aia timur, Kabupaten Agam, Sumbar. (BNPB)

JawaPos.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data korban bencana Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Sampai Selasa malam (9/12) sebanyak 964 korban meninggal dunia dan 894.101 orang pengungsi. 

Dari angka tersebut, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan bahwa korban meninggal dunia paling banyak berasal dari Kabupaten Agam, Sumbar. Sementara jumlah pengungsi tertinggi berada di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. 

”Kami sampaikan bahwa hasil upaya pencarian dan pertolongan hari ini, itu mendapatkan tambahan jasad yang ditemukan dari total 961 korban meninggal dunia di hari Senin, 8 desember 2025, pada hari ini bertambah 3 menjadi 964 korban meninggal dunia,” terang doa. 

Berdasar data, jumlah korban meninggal dunia paling banyak berasal dari Aceh dengan jumlah total 391 orang. Sedangkan korban hilang di Aceh kini sebanyak 31 orang. Di Sumut, jumlah korban meninggal dunia sebanyak 338 orang dan korban hilang 138 orang. 

Untuk Sumbar, BNPB mencatat korban meninggal dunia sebanyak 235 orang dan korban hilang 93 orang. Korban meninggal dunia terbanyak di 3 provinsi tersebut berasal dari Agam dengan jumlah mencapai 178 orang. Angka itu juga menunjukkan bahwa sebagian besar korban meninggal dunia di Sumbar ada di Agam. 

Sementara itu, angka pengungsi paling banyak sampai hari ini masih berada di Aceh Tamiang dengan jumlah total mencapai 252,6 ribu pengungsi. Selain itu ada Aceh Timur dengan total pengungsi mencapai 238,5 ribu. Terakhir Aceh Utara dengan total pengungsi sebanyak 166,9 ribu. 

Untuk memastikan data ratusan ribu pengungsi itu lebih baik, BNPB kini bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) telah menurunkan enumerator. Petugas tersebut dikerahkan untuk mengumpulkan data terpilah di 9 kabupaten dan kota dengan jumlah pengungsi terbanyak.

”Kami harapkan enumerator yang sudah mulai bekerja hari ini dalam 3 hari ke depan bisa memberikan data terpilah yang lebih baik. Sehingga benar-benar karakteristik pengungsi yang dalam data hari ini 894 ribu itu bisa kami petakan dengan lebih detail,” jelasnya. 

Detail yang dimaksud Abdul Muhari adalah jenis kelamin, umur, dan memastikan pengungsi yang masuk kategori kelompok rentan juga terdata dengan baik. Sehingga kebutuhan mereka dapat disuplai dan dipenuhi oleh tim yang berada di lokasi pengungsian.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore