
Ilustrasi VinFast VF7, mobil nasional Vietnam. Indonesia bisa belajar dari Vietnam soal mobil nasional (VinFast)
JawaPos.com - Rencana pemerintah menghadirkan mobil nasional kembali mengemuka seiring pernyataan Kementerian Perindustrian yang mendorong proyek ini dijadikan Proyek Strategis Nasional (PSN).
Namun, sejumlah pakar menilai langkah itu justru berisiko mengulang kesalahan masa lalu, jika tidak disertai pembenahan serius pada fondasi industri otomotif dalam negeri.
Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai, tantangan terbesar mewujudkan mobil nasional bukan pada kemampuan teknis, melainkan pada arah kebijakan dan cara berpikir yang masih politis.
“Mobil buatan Indonesia akan semakin sulit terwujud kalau sejak awal sudah didominasi oleh agenda politik. Sekarang tanda-tandanya mulai terlihat dari narasi ‘mobil nasional’ dan ‘PSN’ yang digaungkan Kemenperin,” ujar Yannes dihubungi JawaPos.com.
Menurutnya, pengalaman masa lalu seharusnya menjadi pelajaran penting. Proyek Timor di era 1990-an, misalnya, gagal bukan karena kurang inovatif, tetapi karena terlalu bergantung pada proteksionisme eksklusif.
“Timor diberi keistimewaan pajak dan bea masuk, tapi justru itu yang memicu gugatan dari negara-negara maju di WTO. Akibatnya, proyek yang seharusnya jadi kebanggaan nasional malah dipaksa tutup,” jelasnya.
Yannes menegaskan bahwa negara-negara maju tidak akan dengan mudah membiarkan Indonesia menjadi negara industri otomotif baru yang kompetitif.
“Negara-negara G7 lebih senang jika Indonesia tetap menjadi pasar konsumen, bukan produsen. Karena itu, kalau kita ingin mandiri, harus membangun industri dari hulu ke hilir dengan strategi bisnis yang kuat, bukan proteksi jangka pendek,” tegasnya.
Ia juga menyoroti contoh lain, yakni proyek Esemka, yang hingga kini belum mampu menembus pasar bebas secara berkelanjutan.
Menurut Yannes, Esemka gagal karena tidak memiliki modal yang cukup, transfer teknologi inti, jejaring industri komponen, maupun basis riset dan pengembangan (R&D) yang kuat.
“Esemka hanya melakukan rebadge dan mengandalkan impor CKD atau IKD tanpa membangun industri parts dalam negeri. Akibatnya, ketika rezim berganti dan dukungan politik melemah, produksinya ikut berhenti karena tidak ada permintaan pasar yang nyata,” lanjutnya.
Lebih jauh, Yannes menjelaskan, kegagalan proyek mobil nasional selama ini juga disebabkan oleh minimnya investasi modal (capex dan opex), absennya riset pasar yang solid, serta governance yang tidak transparan.
Ia menilai, banyak proyek otomotif dalam negeri diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki kompetensi di bidangnya.
“Selama proyek seperti ini masih diisi oleh nonprofesional dan tidak memiliki struktur bisnis yang sehat, hasilnya pasti lemah. Kita tidak akan mampu bersaing dengan merek-merek global yang sudah puluhan tahun menguasai pasar dalam negeri,” kata Yannes.
Menurut dia, jika pemerintah benar-benar serius ingin membangun mobil nasional, fokusnya harus pada pembangunan industri komponen lokal, penguatan riset dan teknologi.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
