Sejumlah kendaraan khusus (Ransus) Jeep Maung MV3 Pindad melakukan konvoi dari Makodim 0733/Kota Semarang menuju Muladi Dome Universitas Diponegoro di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (8/3/2025). (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)
JawaPos.com-Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk menghadirkan mobil buatan Indonesia dalam tiga tahun ke depan mulai menunjukkan arah yang lebih konkret. Tidak lagi sebatas wacana politik, pemerintah kini mulai menyiapkan peta jalan industri otomotif nasional dengan melibatkan PT Pindad sebagai ujung tombak.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai langkah Presiden Prabowo menugaskan Direktur Utama Pindad, Sigit, sebagai Chief Technology Officer (CTO) di Danantara merupakan sinyal kuat bahwa proyek ini masuk ke tahap pelaksanaan teknis yang serius.
“Penempatan Sigit di posisi CTO menunjukkan presiden ingin memastikan ada kendali langsung terhadap arah teknologi dan pengamanan program mobil nasional,” ujar Yannes dihubungi JawaPos.com.
Menurut Yannes, Pindad saat ini tengah berupaya menjadikan mobil taktis Maung MV3 sebagai basis pengembangan mobil nasional. Produksi Maung yang sudah mencapai sekitar 400 unit dan digunakan oleh TNI-Polri dinilai menjadi pondasi awal untuk membangun kapasitas industri kendaraan dalam negeri.
“Maung bisa jadi starting point yang realistis karena sudah terbukti layak pakai di medan berat dan telah memenuhi standar militer,” jelasnya.
Ia menambahkan, tantangan utama ke depan adalah melakukan upscaling produksi dari skala terbatas ke produksi massal dalam waktu tiga tahun, seperti target yang dicanangkan Presiden Prabowo.
“Ini bukan hal mudah, tapi jika roadmap teknologinya jelas, mitra internasional yang terlibat independen, dan ada kepastian transfer teknologi inti, maka target ini bisa dicapai,” ujar Yannes.
Yannes menjelaskan, saat ini Pindad bersama sejumlah BUMN strategis tengah menyiapkan rantai pasok komponen dalam negeri, mulai dari rangka dan bodi yang melibatkan Krakatau Steel, hingga sistem baterai, controller, dan drivetrain melalui transfer of core technology (ToT) dengan mitra internasional.
“Kalau lokalisasi rangka dan bodi sudah berjalan, lalu disusul ToT untuk komponen elektronik, baterai, dan drivetrain, maka dalam tiga tahun ekosistemnya bisa terbentuk,” katanya.
Selain faktor teknologi, Yannes menekankan pentingnya governance dan manajemen profesional dalam menjalankan proyek mobil nasional agar tidak bernasib sama seperti upaya sebelumnya.
“Semua unit kerja harus diisi oleh profesional yang kompeten dan bebas dari kepentingan politik. Harus ada tim presidensial yang memantau langsung dengan sistem tata kelola yang transparan,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa keberhasilan tahap awal sangat bergantung pada jaminan jangkar permintaan (anchor demand) dari sektor pemerintah, militer, dan lembaga negara.
“Ketika skala produksi sudah meningkat, permintaan bisa diperluas ke pasar sipil. Tapi di fase awal, pemerintah perlu memastikan pembelian dari kementerian, lembaga, dan TNI-Polri agar keekonomian produksinya tercapai,” tutur Yannes.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
