Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 Desember 2025, 17.06 WIB

Orang-Orang yang Diam-Diam Kehilangan Kegembiraan di Masa Kanak-Kanak Biasanya Menunjukkan 10 Kebiasaan Ini Saat Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang diam-diam kehilangan kegembiraan./Freepik/donidas - Image

seseorang yang diam-diam kehilangan kegembiraan./Freepik/donidas

JawaPos.com - Tidak semua luka masa kecil hadir dalam bentuk kekerasan atau peristiwa besar yang traumatis. Sebagian justru tersembunyi, halus, dan nyaris tak disadari.

Ada orang-orang yang tumbuh tanpa benar-benar merasakan kegembiraan masa kanak-kanak—tanpa ruang aman untuk bermain, berekspresi, atau merasa dicintai secara emosional.

Mereka mungkin terlihat “baik-baik saja”, bahkan berfungsi normal sebagai orang dewasa.

Namun, di balik itu, psikologi menunjukkan adanya pola kebiasaan tertentu yang sering muncul sebagai gema dari kehilangan tersebut.

Menariknya, kebiasaan ini jarang disadari oleh pelakunya sendiri. Mereka mengira itu bagian dari kepribadian, padahal sering kali merupakan mekanisme bertahan hidup yang terbentuk sejak kecil.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (18/12), terdapat sepuluh kebiasaan yang kerap muncul pada orang dewasa yang diam-diam kehilangan kegembiraan di masa kanak-kanaknya.

1. Sulit Merasakan Kebahagiaan Penuh, Bahkan Saat Hal Baik Terjadi

Menurut psikologi, anak yang jarang merasakan kegembiraan tulus akan tumbuh dengan “ambang bahagia” yang tumpul.

Saat dewasa, mereka bisa mencapai tujuan, mendapatkan pengakuan, atau mengalami momen menyenangkan—namun perasaan bahagianya terasa singkat, datar, atau cepat menguap. Seolah ada tembok tak terlihat antara diri mereka dan rasa puas yang utuh.

2. Terlalu Terbiasa Mengandalkan Diri Sendiri

Banyak dari mereka belajar sejak dini bahwa tidak ada yang benar-benar hadir secara emosional. Akibatnya, saat dewasa, mereka sangat mandiri—bahkan berlebihan.

Meminta bantuan terasa tidak nyaman, dan bergantung pada orang lain dianggap berisiko. Dari luar terlihat kuat, padahal di dalam sering merasa sendirian.

3. Merasa Bersalah Saat Bersantai atau Bermain

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa bermain adalah fondasi kesehatan emosional anak. Ketika ini hilang, orang dewasa sering memandang istirahat sebagai kemalasan.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore