Logo JawaPos
Author avatar - Image
20 Februari 2026, 17.49 WIB

Orang Dewasa yang Masih Berusaha Mendapatkan Kasih Sayang Orang Tua Mereka Sering Menunjukkan 8 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

seseorang yang berusaha mendapatkan kasih sayang orang tua./Freepik/prostooleh - Image

seseorang yang berusaha mendapatkan kasih sayang orang tua./Freepik/prostooleh

JawaPos.com - Tidak semua orang tumbuh dengan kebutuhan emosional yang terpenuhi sepenuhnya.

Menurut teori attachment dari John Bowlby, hubungan awal antara anak dan orang tua membentuk pola keterikatan yang bisa bertahan hingga dewasa.

Ketika kebutuhan kasih sayang, validasi, atau pengakuan tidak sepenuhnya terpenuhi di masa kecil, sebagian orang tetap membawa kerinduan itu hingga dewasa—bahkan tanpa mereka sadari.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (17/2), dalam psikologi modern, fenomena ini sering dikaitkan dengan attachment style, konsep yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Mary Ainsworth.

Orang dewasa yang masih berusaha mendapatkan kasih sayang orang tua biasanya tidak selalu menyadari bahwa perilaku mereka didorong oleh kebutuhan emosional lama yang belum terselesaikan.

Berikut delapan ciri kepribadian yang sering muncul:

1. Sangat Haus Validasi


Mereka cenderung mencari persetujuan, bukan hanya dari orang tua, tetapi juga dari atasan, pasangan, atau teman. Pujian terasa seperti “bukti cinta.” Kritik kecil bisa terasa seperti penolakan besar.

Baca Juga: Percy Jackson Season 3 Tambah Jajaran Cast Baru, Ming Na Wen hingga Jennifer Beals Bergabung

Menurut pendekatan psikososial Erik Erikson, kebutuhan akan pengakuan dan identitas yang kuat terbentuk sejak tahap perkembangan awal. Jika tahap ini tidak sepenuhnya terpenuhi, kebutuhan tersebut bisa terus terbawa.

2. Sulit Menetapkan Batasan (Boundaries)


Orang dewasa ini sering kesulitan mengatakan “tidak” kepada orang tua, bahkan ketika permintaan tersebut merugikan diri sendiri. Mereka takut dianggap anak yang tidak berbakti atau mengecewakan.

Ketakutan ini sering kali berasal dari pola asuh yang bersifat kondisional—kasih sayang terasa hadir hanya ketika mereka memenuhi harapan tertentu.

Baca Juga: 8 Hal yang Mulai Dilakukan Perempuan Ketika Mereka Berhenti Percaya Hal-Hal Baik Akan Terjadi pada Mereka Menurut Psikologi

3. Perfeksionis Berlebihan


Sebagian orang mengembangkan standar yang sangat tinggi terhadap diri sendiri, berharap suatu hari orang tua akhirnya berkata, “Kami bangga padamu.”

Psikolog humanistik seperti Carl Rogers menyebut konsep conditional positive regard, yaitu ketika kasih sayang diberikan dengan syarat tertentu. Hal ini dapat memicu perfeksionisme yang didorong rasa takut, bukan pertumbuhan sehat.

4. Sensitif terhadap Kritik Orang Tua


Komentar sederhana bisa terasa sangat menyakitkan, bahkan ketika mereka sudah sukses secara objektif. Respons emosionalnya sering tidak proporsional karena menyentuh luka lama yang belum sembuh.

5. Sering Merasa “Belum Cukup”

Walaupun telah mencapai banyak hal—karier stabil, keluarga harmonis, pencapaian akademik—mereka tetap merasa ada yang kurang. Seolah-olah nilai diri mereka masih menunggu pengesahan.

Konsep ini sering berkaitan dengan self-worth yang dibentuk dari pengalaman masa kecil.

6. Sulit Mandiri Secara Emosional


Mandiri secara finansial bukan berarti mandiri secara emosional. Mereka mungkin masih sangat terpengaruh oleh opini orang tua dalam pengambilan keputusan besar—pekerjaan, pasangan, hingga gaya hidup.

Dalam perspektif psikologi keluarga, dinamika ini kadang dikaitkan dengan pola enmeshment (keterikatan yang terlalu lebur).

7. Cenderung People-Pleaser


Karena terbiasa menyesuaikan diri demi mendapatkan penerimaan, mereka mudah menjadi orang yang selalu mengutamakan kebutuhan orang lain dibanding diri sendiri. Mereka belajar sejak kecil bahwa cinta datang setelah pengorbanan.

8. Memiliki Ketakutan Mendalam Akan Penolakan


Akar terdalamnya sering kali adalah ketakutan ditolak. Jika orang tua—figur paling penting dalam hidup—terasa sulit memberi penerimaan penuh, maka dunia luar terasa lebih menakutkan.

Hal ini sering dikaitkan dengan pola anxious attachment, salah satu tipe keterikatan dalam teori Bowlby.

Mengapa Pola Ini Bisa Bertahan Hingga Dewasa?


Otak manusia menyimpan pengalaman emosional dengan sangat kuat, terutama yang berkaitan dengan hubungan utama dalam hidup. Pola relasi yang terbentuk sejak kecil menjadi “cetak biru” bagi hubungan di masa depan.

Namun, penting untuk diingat: menyadari pola ini bukan berarti menyalahkan orang tua. Banyak orang tua juga membawa luka generasi sebelumnya. Kesadaran adalah langkah awal untuk memutus siklus tersebut.

Apakah Pola Ini Bisa Diubah?


Ya. Psikologi modern menunjukkan bahwa attachment style dapat berkembang seiring waktu melalui:

Terapi psikologis

Hubungan yang sehat dan suportif

Latihan kesadaran diri (self-awareness)

Membangun batasan yang sehat

Dengan pemahaman dan usaha yang konsisten, seseorang bisa membangun rasa aman internal tanpa terus-menerus mencari validasi eksternal.

Penutup

Berusaha mendapatkan kasih sayang orang tua bukanlah tanda kelemahan—itu tanda bahwa kebutuhan emosional kita sangat manusiawi. Namun ketika kebutuhan tersebut terus mengendalikan hidup hingga dewasa, penting untuk berhenti sejenak dan bertanya:

“Apakah saya masih mencoba membuktikan sesuatu?”

Memahami akar psikologisnya memberi kita kesempatan untuk menyembuhkan diri, bukan lagi untuk mengejar cinta yang terasa jauh, tetapi untuk membangun rasa aman dari dalam diri sendiri.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore