
Lamine Yamal (Instagram @lamineyamal)
JawaPos.com – Lamine Yamal menjadi sorotan utama di Spanyol setelah laporan Observatorium Rasisme dan Xenofobia (Oberaxe) mengungkap bahwa ia menjadi target utama ujaran kebencian di media sosial.
Dilansir dari laman Bein Sports pada Rabu (12/11), selama musim 2024–2025, lebih dari 20.000 unggahan rasis ditujukan kepada penyerang muda FC Barcelona tersebut. Kasus ini menyoroti meningkatnya sentimen rasis terhadap pesepakbola muda di dunia digital.
Menurut laporan Oberaxe, sekitar 60 persen dari seluruh serangan rasis di media sosial di Spanyol menargetkan Lamine Yamal.
Sistem FARO yang berbasis kecerdasan buatan mencatat lebih dari 33.000 unggahan wajib lapor terkait ujaran kebencian. Namun, hanya sepertiga dari total unggahan itu yang berhasil dihapus oleh platform.
Facebook dinilai paling responsif dengan menghapus sekitar 62 persen konten bermasalah, sementara X (sebelumnya Twitter) hanya menindak sekitar 10 persen unggahan.
Ketimpangan ini menunjukkan masih lemahnya upaya penanggulangan ujaran kebencian secara digital. Banyak pengamat menilai perusahaan teknologi belum memberikan tanggung jawab sosial yang sepadan terhadap isu rasisme daring.
Selain Yamal, beberapa pemain lain seperti Vinícius Jr., Iñaki Williams, dan Raphinha juga menjadi korban pelecehan rasial.
Namun, persentase tertinggi tetap dialami Yamal yang masih berusia belasan tahun. Banyak pesan yang dipantau mengandung kata-kata eksplisit dan bahkan menggambarkan pemain muda itu sebagai ancaman bagi masyarakat.
Oberaxe mencatat bahwa puncak ujaran kebencian terjadi selama pertandingan besar seperti El Clásico antara Real Madrid dan Barcelona.
Dalam dua hari pertandingan tersebut, terjadi lonjakan ribuan unggahan bernada rasis terhadap Yamal dan rekan-rekannya. Situasi ini menunjukkan bahwa atmosfer kompetisi kerap memperkuat emosi negatif dan memicu diskriminasi rasial.
Menanggapi situasi ini, Menteri Inklusi, Jaminan Sosial, dan Migrasi Spanyol, Elma Saiz, menyerukan tindakan tegas terhadap segala bentuk penghinaan berbasis ras. Ia menegaskan bahwa dunia olahraga seharusnya menjadi ruang pemersatu, bukan tempat diskriminasi.
Pemerintah berkomitmen memperkuat regulasi dan pengawasan terhadap platform digital untuk melindungi martabat para pemain. (*)
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
