
Penampilan impresif Brahim Diaz bersama Maroko di Piala Afrika menarik minat klub Liga Inggris dan Liga Italia. (Istimewa)
JawaPos.com-Pelatih tim nasional Maroko Walid Regragui menilai jeda waktu yang terlalu lama menjadi faktor utama kegagalan Brahim Diaz mencetak gol dari titik putih. Pertandingan sempat tertunda sekitar 15 menit sebelum eksekusi penalti di menit-menit akhir saat pertandingan final lawan Senegal
Melansir ESPN, menurut pelatih Maroko, situasi tersebut jelas tidak ideal bagi Brahim Diaz untuk menendang penalti. Penundaan panjang membuat konsentrasi pemain terganggu. Dan itulah yang terjadi pada Diaz saat mencoba mengeksekusi penalti dengan gaya panenka ke gawang Senegal.
Maroko mendapat penalti kontroversial di menit kedelapan waktu tambahan, setelah VAR menyatakan El Hadji Malick Diouf melakukan pelanggaran terhadap Diaz di dalam kotak terlarang. Keputusan ini memicu ketegangan hebat dan protes pemain Senegal di lapangan.
Para pemain Senegal bahkan sempat meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes, mengikuti instruksi pelatih mereka. Pertandingan pun terhenti cukup lama sebelum akhirnya dilanjutkan kembali.
Secara total, Diaz harus menunggu sekitar 17 menit sebelum mengeksekusi penalti tersebut. Saat momen itu akhirnya tiba, tendangan panenka yang dia lepaskan justru dengan mudah digagalkan kiper Senegal.
Drama belum berakhir di situ. Senegal akhirnya memastikan gelar juara setelah mencetak gol penentu pada menit keempat babak perpanjangan waktu, sekaligus mengakhiri harapan Maroko di partai puncak.
Bagi Diaz, kekalahan ini terasa semakin menyakitkan. Penyerang Real Madrid tersebut sejatinya menjalani turnamen yang impresif dan keluar sebagai peraih Sepatu Emas berkat lima gol yang ia cetak.
"Dia punya banyak waktu sebelum mengambil penalti, yang pasti membuatnya gelisah," kata Regragui.
"Tapi kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Itulah cara dia memilih untuk mengeksekusi penalti. Sekarang kita harus menatap ke depan," imbuh dia.
Regragui juga melontarkan kritik keras terhadap situasi yang terjadi di lapangan.
"Pertandingan yang kami mainkan sungguh memalukan bagi Afrika. Ketika seorang pelatih kepala meminta para pemainnya untuk meninggalkan lapangan, ketika dia mengatakan hal-hal yang sudah dimulai di konferensi pers (sebelum pertandingan, ketika Senegal menuduh Maroko menggunakan taktik tidak sportif), dia harus tetap berkelas, baik dalam kemenangan maupun kekalahan," papar Regragui.
"Apa yang dilakukan Pape (Thiaw) malam ini tidak menghormati Afrika. Dia sekarang adalah juara Afrika, jadi dia bisa mengatakan apa pun yang dia mau, tetapi mereka menghentikan pertandingan selama lebih dari 10 menit," kata Regragui.
"Itu tidak membenarkan cara Brahim menendang (penalti), dia menendangnya seperti itu dan kita harus bertanggung jawab. Kita perlu menatap ke depan sekarang, dan menerima bahwa Brahim gagal mengeksekusinya," ujar pelatih Maroko itu.
Final ini pun dikenang bukan hanya karena hasil akhirnya, tetapi juga karena drama panjang yang mengiringinya. Sebuah malam yang penuh emosi, kontroversi, dan pelajaran pahit bagi Maroko.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
