Logo JawaPos
Author avatar - Image
23 Januari 2026, 23.30 WIB

Sepak Bola dan Sahara Barat: Cerita Ali Radjel di Tengah Persiapan Maroko Menuju Piala Dunia 2030

Ali Radjel. (Istimewa) - Image

Ali Radjel. (Istimewa)

JawaPos.com - Sepak bola kerap menjadi cermin persoalan sosial dan politik. Hal itu tergambar jelas dalam kisah Ali Radjel, pesepak bola keturunan Sahara Barat, yang hidup dan berkarier di Spanyol, namun membawa luka sejarah dari tanah kelahirannya.

Di tengah persiapan Maroko sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030, isu Sahara Barat kembali mencuat, termasuk melalui cerita para atlet seperti Radjel.

Ali Radjel lahir di kamp pengungsi Tindouf, Aljazair, kawasan yang selama puluhan tahun menjadi tempat tinggal warga Sahara Barat yang terusir akibat konflik dengan Maroko.

Masa kecilnya dihabiskan di gurun dengan kondisi serba terbatas. Air asin yang dikonsumsi sejak kecil bahkan meninggalkan jejak permanen pada giginya. Namun bagi Radjel, itu bukan aib, melainkan penanda asal-usul dan identitas.

Kini berusia akhir 20-an, Radjel menjalani karier sebagai pemain profesional di kasta bawah sepak bola Spanyol. Ia sempat menimba ilmu di akademi Rayo Vallecano dan mencicipi level Segunda Division bersama Numancia, meski sebagian besar kariernya dihabiskan di liga-liga kecil.

Di luar musim kompetisi, ia bekerja sambilan demi menyambung hidup, sebuah realitas yang lazim bagi pemain non-elite di Eropa.

Meski telah menjadi warga negara Spanyol, ikatan emosional Radjel dengan Sahara Barat tidak pernah putus. Wilayah yang kerap disebut sebagai “koloni terakhir Afrika” itu telah disengketakan sejak Spanyol hengkang pada 1975.

Maroko menguasai sebagian besar wilayah, sementara Front Polisario, yang didukung Aljazair, memperjuangkan kemerdekaan Sahara Barat dan mendeklarasikan Republik Demokratik Arab Sahrawi.

Gencatan senjata yang dimediasi PBB sejak 1991 menjanjikan referendum penentuan nasib sendiri. Namun hingga kini, janji itu tak pernah terwujud.

Perbedaan pandangan soal siapa yang berhak memilih membuat proses politik buntu. Sementara itu, Maroko terus memperkuat kendali atas wilayah yang kaya fosfat, perikanan, dan potensi energi tersebut.

Dalam konteks olahraga, dampaknya sangat terasa. Sahara Barat tidak memiliki pengakuan resmi sebagai negara, sehingga tim sepak bolanya hanya bisa memainkan laga persahabatan non-resmi.

Radjel bahkan sempat menjadi kapten tim representatif Sahara Barat, sebuah simbol perlawanan sekaligus harapan. Ia bermimpi suatu hari timnya bisa tampil di Piala Afrika, seperti negara-negara Afrika lain yang dulu juga berangkat dari keterbatasan.

Ironisnya, isu Sahara Barat jarang dibahas di luar Afrika. Pembatasan terhadap jurnalis dan ketatnya kontrol informasi membuat konflik ini seolah tenggelam. Padahal, menurut Radjel, ribuan orang telah hidup di pengungsian selama hampir 50 tahun tanpa kepastian masa depan.

Menjelang Piala Dunia 2030, di mana Maroko akan menjadi salah satu tuan rumah, sorotan global terhadap negara tersebut dipastikan meningkat.

Namun kecil kemungkinan isu Sahara Barat akan menjadi agenda utama komunitas internasional, mengingat banyak negara besar telah menyatakan dukungan terhadap kedaulatan Maroko.

Editor: Banu Adikara
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore