
Pelatih Manchester City Pep Guardiola. (ig @mr.pepguardiola)
JawaPos.com–Manchester City dan Real Madrid seakan punya takdir yang sulit dipisahkan di Liga Champions. Musim berganti, format berubah, tapi dua tim ini tetap saja dipertemukan. Dan kali ini, di babak 16 besar, mereka kembali harus saling sikut.
Melansir ESPN, bagi pelatih Manchester City Pep Guardiola, situasi ini terasa tidak biasa. Bukan karena kualitas Real Madrid, melainkan karena format kompetisi yang membuat mereka bisa bertemu lagi dalam fase yang relatif lebih awal.
Manchester City tergabung dalam undian babak 16 besar dan harus menghadapi raksasa Spanyol Real Madrid dalam duel dua leg. Ini akan menjadi pertemuan ke-13 antara kedua klub sejak Pep Guardiola mengambil alih kursi pelatih di Stadion Etihad pada 2016. Angka yang tidak sedikit untuk dua tim dari liga berbeda.
”Ya, ini agak aneh. Tidak sering terjadi bahwa pertandingan terakhir babak penyisihan grup seperti Real Madrid vs Benfica menjadi undian pertama,” kata Guardiola tentang format tersebut.
Format baru Liga Champions memang mengubah dinamika. Dulu, dengan sistem fase grup klasik, pertemuan tim-tim besar biasanya baru terjadi di perempat final atau bahkan semifinal. Sekarang? Undian bisa saja mempertemukan dua favorit juara lebih cepat.
”Terlihat berbeda. Orang mungkin setuju atau tidak setuju, tetapi memang berbeda,” tutur Pep Guardiola.
Meski begitu, Guardiola memilih untuk tidak terlalu mempermasalahkan situasi tersebut. Baginya, sepak bola modern memang menuntut adaptasi cepat. Toh di kompetisi domestik pun, hal serupa sering terjadi.
”Tapi kenapa tidak? Di Liga Premier dan kompetisi piala, sudah berapa kali kita bermain melawan Newcastle musim ini? Semoga kita bisa bermain melawan mereka di final,” ujar Pep Guardiola.
Dia bahkan mengingat bagaimana Liga Champions dulu terasa jauh lebih eksklusif dibanding sekarang.
”Ketika saya memulai, ada delapan, sembilan, 10 tim (di Liga Champions). Ini soal beradaptasi. Hasil imbang Madrid tetaplah hasil imbang Madrid. Apa yang bisa kita lakukan?” tandas Pep Guardiola.
Pernyataan terakhir itu terdengar pasrah, tapi sebenarnya lebih ke arah realistis. Madrid tetaplah Madrid, sebuah tim dengan DNA Eropa yang sudah teruji puluhan tahun. Tidak peduli di fase mana bertemu, tekanan dan kualitasnya selalu sama.
Jalan City menuju final jelas tidak akan mudah. Jika lolos dari Madrid, mereka berpotensi menghadapi Bayern Munich atau Atalanta di babak berikutnya. Bahkan juara bertahan Paris Saint-Germain bisa saja menanti di semifinal. Di atas kertas, undian ini tampak seperti jalur neraka. Namun Guardiola menolak anggapan tersebut.
”Itu akan sangat tidak sopan, misalnya kepada Newcastle, Barcelona, Atletico Madrid atau Spurs. Liga Champions sangat sulit. Saya tidak mengatakan Madrid tidak sulit, semua orang tahu itu, tetapi tim-tim lain yang Anda hadapi, sebutkan saja tim mana pun, semuanya memiliki trik itu,” ucap Pep Guardiola.
Baginya, tidak ada sisi mudah di Liga Champions. Semua tim punya kualitas, karakter, dan cara masing-masing untuk menyulitkan lawan. Tidak ada ruang untuk meremehkan siapa pun.
”Jika Anda ingin lolos ke babak selanjutnya dalam kompetisi ini, Anda harus menang melawan tim-tim terbaik, jika tidak, Anda tidak pantas mendapatkannya,” kata Pep Guradiola.
