Logo JawaPos
Author avatar - Image
11 Desember 2025, 11.58 WIB

PSSI dan AFC Perkuat Integritas Sepak Bola Indonesia dengan Sosialisasi Anti Match Fixing

PSSI kembali menegaskan bahwa hukuman untuk pelaku match fixing tidak main-main. (Ilustrasi) - Image

PSSI kembali menegaskan bahwa hukuman untuk pelaku match fixing tidak main-main. (Ilustrasi)

JawaPos.com - Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) bersama Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menggelar sosialisasi pencegahan pengaturan skor (match fixing) secara daring pada Selasa (9/12) pukul 14.00 WIB.

Seluruh pemain dan ofisial PSIM Jogja ikut hadir dalam agenda ini, bergabung dengan tim peserta BRI Super League dan Pegadaian Championship musim 2025/26.

Kegiatan tersebut menjadi langkah penting untuk menjaga integritas kompetisi nasional dari ancaman manipulasi pertandingan.

Dua pembicara utama hadir, yaitu Yazid Zakaria dari AFC Integrity dan Muhammad Rahmawan dari PSSI, yang masing-masing membahas risiko serta mekanisme pencegahannya.

Yazid membuka sesi dengan menjelaskan bahaya laten praktik pengaturan skor.

Ia menegaskan bahwa pelanggaran biasa dalam sepak bola memang bisa merusak sportivitas, namun match fixing adalah ancaman terbesar karena dilakukan secara terencana dan berdampak langsung pada keaslian pertandingan.

“Mereka memanfaatkan pasar taruhan untuk mencuci uang hasil kejahatan dari sektor lain,” ujar Yazid dikutip dari website psimjogja.id.

Menurutnya, modus yang paling sering digunakan para pelaku adalah mengatur hasil dengan cara membuat tim tertentu sengaja kalah.

Target para pengatur skor juga bukan pemain sembarangan, melainkan sosok-sosok kunci seperti kapten, pelatih, hingga manajer yang memiliki pengaruh besar di dalam tim.

 
Teknologi Deteksi dan Aturan 3R

Dalam upaya memerangi praktik ini, AFC kini memakai teknologi pemantauan pasar taruhan global yang lebih presisi.

Yazid menjelaskan bahwa AFC bekerja sama dengan Universal Fraud Detection System (UFDS) untuk mendeteksi pola taruhan mencurigakan secara real time.

Selain itu, para peserta juga dibekali prinsip pertahanan diri 3R: Recognize (kenali), Reject (tolak), dan Report (laporkan).

Para pemain diminta segera melapor jika mendapat tawaran mencurigakan, karena keberanian melapor menjadi kunci penting memutus rantai mafia bola. Rahmawan dari PSSI menegaskan bahwa pelaporan dapat dilakukan melalui sistem resmi yang terhubung langsung dengan AFC hingga FIFA.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore