Logo JawaPos
Author avatar - Image
21 Februari 2026, 01.43 WIB

Tak Tinggal Diam! Timnas Indonesia U-23 Terancam Nggak Main di Asian Games 2026, KOI Ambil Tindakan

Ketua KOI, Raja Sapta Oktohari telah mengambil sikap menyusul adanya perubahan format cabor sepak bola di Asian Games 2026. (Dimas Ramadhan/JawaPos.com) - Image

Ketua KOI, Raja Sapta Oktohari telah mengambil sikap menyusul adanya perubahan format cabor sepak bola di Asian Games 2026. (Dimas Ramadhan/JawaPos.com)

JawaPos.com - Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Raja Sapta Oktohari memastikan tak akan tinggal diam mengetahui Timnas Indonesia U-23 terancam absen di Asian Games 2026. Pihaknya akan mengambil tindakan dan memperjuangan sepak bola agar bisa berpartisipasi.

Keikutsertaan Timnas Indonesia U-23 dan Timnas Putri Indonesia saat dalam Asian Games 2026 saat ini menjadi tanda tanya besar. Pertanyaan itu muncul setelah adanya perubahan keputusan dan regulasi dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Dewan Olimpiade Asia (OCA).

AFC dan OCA bersepakat untuk tidak lagi membuka pendaftaran kepada Komite Olimpiade nasional masing-masing negara untuk ikut Asian Games 2026. Hanya negara yang lolos ke Piala Asia U-23 2026 dan Piala Asia Wanita 2026 saja yang berhak berpartisipasi di Asian Games 2026.

Nah Timnas Indonesia U-23 maupun Timnas Putri Indonesia tak lolos ke dua ajang tersebut. Sehingga tak bisa ikut serta dalan pesta olahraga se-Asia yang digelar pada 19 September - 4 Oktober 2026 mendatang.

Raja Sapta Oktohari selaku Ketua KOI buka suara. Ia mengungkapkan bahwa sampai belum ada kepastian soal kebenaran terkait kabar tersebut.

Okto, sapaan akrab Raja Sapta Oktohari, menyebut terdapat sebuah kejanggalan apabila cabang olahraga (cabor) sepak bola digelar tanpa melalui proses kualifikasi pada Asian Games 2026.

“Secara informal saya laporkan sama Menpora bahwa kami, NOC, sudah menyikapi apa yang dilakukan oleh OCA (Olympic Council of Asia)," kata Okto ditemui di Kantor Kemenpora RI, Jumat (20/2).

"Bahwa kalau sepak bola ternyata dilakukan proses grading tanpa kualifikasi, ini kan tidak biasa. Biasanya di Asian Games itu kan semuanya ikut,” tambahnya.

Okto juga menyorotu minimnya sosialiasi yang dilakukan OCA soal perubahan format dalam cabor sepak bola. Ia pun menyayangkan adanya pembatasan jumlah peserta di cabor tersebut karena sepak bola merupakan salah satu cabor unggulan dalam hal daya tarik penonton.

“Nah, apakah ini diambil karena ketidakmampuan Nagoya sebagai tuan rumah, itu hal yang lain. Tetapi, sosialisasinya itu harus sampai sama kita dan itu harus fair,” ujar Okto.

“Karena yang paling utama, kami ingatkan juga kepada mereka bahwa fanbase sepak bola itu yang paling besar dari semua cabang olahraga yang ada di Asian Games. Kami terus melakukan komunikasi,” sambungnya.

Lebih lanjut, Okto berharap komunikasi yang sudah dibangun dengan OCA bisa membuahkan hasil. Dia menegaskan KOI bersama komite olimpiade negara-negara lain akan berupaya agar format cabang olahraga sepak bola dapat diikuti oleh seluruh negara peserta.

“Kami terima kasih Pak Menpora kemarin dukungannya, sehingga komunikasi yang kita lakukan kepada pihak OCA secara langsung melalui Presidennya, itu mudah-mudahan akan memiliki dampak terhadap kebijakan yang akan nanti diambil,” ucap Okto.

“Yang pasti, tuan rumah itu tidak boleh semena-mena, gitu. Jadi banyak pertimbangan-pertimbangan yang harus dilihat dan kami akan terus menyuarakan. Bukan hanya dengan PSSI, tetapi juga dengan federasi sepak bola lainnya yang ada di Asia,” pungkasnya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore