Gaya bermain Persebaya Surabaya sudah terbaca oleh tim-tim rival Super League. (Persebaya)
JawaPos.com–Label Persebaya Surabaya Long Ball FC bukan sekadar olok-olok suporter yang sedang kecewa. Data statistik Super League 2025/2026 menunjukkan Green Force memang masuk jajaran tim paling pragmatis musim ini lewat kombinasi penguasaan bola rendah dan intensitas long ball tinggi.
Fakta pertama terlihat dari catatan ball possession Persebaya Surabaya. Dari 18 klub, Persebaya Surabaya hanya berada di peringkat ke-15 dengan rata-rata 45,6 persen penguasaan bola per pertandingan.
Angka tersebut menempatkan Persebaya Surabaya di papan bawah dalam urusan kontrol permainan. Mereka berada di bawah tim-tim seperti Persija Jakarta dan PSIM Jogjakarta yang sama-sama mencatat 59,3 persen.
Rendahnya penguasaan bola itu berbanding terbalik dengan data akurasi bola panjang per game. Dalam kategori long ball, Persebaya Surabaya justru berada di posisi keenam dengan rata-rata 22,0 per pertandingan.
Posisi tersebut menempatkan Persebaya Surabaya dalam lima besar tim paling direct jika dikaitkan dengan gaya bermain pragmatis. Mereka hanya berada di bawah PSIM Jogjakarta, Bhayangkara Presisi Lampung FC, Persib Bandung, Persik Kediri, dan Persita Tangerang dalam daftar tersebut.
Kombinasi dua data itu menjadi dasar kuat munculnya sebutan Long Ball FC. Penguasaan bola rendah menunjukkan minimnya kontrol permainan, sementara tingginya long ball mengindikasikan pendekatan direct saat membangun serangan.
Distribusi bola panjang Persebaya Surabaya juga didominasi pemain belakang. Risto Mitrevski tercatat paling rajin melepas long ball dengan rata-rata 3,7 per laga. Leo Lelis menyusul dengan 2,6 dan Milos Raickovic 2,4 per pertandingan.
Rachmat Irianto mencatat 1,8 dan Arief Catur Pamungkas 1,7, memperlihatkan sirkulasi bola sering dipercepat dari lini belakang ke depan tanpa proses build-up panjang. Pola itu kembali terlihat saat Persebaya Surabaya takluk 1-3 dari Persijap Jepara pada pekan ke-22. Dalam laga tersebut, aliran bola kurang rapi dan koordinasi lini belakang kerap terlambat mengantisipasi transisi.
Tiga gol bersarang ke gawang Ernando Ari, mempertegas problem organisasi permainan. Penalti Bruno Moreira di masa injury time hanya memperkecil skor tanpa mengubah kesan permainan yang belum stabil.
Kekalahan itu memicu gelombang kritik dari Bonek. Sorotan utama bukan sekadar hasil akhir, melainkan gaya bermain yang dianggap monoton dan terlalu sering mengandalkan long ball saat mengalami kebuntuan.
”Mainmu Menyedihkan Kurangi Main Long Ball joll????,” ujar salah satu Bonek. Kritik itu langsung menohok inti persoalan yang selama ini dirasakan suporter.
Komentar lain menilai skema permainan justru lebih cocok saat mengandalkan serangan balik ketimbang bola panjang.
”Maen mu enak an counter attack kok malah main long ball gak temu karepane, wes. Bek mu iku enak an duet lelis ambk risto,” tulis seorang Bonek.
Ada pula yang mempertanyakan arah taktik secara lebih keras. ”Mainmu. Gak jelas jol bajol. Long ball.trs gawe OPO tuku pemain cedera dituku Bruno Paraiba,” keluh suporter lain.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
