Logo JawaPos
Author avatar - Image
22 November 2025, 05.21 WIB

Jeritan Warga Supiturang Usai Erupsi Gunung Semeru: Semua Habis, Tinggal Baju di Badan

Kholil, warga Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo mengaku pasrah rumahnya dan rumah ketiga anaknya hancur diterjang material vulkanik erupsi Gunung Semeru. (Novia Herawati/ JawaPos) - Image

Kholil, warga Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo mengaku pasrah rumahnya dan rumah ketiga anaknya hancur diterjang material vulkanik erupsi Gunung Semeru. (Novia Herawati/ JawaPos)

JawaPos.com - Sambil mengisap rokok kretek, Kholil, kakek berusia 67 tahun termenung di salah satu sudut ruang kelas SMP Negeri 2 Pronojiwo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.

Warga Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo itu tampak terdiam, sambil memandangi keramaian di tempat pengungsian bencana Erupsi Gunung Semeru, yang sudah ditempatinya dua hari ini.

Bagaimana tidak, rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh, kini hampir rata dengan tanah, tertimbun material vulkanik erupsi Gunung Semeru pada Rabu sore (19/11).

Bukan cuma itu, rumah ketiga anaknya yang masih satu dusun juga hancur akibat terjangan awan panas guguran (APG) Gunung Semeru. "Habis semua sudah, rumah saya, rumah tiga anak saya," tutur Kholil dengan nada lirih. 

Masih teringat jelas dalam ingatannya bagaimana kengerian sore itu, saat gunung tertinggi di Pulau Jawa itu tiba-tiba memuntahkan material vulkanik ke arah pemukiman warga. 

"Awalnya turunnya jam 15.00 WIB itu sudah ada peringatan. Ya pengumuman dari kepala sana, jangan buru-buru, dilihat dulu gitu. Itu lavanya turun, harus hati-hati, tenang aja dulu," imbuh kakek yang mengenakan jaket coklat tebal ini.

Menjelang pukul 16.00 WIB, Awan Panas Guguran mulai tampak jelas dari permukiman. Merasa ancaman kian dekat, Kholil bersama anak-anaknya bergegas berlari menuju kawasan Desa Supiturang yang lebih aman.

"Saya cek turunnya (APG atau material vulkanik) itu terbagi dua, ada yang ke utara dan ke selatan. Jam 16.00 WIB saya keluar kejadiannya itu jam 16.50 WIB (awan panas menerjang Desa Supiturang)," ucapnya.

Benar saja, dalam hitungan jam, empat dusun di Desa Supiturang, yakni Dusun Sumbersari, Gumukmas, Supiturang, dan Curah Kobokan, habis diterjang aliran lahar dingin yang membawa material vulkanik. 

"Semua rumah habis terus arah Gumukmas, Sumber sari rumah saya itu habis juga, paginya saya cek Ya Allah, berantakan sekali. Habis sudah, rumah anak ikut habis juga," keluhnya dengan nada pasrah.

Dengan mata berkaca-kaca, Kholil masih tak kuasa kehilangan tempat tinggal. Ia juga tak sempat menyelamatkan barang-barangnya saat erupsi Gunung Semeru. Hanya baju, jaket cokelat, dan sarung di badan yang ia bawa. 

"Semuanya habis tinggal baju di badan (menunjuk bajunya). Nggak bisa (tenang), soalnya kenang-kenangan di rumah itu ya bagaimana kan. Berat sekali saya mau cerita itu berat sekali," tutur Kholil, mencoba tetap tegar.

Pria paruh baya itu mengaku masih bingung memikirkan masa depannya. Pasalnya hingga kini, ia belum mendapat kepastian mengenai di mana ia akan tinggal setelah rumahnya hilang akibat erupsi Gunung Semeru.

"Saya tanya kepada saya sendiri, mau kemana, ada di mana nanti. Belum ada (informasi hunian). Cuma makanan kan ya bersyukur dibantu," tutup Kholil dengan raut wajah harap-harap cemas. (*)

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore