Logo JawaPos
Author avatar - Image
26 November 2025, 23.56 WIB

Ramai Isu Mikroplastik Dalam Air Hujan Surabaya, Benarkah Berbahaya bagi Tubuh Manusia?

Ilustrasi: air hujan. (pixabay) - Image

Ilustrasi: air hujan. (pixabay)

JawaPos.com - Temuan kandungan mikroplastik pada air hujan di Kota Surabaya, belakangan menyita perhatian publik. Tak sedikit yang merasa was-was dan mempertanyakan bahaya mikroplastik bagi tubuh manusia. 

Pakar Teknik Lingkungan Universitas Airlangga (Unair), Dwi Ratri Mitha Isnadina mengatakan dalam jangka pendek, paparan mikroplastik tidak menimbulkan efek langsung terhadap tubuh manusia.

Meski tak berdampak langsung pada manusia, mikroplastik dinilai berbahaya bagi ekosistem karena mampu mengikat logam berat, serta berbagai polutan beracun yang berpotensi merusak lingkungan.

Mikroplastik di air hujan akan mengalir sebagai limpasan menuju ekosistem. Di sana, mikroplastik bisa termakan biota ikan, dan pada akhirnya masuk kembali ke tubuh manusia lewat rantai makanan,” terang Dwi, Rabu (26/11).

Sejumlah studi ilmiah juga mengaitkan mikroplastik dengan risiko peradangan dan gangguan kardiovaskular, meskipun bukti ilmiah terkait dampak kesehatan pada manusia belum sepenuhnya dipastikan.

Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Unair tersebut mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing dengan isu mikroplastik dalam air hujan yang viral, tanpa pemahaman yang memadai. 

“Penting untuk memahami apakah fenomena ini benar-benar baru atau memang sudah terjadi sejak lama. Dengan literasi yang baik, kita bisa merespons informasi dengan lebih bijak," sambungnya. 

Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat agar mau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, yang menjadi salah satu sumber mikroplastik. 

"Perkembangan penelitian mikroplastik di Indonesia masih terus berjalan. Jika kelak mikroplastik menjadi fokus regulasi, maka parameter pengukurannya akan semakin jelas dan intensif," pungkas Dwi.

Sebagai informasi, hasil riset yang dilakukan Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Growgreen, River Warrior, dan Ecoton, menempatkan Surabaya di posisi ke-6 dengan kontaminasi 12 partikel per 90 cm² per 2 jam. 

Penelitian tersebut dilakukan selama 11-14 Nopember 2025 di 7 lokasi, yakni kawasan Darmawangsa, Ketintang, Gunung Anyar, Wonokromo, HR Muhammad, Tanjung Perak, dan Pakis Gelora.

Pada lima lokasi tersebut, peneliti menempatkan wadah aluminium, stainless steel dan wadah mangkok kaca dengan diameter 20-30 cm diletakkan pada ketinggian lebih dari 1,5 meter selama 1-2 jam.  

Dari grafik hasil penelitian, wilayah di Surabaya yang paling tercemar adalah Pakis Gelora dengan 356 partikel mikroplastik per liter, disusul Tanjung Perak pada posisi kedua dengan 309 PM/ liter.

Kemudian HR Muhammad dengan 135 PM/ liter, Wonokromo dengan 77 PM/ liter, Gununganyar dengan 66 PM per liter, Ketintang dengan 48 PM/ liter, dan Dharmahusada dengan 24 PM per liter. (*)

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore