
Blubridge Center & Therapedia Center menggelar acara Apreciation Night dan Pameran Spectrum of Creativity. (Dokumentasi Blubridge Center)
JawaPos.com - Tidak ada sorak kemenangan, tidak pula peringkat terbaik. Yang ada hanyalah tepuk tangan untuk keberanian, ketekunan, dan langkah kecil anak-anak berkebutuhan khusus yang dirayakan dalam Appreciation Night Blubridge Center & Therapedia Center.
Melalui acara ini, proses panjang yang kerap luput dari perhatian justru ditempatkan sebagai pencapaian utama. Lebih dari 100 orang menghadiri acara ini, baik itu orang tua, terapis, guru, dokter, donatur hingga komunitas, yang terlibat dalam tumbuh kembang ABK.
Apresiasi diberikan bukan semata pada hasil akhir. Tidak ada konsep menang atau kalah dalam acara ini. Setiap anak menerima trofi sebagai simbol penghargaan atas progres masing-masing, sejauh apa mereka melangkah dibandingkan diri mereka di masa lalu.
Momen haru semakin terasa saat video perjalanan anak-anak ditayangkan sebelum tampil. Dari yang semula menolak latihan hingga berani berkreasi sendiri, serta dari belum mampu berbicara hingga percaya diri menyebutkan nama bendera dan peta dunia yang dihafalnya.
Hal ini menegaskan bahwa setiap progres memiliki makna. Psikolog sekaligus Head of Event Blubridge Center & Therapedia Center, Elvina Febriyani Chandrawijaya mengatakan acara ini hadir dari keyakinan bahwa intervensi anak adalah perjalanan kolaboratif.
“Kami ingin mengapresiasi semua pihak yang terlibat dalam perjalanan anak-karena anak tidak pernah berjuang sendiri. Dengan kolaborasi orang tua, terapis, guru, dokter, dan komunitas, setiap usaha kecil itu menjadi berarti dan layak dirayakan,” tutur Elvina, Jumat (16/1).
Selain malam apresiasi, Blubridge Center & Therapedia Center juga menghadirkan Program Part Time Experience, sebuah program magang inklusif bagi anak berkebutuhan khusus dan anak tipikal. Anak-anak merasakan langsung pengalaman bekerja sebagai pelayan kafe dan barista di tiga kafe mitra.
Melalui pengalaman nyata tersebut, anak-anak belajar mengembangkan keterampilan sosial, kemandirian, kemampuan memecahkan masalah, serta membangun kepercayaan diri di lingkungan sosial yang sesungguhnya.
“Awalnya mereka (anak berkebutuhan khusus) merasa gugup dan canggung saat mengikuti magang, namun perlahan mampu menyesuaikan diri. Banyak dari mereka merasa bangga karena dipercaya menjalankan peran nyata,” sambungnya.
Selain Night Appreciation dan program Part Time, Blubridge Center & Therapedia Center juga menggelar “Spectrum of Creativity”, pameran seni yang menghadirkan lebih dari 100 karya anak berkebutuhan khusus. Hasil penjualan karya dialokasikan untuk mendukung keberlanjutan terapi anak.
Blubridge Center berkomitmen membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan masyarakat, dengan menegaskan bahwa anak berkebutuhan khusus bukan tentang keterbatasan, melainkan potensi yang berkembang saat mereka diterima dan dipercaya.
“Blubridge Center ingin bergerak dari sekadar awareness menuju acceptance. Inklusi bukan hanya tentang tahu, tetapi tentang menerima, melibatkan, dan memberi kesempatan,” pungkas Elvina Febriyani.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
