Logo JawaPos
Author avatar - Image
17 Februari 2026, 13.18 WIB

Nge Jia hingga Cung Kwok Sie Nen, Begini Ritual Umat Tionghoa Jelang Tahun Baru Imlek 2026

Tetua Kampung Pecinan, Surabaya, Dony Tjong saat menjelaskan tradisi dan sembahyang menjelang Tahun Baru Imlek. (Novia Herawati/ JawaPos.com) - Image

Tetua Kampung Pecinan, Surabaya, Dony Tjong saat menjelaskan tradisi dan sembahyang menjelang Tahun Baru Imlek. (Novia Herawati/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada 17 Februari 2026, menjadi momen istimewa yang dinantukan etnis Tionghoa. Penganut kepercayaan Tri Dharma biasanya menjalankan tradisi dan sembahyang.

Seperti yang dilakukan Tetua Kampung Pecinan, Surabaya, Dony Tjong. Sehari menjelang Imlek, Senin (16/2), ia membuka altar sembahyang di rumahnya, lengkap dengan berbagai sesajen yang tertata rapi.

Mulai dari kue keranjang, arak, kopi, pisang raja, daging babi, teh, kopi, sayur-sayuran, manisan, ikan, lengkap dengan lilin dan hio (dupa) menyala di atas penutup kain bergambar naga serta delapan dewa.

Ketika JawaPos.com berkunjung ke kediamannya di Kampung Pecinan, Jalan Kapasan Dalam Gang II, sejumlah anggota keluarga tampak datang dan beribadah dengan membakar hio secara bergantian.

Dony menjelaskan dua hari sebelum perayaan Imlek, penganut kepercayaan Tri Dharma akan melakukan ibadah Nge Jia untuk meminta izin kepada Tuhan agar para leluhur diizinkan turun ke bumi dan merayakan Imlek bersama-sama.

“Jadi kemarin (Minggu, 15 Februari 2025) istri saya sekitar jam 18.00 WIB melakukan Nge Jia dan hari ini baru dilakukan sembahyang leluhur,” ucap Suk Dony, sapaan karibnya, kepada JawaPos.com, Senin (16/2).

Kemudian tepat sehari menjelang Imlek, dilakukan sembahyang arwah atau disebut juga cung kwok sie nen, dengan membuka altar untuk mengundang leluhur ikut turun merayakan Tahun Baru Imlek.

“Jadi kalau leluhur datang, pasti memberikan yang terbaik untuk anak cucunya. Makanya kalau orang Tionghoa itu ajaranya selalu mengutamakan untuk selalu ingat leluhur keluarga," imbuhnya.

Bagi leluhur yang sudah tidak lagi memiliki sanak keluarga yang masih hidup, lanjut Suk Dony, biasanya akan dilakukan Jiet Yek Pan, biasa disebut sembahyang rebutan di Kuil atau Kenteng.

“Jadi untuk leluhur yang sudah tidak memiliki keluarga atau keluarganya tidak buka altar, mereka akan berkumpul di klenteng atau Imlek dalam sembahyang rebutan atau disebut Jiet Yek Pan,” terang Dony.

Sementara saat hari perayaan Imlek, Dony menyebut ada beberapa pantangan yang harus dijatuhi umat Tionghoa, seperti dilarang memotong kuku, tidak boleh keramas, tidak boleh membuat sampah.

"Tidak boleh memotong rambut, kumis, tidak boleh membersihkan rumah. Jadi rumah dibiarkan kotor tidak apa-apa, yang penting rezekinya tidak tersapu, maknanya seperti itu,” jelasnya dengan ramah.

Saat perayaan Imlek, umat Tionghoa mengenakan pakaian serba merah. Keluarga yang lebih mudah mendatangi keluarga yang lebih tua untuk mengucapkan kalimat "Gong Xi", yang berarti selamat atau berbahagialah.

"Lalu keluarga yang sudah menikah biasanya memberikan angpao. Kalau yang punya uang lebih, boleh juga untuk memasang lampion yang melambangkan doa, rezeki, cahaya kehidupan," pungkas Suk Dhony. 

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore