Logo JawaPos
Author avatar - Image
20 November 2025, 00.05 WIB

Orang yang Sering Dibandingkan dengan Saudaranya Biasanya Menunjukkan 7 Perilaku Ini Saat Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang sering dibandingkan dengan saudaranya. (Freepik/KamranAydinov) - Image

seseorang yang sering dibandingkan dengan saudaranya. (Freepik/KamranAydinov)


JawaPos.com - Dalam banyak keluarga, perbandingan antar saudara terjadi tanpa disadari. 
 
Kalimat sederhana seperti “Kamu harusnya seperti kakakmu” atau “Adikmu saja bisa, masa kamu tidak?” dapat meninggalkan jejak psikologis yang bertahan hingga dewasa. 
 
Walau terlihat sepele, pola asuh penuh perbandingan menciptakan tekanan emosional yang memengaruhi cara seseorang melihat diri, membangun hubungan, hingga mengambil keputusan.

Menurut berbagai temuan psikologi perkembangan dan dinamika keluarga, anak yang tumbuh dengan kondisi seperti ini cenderung membawa pola perilaku tertentu sampai usia dewasa. 
 
Dilansir dari Geediting pada Rabu (19/11), terdapat tujuh perilaku yang paling sering muncul.

1. Sulit Merasa Cukup dan Cenderung Perfeksionis


Dibesarkan dengan standar yang terus dibandingkan membuat seseorang merasa apa pun yang ia lakukan tidak pernah benar-benar cukup. 
 
Dalam dunia dewasa, ini muncul sebagai perfeksionisme: selalu ingin hasil sempurna, takut salah, dan mudah merasa bersalah ketika sesuatu tidak berjalan ideal. 
 
Mereka sering mengejar validasi eksternal karena sejak kecil nilainya diukur melalui kacamata orang lain.

2. Rentan Merasa Rendah Diri


Anak yang sering dibandingkan jarang mendapatkan afirmasi bahwa dirinya unik dan berharga. 
 
Akibatnya, saat dewasa mereka lebih rentan mengkritik diri sendiri, meragukan kemampuan, dan merasa orang lain selalu “lebih baik”. 
 
Perasaan inferior ini bukan karena tidak mampu, tetapi karena narasi internal sejak kecil menyuruh mereka untuk terus menyesuaikan diri dengan standar orang lain.

3. Sensitif terhadap Kritik


Ketika kritikan sudah menjadi bahasa sehari-hari di rumah, seseorang dapat tumbuh menjadi dewasa yang sangat peka terhadap komentar negatif. 
 
Kritik kecil saja bisa memicu kecemasan atau dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri.
 
Ini terjadi karena kritik di masa kecil bukan sekadar koreksi, melainkan perbandingan yang mengikis identitas.

4. Cenderung Overachiever atau Sebaliknya, Pasif dan Menghindar


Ada dua respons umum terhadap perbandingan:

Overachiever, yaitu individu yang bekerja sangat keras untuk membuktikan diri; atau

Penghindar, yaitu individu yang kehilangan motivasi karena merasa “tidak akan pernah menang”.

Keduanya merupakan strategi bertahan—baik berjuang keras maupun menghindar—yang terbentuk sejak masa kecil sebagai respons terhadap tekanan emosional.

5. Sulit Membentuk Batasan (Boundaries)


Ketika hidup selalu diukur dengan standar orang lain, seseorang cenderung kesulitan mengenali apa yang benar-benar mereka inginkan. 
 
Ini membuat mereka susah menetapkan batasan dalam hubungan, pekerjaan, maupun pertemanan. 
 
Mereka takut mengecewakan orang lain karena sejak kecil diajarkan bahwa pendapat orang adalah ukuran keberhasilan.

6. Kompetitif secara Tidak Sadar dalam Hubungan Sosial


Orang yang selalu dibandingkan akan memandang kehidupan sebagai arena kompetisi.
 
Meski mereka tidak sengaja melakukannya, mereka dapat merasa minder ketika teman berhasil atau merasa harus unggul untuk merasa aman. 
 
Pola ini terbentuk karena sejak awal, cinta dan pengakuan diberikan secara bersyarat berdasarkan perbandingan.

7. Kesulitan Mengenali Identitas Diri


Saat sepanjang masa tumbuh kembang dihabiskan untuk “menjadi seperti saudara”, seseorang dapat kehilangan kesempatan memahami siapa dirinya sebenarnya. 
 
Di usia dewasa, ini tampak sebagai kebingungan memilih karier, menentukan tujuan hidup, atau memahami nilai personal. 
 
Mereka lama mencari arah karena identitasnya dahulu dibaurkan dengan ekspektasi keluarga.

Kesimpulan: Luka Lama yang Bisa Dipulihkan


Perbandingan antar saudara mungkin terlihat seperti bagian wajar dari dinamika keluarga, tetapi dampaknya dapat menetap hingga dewasa.
 
Tujuh perilaku di atas bukan tanda kelemahan, melainkan manifestasi dari pengalaman emosional yang tak pernah benar-benar diakui.

Kabar baiknya, pola ini bisa diubah. 
 
Dengan kesadaran diri, refleksi, dan lingkungan yang suportif, seseorang dapat belajar menerima diri apa adanya, menetapkan batas sehat, serta membangun identitas yang lebih otentik.
 
Perjalanan ini bukan tentang menyalahkan masa lalu, tetapi tentang memahami akar perilaku dan memilih untuk tumbuh lebih kuat.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore