Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 November 2025, 18.05 WIB

Sakit Hati Karena Sering Dibully, Seorang Santri Bakar Pondok Pesantren di Aceh Besar

ilustrasi kebakaran. Antara - Image

ilustrasi kebakaran. Antara

JawaPos.com - Aparat kepolisian mengungkap penyebab kebakaran di Pondok Pesantren Babul Maghfirah, Kabupaten Aceh Besar, pada Jumat pekan lalu (31/10). Berdasar hasil pendalaman, kebakaran disebabkan oleh aksi seorang santri yang merasa sakit hati karena sering dibully. Santri kelas XII itu nekat membakar pondok karena kerap dihina dan direndahkan. 

Keterangan tersebut disampaikan oleh Kapolresta Banda Aceh Kombes Joko Heri Purwono sebagaimana dikutip dari pemberitaan Kaltim Post (Jawa Pos Group). Kombes Joko menyampaikan bahwa pelaku yang membakar pondok tersebut masih berusia 18 tahun. Pelaku mengaku sakit hati karena sering disebut idiot dan tolol selama yang bersangkutan mondok. 

”Motifnya karena sakit hati. Korban kerap dibully dan dipanggil dengan kata-kata menghina seperti idiot dan tolol,” ungkap Joko dikutip pada Jumat (7/11). 

Berdasar rekaman Closed Circuit Television (CCTV) yang kini beredar luas di media sosial, tampak seseorang dalam rekaman CCTV tersebut menyulut api dan membiarkan api membakar salah satu asrama di pondok tersebut. Belakangan diketahui bahwa orang itu adalah salah satu santri yang mondok di Pondok Pesantren Babul Maghfirah.

Setelah membakar pondok, pelaku langsung melarikan diri ke rumah orang tuanya. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun demikian, pihak pondok kehilangan fasilitas yang terbakar habis. Kombes Joko memastikan, kebakaran itu dilatari persoalan pribadi. Tidak ada motif lain dari pelaku pembakaran pondok. 

”Murni karena tekanan dan perundungan yang sudah terjadi berulang kali,” terang dia. 

Pondok Pesantren Babul Maghfirah diasuh oleh Teungku Haji Masrul Aidi berlokasi di Desa Lam Alue Cut, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Kebakaran terjadi sekitar pukul 03.49 WIB, saat sebagian besar santri masih terlelap. Menurut polisi, pelaku  tidak pernah melapor kepada pihak pesantren karena takut. Sehingga dia menanggung tekanan seorang diri.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore