
Kondisi jembatan yang terputus akibat banjir di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara, Selasa (25/11). (BPBD Kabupaten Tapanuli Utara)
JawaPos.com - Pemerintah sudah menyatakan bahwa Siklon Tropis Senyar menjadi penyebab terjadinya cuaca ekstrem yang memicu bencana alam di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Namun, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai siklon tersebut bukan satu-satunya penyebab banjir, longsor, serta angin kencang yang memporak poranda 3 provinsi tersebut.
Manajer Kampanye Hutan dan Kebun WALHI Nasional Uli Arta Siagian menyampaikan bahwa Siklon Tropis Senyar bukan satu-satunya penyebab bencana alam dahsyat di 3 provinsi itu. Menurut dia ada kerusakan ekologis pada landscape Bukit Barisan, persisnya pada kawasan hutan yang selama ini menjaga wilayah sumatera dari berbagai ancaman bencana.
”Kalau situasi landscape hutan kita itu baik-baik saja, maka dampak dari Siklon Tropis Senyar itu nggak akan terlalu besar. Berbeda kalau misalnya situasi Bukit Barisan itu tetap aman gitu, maka kerentanan kita berkurang,” terang dia saat diwawancarai oleh JawaPos.com pada Jumat (28/11).
Menurut Uli, bila tidak terjadi kerusakan ekologis meka dampak Siklon Tropis Senyar dapat ditekan. Untuk itu, WALHI menyoroti kerusakan yang terjadi dan menyebabkan kerentanan terhadap terjadinya bencana semakin tinggi. Dia menyatakan bahwa kerusakan tersebut disebabkan oleh eksploitasi dahsyat di Bukit Barisan.
”Kita lihat Sumatera Utara, kan kalau kita lihat video yang beredar itu kan nggak bisa terbantahkan bahwa material yang diangkut oleh air itu adalah kayu-kayuan, potongan kayu-kayu yang kemudian memperlihatkan dengan jelas bahwa situasi hulu di Batang Toru itu sedang tidak baik-baik saja,” kata dia.
WALHI memandang hal itu berkaitan dengan konsesi-konsesi yang tersebar di wilayah Ekosistem Batang Toru. Uli menyebut, saat ini eksploitasi pada ekosistem tersebut sangat tinggi. Mulai tambang emas, PLTA Batang Toru, tambang batu bara, bukaan lahan untuk konsesi sawit, dan izin-izin sektor kehutanan menjadikan ekosistem tersebut mengalami kerusakan ekologis.
”Jadi, semua ragam model izin ekstraktif yang ada di landscape Batang Toru itu yang kemudian mempertinggi kerentanan ekologis kita (khususnya di Sumut),” jelas dia.
Berdasar catatan dari WALHI Sumut bencana dahsyat yang terjadi beberapa hari belakangan paling parah melanda wilayah-wilayah yang berada di Ekosistem Batang Toru. Yakni wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mencatat jumlah korban meninggal dunia paling banyak selama banjir dan longsor terjadi berada di wilayah Sumut.
”Di Sumatera Barat juga begitu (terjadi kerusakan kawasan hutan). Di Aceh juga begitu. Kalau kemudian kita melihat landscape Bukit Barisan itu yang menjadi penyebabnya. Jadi, tidak cukup benar kalau kemudian kita hanya mempersalahkan Siklon Tropis Senyar,” jelas dia.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
