
Petani di Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, melakukan perawatan tanaman tembakau di lahan miliknya. (ADITYA YUDA SETYA PUTRA/RADAR TULUNGAGUNG)
JawaPos.com - Gelombang penolakan terhadap intervensi asing dalam ekosistem tembakau nasional kian memanas. Para petani tembakau di Jawa Timur mencium adanya upaya pihak luar untuk menekan industri tembakau lokal melalui regulasi yang dinilai tidak berpihak pada rakyat kecil.
Kekhawatiran ini mencuat menyusul agenda Asia Pacific Cities for Health and Development (APCAT) Summit 2026. Dalam forum tersebut, Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, mendorong kepala daerah untuk memperketat pengendalian industri tembakau. Sontak, hal ini memicu reaksi keras dari para petani yang menggantungkan hidup pada "daun emas" tersebut.
Suara Petani Jember: Jangan Dzolimi Rakyat Kecil
Ketua DPC Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jember, M. Soleh, menegaskan bahwa pemerintah seharusnya melindungi komoditas lokal, bukan malah mengikuti kemauan asing. Ia mengingatkan bahwa tembakau adalah tulang punggung ekonomi banyak keluarga.
"Sampai hari ini, masih banyak masyarakat yang hidup dan bergantung pada tembakau. Bahan bangsa dan negara ini pun menikmati penerimaan dari cukai rokok. Kami menolak campur tangan asing yang mau bikin aturan semena-mena melarang tembakau," ujar Soleh, Senin (26/1).
Soleh juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap Kemendagri yang dianggap lebih condong pada agenda global dibanding nasib petani di daerah.
"Kami tidak terima mata pencaharian kami diacak-acak. Jangan sampai ada pejabat negara yang mau mendzolimi tembakau tapi negara sendiri menikmati hasil tembakau. Tolong dipikirkan nasib dan penghidupan rakyat kecil," tegasnya.
Ekosistem Tembakau dan Cengkeh: Penyangga 6 Juta Tenaga Kerja
Senada dengan Soleh, petani cengkeh asal Jawa Timur, Buang Kurniawan, menyoroti pentingnya menjaga integrasi tembakau dan cengkeh sebagai warisan budaya industri kretek Nusantara. Menurutnya, regulasi yang terlalu ketat akan memicu efek domino yang berbahaya bagi lapangan kerja.
Buang mengingatkan bahwa ada sekitar 6 juta tenaga kerja yang terlibat dalam rantai industri ini, dari hulu hingga hilir.
"Mengapa begitu mudahnya terpengaruh dengan kekuatan asing untuk mengintervensi kemerdekaan bangsa ini, sampai mau mencampuri urusan ekonomi dan otonomi. Kami mengingatkan kepada para pemangku kebijakan untuk mempertimbangkan efek negatif atas segala regulasi yang akan dan sudah dibuat. Jangan sampai rakyat kecil, seperti petani yang jadi korban," tutur Buang.
Ia menekankan bahwa keberlangsungan ekonomi mulai dari buruh pabrik hingga pelaku UMKM sangat bergantung pada stabilitas sektor ini.
"Harus diakui bahwa tembakau dan cengkeh adalah komoditas yang menjadi penyangga ekonomi masyarakat mulai dari petani, pekerja pabrikan, UMKM, pekerja kreatif, dan masih banyak lagi. Sehingga jangan sampai lahir peraturan yang ujungnya merobohkan penyangga ekonomi," tambahnya.
Pentingnya sektor ini bukan tanpa alasan. Jawa Timur adalah "lokomotif" produksi tembakau nasional dengan kontribusi mencapai 57 persen dari total produksi di Indonesia.
Berdasarkan data tahun 2024:
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
