Logo JawaPos
Author avatar - Image
04 November 2025, 17.21 WIB

Isi Materi Stand-up Comedy Pandji Pragiwaksono yang Dianggap Lecehkan Adat Toraja

Pandji Pragiwaksono - Image

Pandji Pragiwaksono

JawaPos.com - Komika Pandji Pragiwaksono disebut-sebut melecehkan adat Toraja dalam materi lawakannya hingga menuai protes keras berupa desakan permintaan maaf dari Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI).

Pandji Pragiwaksono dianggap melakukan pelecehan pada adat saat menyinggung prosesi pemakaman Rambu Solo, adat suku Toraja di Sulawesi Selatan

Dalam tradisi suku Toraja, mereka menggelar upacara ketika ada orang meninggal. Upacara itu biasanya dilakukan dengan menyembelih kerbau hingga babi. Jumlah hewan yang disembelih pun bisa mencapai puluhan hingga ratusan ekor, dan kabarnya menelan biaya cukup besar.

Lawakan yang dibawakan Pandji Pragiwaksono yang mengkritisi tradisi itu dianggap melecehkan budaya Toraja. Materi ini sebenarnya materi lama disampaikan sekitar tahun 2013 silam. 

Berikut materi stand up comedy Pandji Pragiwaksono yang dianggap melecehkan adat Toraja:

"Di Toraja, kalau ada anggota keluarga yang meninggal, makaminnya pakai pesta yang mahal banget. Bahkan, banyak orang Toraja jatuh miskin habis bikin pesta untuk pemakaman keluarganya," kata Pandji Pragiwaksono dalam video yang kini beredar luas.

Selan itu, ada pernyataan Pandji Pragiwaksono yang juga dipersoalkan PMTI karena dianggap melecehkan budaya Toraja. Pandji saat itu mengaku ada praktik membiarkan jenazah untuk keluarga yang tidak bisa menggelar pesta.

"Kalau anggota keluarganya meninggal dan tidak punya duit, jenazahnya ditaruh saja di ruang TV, di ruang tamu," kata Pandji.

Dua pernyataan Padjid itu yang mendapat protes keras dari dinilai PMTI karena dianggap melecehkan budaya Toraja. Menurut PMTI, Pandji tidak memahami makna terdalam dari acara Rambu Solo dalam tradisi masyarakat Toraja

PMTI memastikan tidak ada jenazah yang dibiarkan begitu saja hanya gara-gara tidak punya uang untuk menggelar upacsra. Keluarga yang tidak mampu menggelar upacara justru boleh menggelar acara sesuai dengan kemampuannya.

PMTI menyebut, pernyataan Pandji sampai bikin orang Toraja miskin gara-gara menggelar upacara Rambu Solo dipastikannya tidak benar dan berlebihan.

PMTI juga menyatakan, Rambu Solo bukanlah pesta kemewahan sebagaimana diungkapkan Pandji. Itu merupakan sebuah upacara sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk orang yang meninggal dunia.

PMTI menegaskan bahwa upcara itu memiliki makna yang cukup dalam. Selain bentuk penghormatan terakhir untuk orang yang meninggal, juga ada nilai solidaritas, kekerabatan, gotong royong, cinta kasih, penghargaan terhadap kehidupan, dan lain-lain di dalamnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore