Kereta khusus berusia lebih dari 100 tahun peninggalan Pakubuwono VII. (Radar Solo/JawaPos Group).
JawaPos.com - Kereta khusus berusia lebih dari 100 tahun disiapkan untuk mengantarkan jenazah Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Sinuhun Pakubuwono (PB) XIII. Kereta yang terbuat dari kayu jati tua itu disiapkan untuk menjalankan tugas sakral, mengantarkan raja menuju peristirahatan terakhirnya.
Kereta berwarna putih dengan ornamen mahkota di puncaknya itu bukan sekadar kendaraan. Sebab, merupakan saksi bisu sejarah panjang para raja Mataram. Disebut sebagai kereta jenazah, pusaka ini telah berusia lebih dari seabad dan pertama kali digunakan sejak masa pemerintahan Pakubuwono (PB) VII.
Kini, roda tuanya kembali berputar untuk membawa jenazah Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun (SISKS) Pakubuwono XIII keluar dari ndalem keraton menuju kendaraan selanjutnya sebelum diberangkatkan ke Makam Raja-Raja Imogiri, Bantul, Jogjakarta.
“Kereta jenazah ini memang khusus digunakan untuk mengangkat jenazah dari ndalem keraton ke luar. Seperti saat PB XII dulu, sama. Kalau dulu PB X sempat ke Stasiun Balapan karena naik kereta api. Sedangkan PB XII dari sini ke Puryaningratan, baru ganti ambulans,” kata Kanjeng Gusti Pangerang Haryo (KGPH) Puger, adik PB XIII, sebagaimana dikutip dari Radar Solo (Jawa Pos Group), Minggu (2/11).
Menurutnya, prosesi kali ini juga akan berlangsung dengan tata cara serupa.
“Nanti koordinasinya hampir sama, kalau ada perubahan akan kami sesuaikan,” ujarnya.
Kereta kayu jati tersebut akan ditarik oleh enam hingga delapan ekor kuda pilihan. Derap langkah kuda akan memecah kesunyian keraton, diiringi pasukan prajurit, sentono dalem, para pengawal, dan kerabat.
Sepanjang jalan, masyarakat biasanya berdiri di tepi jalur, menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada raja.
Kereta ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol perjalanan suci seorang sinuhun dari dunia fana menuju keabadian. Warna putihnya melambangkan kesucian, sementara ukiran mahkota di puncaknya menandai keagungan seorang raja yang telah menuntaskan pengabdian.
Bagi masyarakat maupun keluarga keraton, setiap kali kereta ini kembali bergerak, pertanda sejarah sedang menulis babak baru dalam perjalanan panjang Kasunanan Surakarta.
Menurut KGPH Puger, jenazah akan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-Raja Imogiri, mengikuti adat turun-temurun.
“Biasanya pemakaman dilakukan dua sampai tiga hari setelah wafat, menunggu penjabat pemerintah yang akan melayat. Paling lambat tiga hari,” ujarnya.
Rangkaian prosesi adat akan dimulai dari Masjid Keraton, tempat jenazah disiram dan disalatkan. Setelah itu, jenazah dibawa ke Paragiyo, di belakang Sasana Wilopo, sebelum diberangkatkan melalui jalur utama keraton.
“Adatnya seperti biasa. Dari masjid, disirami, lalu dibawa ke Paragiyo. Destinasinya saja yang berbeda, karena setiap raja punya masjid dan pendopo sendiri. Tapi brobosan tetap ada, adatnya begitu,” pungkasnya.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
