Logo JawaPos
Author avatar - Image
30 Oktober 2025, 13.33 WIB

Orang yang Tetap Tajam Secara Mental di Usia Tua Memiliki 8 Kebiasaan Seumur Hidup Ini Menurut Psikologi

seseorang yang tetap tajam secara mental di usia tua

 
JawaPos.com - Seiring bertambahnya usia, banyak orang menganggap menurunnya daya ingat dan ketajaman berpikir adalah sesuatu yang tak terhindarkan. 
 
Namun, psikologi modern—ditunjang oleh riset neurosains—menunjukkan bahwa penuaan mental tidak bersifat absolut. 
 
Banyak lansia tetap tajam, berenergi, bahkan kreatif seperti di masa muda. 
 
Rahasianya bukan terletak pada “keberuntungan genetik” semata, melainkan pada kebiasaan kecil yang mereka rawat sepanjang hidup.
 
Baca Juga: Mereka yang Suka Menyimpan Kotak Sepatu, Biasanya Memiliki 7 Kebiasaan Khusus Ini Menurut Psikologi

Dilansir dari Geediting pada Rabu (29/10), terdapat delapan kebiasaan penting yang menurut psikologi, sering ditemukan pada orang yang tetap tajam secara mental hingga usia tua.

1) Mereka Terus Belajar Hal Baru, Sekecil Apa Pun


Otak mirip otot: semakin dipakai, semakin kuat. 
 
Orang yang tajam di usia tua biasanya menjadikan belajar sebagai gaya hidup. 
 
Mereka membaca, mencoba aplikasi baru, mempelajari bahasa asing, bermain alat musik, atau sekadar mempelajari hobi baru.

Psikolog menyebut ini sebagai lifelong learning—kebiasaan yang menstimulasi neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak membentuk koneksi baru.
 
Pada mereka yang menua dengan sehat, proses ini tampak berlangsung sepanjang hidup.

Intinya: Belajar bukan sekadar aktivitas; ia adalah investasi jangka panjang bagi otak.
 
Baca Juga: 6 Kebiasaan Halus Orang yang Menikmati Hidupnya Meski Punya Gaji Rata-rata

2) Mereka Aktif Secara Sosial dan Rutin Terhubung


Kesepian kronis berhubungan erat dengan percepatan penurunan kognitif. 
 
Di sisi lain, orang yang terhubung secara sosial memiliki risiko lebih rendah mengalami demensia.

Orang yang tetap tajam biasanya:

Menjaga hubungan dengan teman dekat
Terlibat dalam komunitas
Sering berbincang, baik tatap muka atau virtual
Suka bertukar kabar dan cerita

Interaksi sosial melatih memori, bahasa, empati, dan pengambilan keputusan.

3) Mereka Melatih Daya Tahan Emosi (Emotional Resilience)

Banyak penelitian psikologi menunjukkan bahwa stres berkepanjangan dapat merusak area otak seperti hipokampus—wilayah yang mengelola memori.

Orang yang tetap jernih pikirannya di usia lanjut biasanya:

Memiliki cara sehat menghadapi stres
Tidak terjebak pada penyesalan
Mampu menerima perubahan

Melatih kesabaran dan kontrol emosi

Kemampuan ini—disebut resiliensi—menjadi pelindung bagi fungsi kognitif.

4) Mereka Menjaga Tubuh Tetap Bergerak


Sehat mental erat kaitannya dengan sehat fisik. 
 
Olahraga meningkatkan aliran darah ke otak, memperbaiki suasana hati, dan mendukung kinerja memori.

Tidak harus olahraga berat; berjalan kaki, berkebun, menari, hingga olahraga ringan di rumah pun bermanfaat.
 
Banyak lansia yang bugar membangun rutinitas gerak harian sejak muda.

Gerak itu ibarat pupuk bagi otak.

5) Mereka Memiliki Rasa Ingin Tahu Tinggi


Di balik ketajaman pikiran, hampir selalu ada rasa penasaran yang tak padam. Orang yang ingin tahu:

Bertanya
Menantang ide lama
Tidak cepat puas
Suka mencoba hal baru

Rasa ingin tahu membuat otak tetap aktif, tidak membeku dalam rutinitas. 
 
Kebiasaan ini menjaga pikiran tetap fleksibel dan kreatif meski usia terus bertambah.

6) Mereka Mempraktekkan Tidur Berkualitas


Tidur adalah momen otak “membersihkan” sisa limbah metabolik, mengatur ulang koneksi saraf, dan memperkuat memori. 
 
Orang yang konsisten menjaga tidur cenderung memiliki risiko penurunan kognitif yang lebih rendah.

Bahkan gangguan tidur ringan dalam jangka panjang cukup memengaruhi konsentrasi dan daya ingat.

Ketajaman mental yang bertahan lama hampir selalu datang bersama tidur yang teratur.

7) Mereka Hidup dengan Tujuan (Purpose)


Salah satu temuan penting dalam psikologi positif: hidup dengan tujuan membuat seseorang lebih sehat secara mental dan fisik. 
 
Orang yang memiliki alasan untuk bangun setiap pagi—entah merawat keluarga, mengajar, berkarya, melayani masyarakat, atau mengelola hobi—cenderung lebih bertenaga dan berpikiran jernih.

Tujuan memberi arah, dan arah memberi makna—itulah yang menstabilkan pikiran.

8) Mereka Berlatih Pola Pikir Fleksibel


Orang yang tetap tajam biasanya punya satu kesamaan: mereka tidak kaku.

Mereka mengizinkan diri berubah, menerima hal baru, dan menyesuaikan diri dengan tantangan baru. 
 
Fleksibilitas kognitif—kemampuan berpindah strategi, mengubah cara pandang, dan melihat masalah dari berbagai sisi—menjadi fondasi penting bagi kesehatan mental jangka panjang.

Keinginan untuk terus beradaptasi menjadi jembatan antara penuaan dan kebijaksanaan.

Kesimpulan

Tidak ada kunci tunggal untuk tetap cemerlang di usia senja. 
 
Namun, delapan kebiasaan ini—belajar terus, bersosialisasi, resiliensi emosional, bergerak, rasa ingin tahu, tidur cukup, hidup penuh tujuan, dan fleksibilitas berpikir—membangun fondasi kuat agar otak tetap aktif.

Kabar baiknya?

Tidak pernah terlambat untuk memulai.

Setiap langkah kecil hari ini adalah investasi agar kita bisa menikmati usia tua dengan pikiran yang tetap tajam, jernih, dan hidup.

Kita tidak hanya menua—kita bertumbuh.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore