Logo JawaPos
Author avatar - Image
06 November 2025, 16.09 WIB

7 Cara Filosofi Stoikisme untuk Menyeimbangkan Empati, Batasan, dan Ketenangan Pikiran

seseorang yang lebih cocok menjadi pemimpin./Freepik/EmilyStock - Image

seseorang yang lebih cocok menjadi pemimpin./Freepik/EmilyStock

JawaPos.com - Dalam kehidupan yang serba cepat, kita dihadapkan pada banyak tuntutan: menjadi pribadi yang peduli, menjaga hubungan tetap hangat, mengelola emosi, hingga tetap waras di tengah derasnya informasi.

Di sinilah Stoikisme—sebuah filsafat kuno dari Yunani—hadir memberikan panduan sederhana namun kuat: memahami apa yang bisa kita kendalikan, menerima apa yang tidak, dan hidup selaras dengan prinsip yang benar.

Namun, Stoikisme bukanlah ajaran untuk mematikan perasaan; justru, ia membantu kita merawat empati tanpa kehilangan batas diri atau kedamaian batin.

Dilansir dari Geediting pada Rabu (5/11), terdapat tujuh cara Stoikisme menuntun kita dalam menyeimbangkan empati, batasan pribadi, serta ketenangan pikiran.

1) Memahami “Mana yang Bisa Dikendalikan”

Fondasi Stoikisme terletak pada pemisahan: ada hal yang bisa kita kendalikan, dan ada yang tidak.

Emosi orang lain, penilaian publik, atau hasil akhir dari usaha kita sering bukan milik kita sepenuhnya.

Dengan menerima batas pengaruh kita, empati menjadi lebih sehat—kita peduli tanpa menanggung seluruh beban.

Kita hadir, namun tak larut.

2) Menumbuhkan Empati Berlandaskan Realitas

Bagi seorang Stoik, empati bukan berarti ikut tenggelam dalam penderitaan orang lain.

Justru, empati sejati adalah mendengarkan dengan hati terbuka, memahami kondisi orang lain, namun tetap jernih dalam mengambil peran.

Bukan hanya “merasa bersama”, tetapi juga “membantu dengan bijaksana”.

3) Menghormati Batasan Pribadi dan Orang Lain

Stoikisme mengajarkan bahwa setiap orang adalah individu dengan jalan hidup masing-masing.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore