ilustrasi kalimat yang sering diucapkan boomer dan membuat milenial tersinggung (Geediting)
JawaPos.com - Pernah merasa suasana langsung berubah hanya karena satu kalimat? Percakapan yang tadinya santai tiba-tiba menjadi kaku, atau lawan bicara terlihat tidak nyaman.
Perbedaan cara berkomunikasi antar generasi sering kali menjadi penyebabnya. Niatnya mungkin baik berbagi pengalaman, memberi nasihat, atau menunjukkan kepedulian—namun kata-kata tertentu bisa terdengar meremehkan bagi generasi yang tumbuh dengan realitas berbeda.
Dilansir dari laman Geediting, Minggu (21/12), terdapat beberapa ungkapan yang kerap digunakan generasi boomer dan tanpa disadari membuat generasi milenial merasa tidak dipahami. Berikut tujuh di antaranya:'
Kalimat ini sering dimaksudkan sebagai nasihat, tetapi bagi milenial terdengar seperti perbandingan yang meniadakan kesulitan mereka.
Pasar kerja, biaya hidup, dan tuntutan sosial saat ini sangat berbeda dibanding puluhan tahun lalu. Alih-alih membandingkan zaman, mengakui bahwa tantangan setiap generasi itu unik justru akan terasa lebih menghargai.
Ponsel bagi milenial bukan sekadar hiburan. Ia adalah alat kerja, sarana belajar, sekaligus media bersosialisasi.
Mengkritik kebiasaan ini sering kali terasa tidak adil, apalagi jika generasi sebelumnya juga menghabiskan banyak waktu di depan layar televisi atau koran. Bentuknya berbeda, tetapi esensinya sama.
Rasa syukur memang penting, namun kalimat ini kerap menutup ruang diskusi tentang kondisi kerja yang tidak sehat.
Banyak milenial memperjuangkan keseimbangan hidup, batasan kerja yang wajar, serta kompensasi yang adil. Itu bukan tanda tidak tahu diri, melainkan upaya bertahan di dunia kerja yang jauh lebih kompetitif dan tidak stabil.
Ungkapan nostalgia ini sering terdengar meremehkan kondisi saat ini.
Setiap zaman memiliki tantangan dan kemudahannya masing-masing. Terus-menerus membandingkan masa lalu dengan masa kini justru membuat percakapan terhenti. Mendengarkan pengalaman generasi muda sering kali jauh lebih membangun.
Generalisasi ini hampir selalu mematikan dialog.
Faktanya, banyak milenial memiliki pendidikan lebih tinggi, namun menghadapi biaya hidup yang melonjak dan peluang ekonomi yang lebih sempit. Apa yang dianggap “menuntut” sering kali hanyalah harapan atas standar hidup yang dulu lebih mudah dicapai.
Saran ini mungkin ampuh di masa lalu, tetapi dunia rekrutmen telah berubah drastis.
