Logo JawaPos
Author avatar - Image
01 Januari 2026, 01.13 WIB

Anak-Anak Anda yang Sudah Dewasa Masih Menelepon Anda Saat Mereka Sakit? Kemungkinan Besar Anda Menunjukkan 7 Perilaku Ini sebagai Orang Tua

seseorang yang ditelepon anaknya saat sakit./Freepik/EyeEm - Image

seseorang yang ditelepon anaknya saat sakit./Freepik/EyeEm

JawaPos.com - Ada satu momen kecil namun sarat makna dalam hubungan orang tua dan anak: ketika seorang anak yang sudah dewasa, mandiri, dan hidup dengan dunianya sendiri, tiba-tiba menelepon orang tuanya hanya karena ia sedang sakit.

Bukan untuk meminta uang, bukan pula untuk meminta solusi besar—melainkan sekadar ingin didengar, ditemani dari kejauhan, atau diyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Dalam kacamata psikologi perkembangan dan keterikatan (attachment), perilaku ini bukan tanda kelemahan anak.

Justru sebaliknya, ini sering kali menjadi cerminan kualitas pengasuhan yang sangat kuat sejak masa kecil.

Anak dewasa yang masih menghubungi orang tuanya saat rapuh menunjukkan bahwa rumah emosionalnya masih utuh.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (30/12), menurut psikologi, jika anak-anak Anda yang sudah dewasa masih menelepon Anda ketika mereka sakit, kemungkinan besar Anda menunjukkan tujuh perilaku berikut sebagai orang tua.

1. Anda Menjadi “Tempat Aman” Secara Emosional

Psikologi mengenal konsep secure attachment, yaitu kondisi ketika anak merasa aman secara emosional kepada figur pengasuhnya.

Anak dengan keterikatan aman tahu bahwa ketika mereka lemah—secara fisik maupun mental—mereka tidak akan dihakimi, diremehkan, atau diabaikan.

Jika anak dewasa Anda menelepon saat sakit, besar kemungkinan sejak kecil Anda konsisten menjadi tempat pulang yang aman.

Anda mungkin tidak selalu menyelesaikan masalah mereka, tetapi kehadiran Anda membuat mereka merasa tenang. Rasa aman ini tidak pernah benar-benar hilang, bahkan ketika anak sudah dewasa.

2. Anda Lebih Banyak Mendengarkan daripada Menggurui

Banyak orang tua jatuh ke dalam jebakan ingin selalu memberi nasihat. Namun secara psikologis, anak—terutama yang sudah dewasa—lebih membutuhkan empati daripada ceramah.

Jika mereka masih menelepon Anda saat sakit, kemungkinan besar Anda terbiasa mendengarkan tanpa langsung mengoreksi.

Anda memberi ruang bagi keluhan, rasa tidak nyaman, dan emosi mereka tanpa membuat mereka merasa “lemah” atau “manja”. Ini menciptakan hubungan yang setara, bukan hierarkis semata.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore