
seseorang yang ditelepon anaknya saat sakit./Freepik/EyeEm
JawaPos.com - Ada satu momen kecil namun sarat makna dalam hubungan orang tua dan anak: ketika seorang anak yang sudah dewasa, mandiri, dan hidup dengan dunianya sendiri, tiba-tiba menelepon orang tuanya hanya karena ia sedang sakit.
Bukan untuk meminta uang, bukan pula untuk meminta solusi besar—melainkan sekadar ingin didengar, ditemani dari kejauhan, atau diyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dalam kacamata psikologi perkembangan dan keterikatan (attachment), perilaku ini bukan tanda kelemahan anak.
Justru sebaliknya, ini sering kali menjadi cerminan kualitas pengasuhan yang sangat kuat sejak masa kecil.
Anak dewasa yang masih menghubungi orang tuanya saat rapuh menunjukkan bahwa rumah emosionalnya masih utuh.
Dilansir dari Geediting pada Selasa (30/12), menurut psikologi, jika anak-anak Anda yang sudah dewasa masih menelepon Anda ketika mereka sakit, kemungkinan besar Anda menunjukkan tujuh perilaku berikut sebagai orang tua.
1. Anda Menjadi “Tempat Aman” Secara Emosional
Psikologi mengenal konsep secure attachment, yaitu kondisi ketika anak merasa aman secara emosional kepada figur pengasuhnya.
Anak dengan keterikatan aman tahu bahwa ketika mereka lemah—secara fisik maupun mental—mereka tidak akan dihakimi, diremehkan, atau diabaikan.
Jika anak dewasa Anda menelepon saat sakit, besar kemungkinan sejak kecil Anda konsisten menjadi tempat pulang yang aman.
Anda mungkin tidak selalu menyelesaikan masalah mereka, tetapi kehadiran Anda membuat mereka merasa tenang. Rasa aman ini tidak pernah benar-benar hilang, bahkan ketika anak sudah dewasa.
2. Anda Lebih Banyak Mendengarkan daripada Menggurui
Banyak orang tua jatuh ke dalam jebakan ingin selalu memberi nasihat. Namun secara psikologis, anak—terutama yang sudah dewasa—lebih membutuhkan empati daripada ceramah.
Jika mereka masih menelepon Anda saat sakit, kemungkinan besar Anda terbiasa mendengarkan tanpa langsung mengoreksi.
Anda memberi ruang bagi keluhan, rasa tidak nyaman, dan emosi mereka tanpa membuat mereka merasa “lemah” atau “manja”. Ini menciptakan hubungan yang setara, bukan hierarkis semata.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
