Logo JawaPos
Author avatar - Image
21 Februari 2026, 14.03 WIB

8 Hal yang Dilakukan Orang Tua dengan Niat Membantu, tetapi Membuat Anak Dewasa Takut Setiap Kali Menerima Telepon Menurut Psikologi

seseorang yang niat membantu kepada anaknya./Freepik/Wavebreak Media

JawaPos.com - Tidak sedikit orang dewasa yang merasakan jantung berdebar atau kecemasan tiba-tiba setiap kali melihat nama orang tuanya muncul di layar ponsel.

Padahal, mereka tahu orang tuanya mencintai mereka. Lalu mengapa respons emosionalnya justru takut, tegang, atau ingin menghindar?

Dalam psikologi, dinamika ini sering berkaitan dengan pola komunikasi, kontrol, dan keterikatan emosional yang terbentuk sejak kecil.

Berdasarkan teori keterikatan dari John Bowlby dan penelitian lanjutan oleh Mary Ainsworth, hubungan orang tua–anak membentuk pola emosional yang bisa bertahan hingga dewasa.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Gemini dan Cancer Besok Minggu 22 Februari 2026: Finansial, Hoki, Karier, Kesehatan, Mobilitas, Cinta, dan Mental

Dilansir dari Geediting pada Rabu (18/2), terdapat 8 hal yang sering dilakukan orang tua dengan niat “membantu”, tetapi tanpa sadar justru membuat anak dewasa merasa cemas setiap kali menerima telepon.

1. Menelepon Hanya Saat Ada Masalah atau Kritik

Sebagian orang tua menghubungi anak terutama ketika:

Ada masalah keluarga

Ada kesalahan yang perlu ditegur

Ada keputusan anak yang tidak disetujui

Secara psikologis, ini menciptakan conditioning. Otak anak belajar mengasosiasikan telepon dari orang tua dengan teguran, tekanan, atau kabar buruk. Akibatnya, setiap panggilan memicu respons stres otomatis.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Aries dan Taurus Besok Minggu 22 Februari 2026: Finansial, Hoki, Karier, Kesehatan, Mobilitas, Cinta, dan Mental

2. Menggunakan Nada Khawatir Berlebihan


Niatnya peduli. Namun kalimat seperti:

“Kamu benar-benar bisa mengurus hidupmu?”

“Mama takut kamu salah langkah.”

Jika dilakukan terus-menerus, ini menyampaikan pesan tersirat: “Kamu tidak cukup mampu.”

Dalam teori self-efficacy dari Albert Bandura, keyakinan terhadap kemampuan diri sangat dipengaruhi oleh umpan balik dari figur penting. Keraguan terus-menerus bisa menurunkan rasa percaya diri anak dewasa.

3. Menuntut Laporan Rutin Seperti Interogasi


Pertanyaan wajar berubah menjadi pemeriksaan:

Baca Juga: Ramalan Shio Besok Minggu 22 Februari 2026: Naga, Ular, Kuda, Kambing

Gaji berapa?

Tabungan berapa?

Kenapa belum menikah?

Kenapa pindah kerja?

Ketika komunikasi terasa seperti audit kehidupan, anak dewasa merasa diawasi, bukan didukung. Telepon menjadi simbol evaluasi, bukan koneksi emosional.

4. Memberikan Nasihat Tanpa Diminta


Beberapa orang tua percaya tugas mereka adalah selalu memberi solusi. Padahal, kadang anak hanya ingin didengar.

Psikologi komunikasi menunjukkan bahwa empathic listening lebih menenangkan daripada problem-solving mode. Ketika setiap cerita langsung dibalas dengan nasihat, anak belajar bahwa perasaannya kurang valid.

5. Menggunakan Rasa Bersalah untuk Mengontrol


Kalimat seperti:

“Mama cuma punya kamu.”

“Kalau kamu jauh begini, mama merasa tidak berarti.”

Niatnya ingin dekat. Namun secara psikologis, ini membebani anak dengan tanggung jawab emosional orang tua. Pola ini sering disebut emotional enmeshment — batas emosional menjadi kabur.

Anak dewasa kemudian merasa bersalah setiap kali tidak mengangkat telepon.

6. Membandingkan dengan Orang Lain


“Anaknya Bu Ani sudah jadi manajer.”
“Sepupu kamu sudah punya rumah.”

Menurut teori perbandingan sosial dari Leon Festinger, manusia memang cenderung membandingkan diri. Tetapi jika perbandingan datang terus dari orang tua, ini memicu rasa tidak cukup dan kecemasan performa.

Akhirnya, telepon terasa seperti sesi evaluasi pencapaian.

7. Terlalu Cepat Panik Jika Tidak Diangkat


Contohnya:

5 missed calls dalam 10 menit

Diikuti pesan: “Kenapa tidak angkat? Kamu kenapa?”

Respons panik ini membuat anak merasa tidak punya ruang pribadi. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memicu pola keterikatan cemas (anxious attachment).

Setiap dering telepon menjadi tekanan untuk segera merespons, bukan pilihan yang nyaman.

8. Tidak Mengakui Perasaan Anak

Ketika anak mencoba menyampaikan:

“Aku capek.”

“Aku stres.”

Namun dijawab:

“Ah kamu terlalu sensitif.”

“Dulu mama lebih susah.”

Ini disebut emotional invalidation. Anak belajar bahwa berbicara dengan orang tua berarti harus siap disalahkan atau dibandingkan. Akibatnya, menghindari telepon terasa lebih aman secara emosional.

Mengapa Respons Takut Itu Bertahan Sampai Dewasa?

Menurut pendekatan terapi keluarga sistemik yang dikembangkan oleh Murray Bowen, pola relasi keluarga cenderung berulang lintas waktu. Jika komunikasi sejak kecil dipenuhi evaluasi, kontrol, atau tekanan, tubuh menyimpan memori emosional tersebut.

Ketika telepon berdering, reaksi bukan hanya terhadap panggilan saat ini, tetapi terhadap pola bertahun-tahun.

Bukan Soal Tidak Sayang

Penting untuk dipahami:
Sebagian besar orang tua melakukan ini karena cinta dan rasa tanggung jawab.

Namun cinta tanpa kesadaran bisa berubah menjadi kontrol. Kepedulian tanpa batas bisa terasa seperti tekanan.

Anak dewasa tidak takut pada orang tuanya — mereka takut pada:

Kritik

Rasa bersalah

Evaluasi

Kehilangan otonomi

Apa yang Bisa Dilakukan?

Untuk orang tua:

Latih mendengar tanpa langsung menilai.

Tanyakan: “Kamu ingin didengar atau diberi saran?”

Bangun komunikasi yang tidak selalu berfokus pada masalah.

Untuk anak dewasa:

Latih batasan sehat (healthy boundaries).

Respons tidak harus selalu instan.

Komunikasikan kebutuhan dengan tenang.

Jika seseorang merasa cemas setiap kali menerima telepon dari orang tua, itu bukan berarti ia anak yang durhaka. Bisa jadi itu adalah sinyal bahwa dinamika komunikasi perlu diperbaiki.

Hubungan yang sehat bukan tentang seberapa sering menelepon — tetapi seberapa aman perasaan yang muncul ketika telepon itu berdering.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore