Banyak pasangan merasa hubungan mereka “tiba-tiba” memburuk, padahal sebenarnya ada kebiasaan kecil yang terus berulang dan perlahan mengikis kedekatan.
Dalam psikologi hubungan, terutama penelitian dari John Gottman, ditemukan bahwa kehancuran hubungan jarang disebabkan oleh satu peristiwa besar, melainkan oleh pola negatif yang berulang.
Dilansir dari Geediting pada Selasa (17/2), terdapat delapan kebiasaan tidak sehat yang, jika terus dilakukan, dapat merusak hubungan secara perlahan namun pasti.
1. Terlalu Sering Mengkritik (Bukan Mengeluh)Mengeluh itu normal. Kritik yang menyerang karakter pasangan itu merusak.
Contoh:
Mengeluh: “Aku sedih karena kamu pulang terlambat tanpa kabar.”
Mengkritik: “Kamu memang egois dan nggak pernah peduli.”
Menurut teori “Four Horsemen” dari John Gottman, kritik adalah salah satu prediktor kuat perceraian. Kritik membuat pasangan merasa diserang secara pribadi, bukan diajak menyelesaikan masalah.
Dalam jangka panjang, pasangan akan:
Merasa tidak pernah cukup baik
Menjadi defensif
Menarik diri secara emosional
2. Sikap Meremehkan atau Menghina (Contempt)Ini adalah kebiasaan paling berbahaya.
Meremehkan bisa muncul dalam bentuk:
Sarkasme
Eye rolling
Nada sinis
Mengungkit kesalahan lama dengan nada mengejek
Secara psikologis, contempt menunjukkan perasaan superioritas terhadap pasangan. Ketika rasa hormat hilang, fondasi hubungan ikut runtuh. Penelitian menunjukkan bahwa pasangan yang sering menunjukkan penghinaan memiliki kemungkinan perpisahan jauh lebih tinggi dibanding konflik biasa.
3. Pasif-Agresif dan Tidak Jujur tentang PerasaanAlih-alih mengatakan, “Aku kecewa,” seseorang memilih:
Diam berhari-hari
Membalas dengan sindiran
Menghukum dengan sikap dingin
Dalam teori gaya keterikatan (attachment theory) yang dipopulerkan oleh John Bowlby, perilaku ini sering muncul pada individu dengan attachment tidak aman. Mereka takut konflik terbuka, tetapi juga tidak mampu mengelola kekecewaan secara sehat.
Akibatnya:
Masalah tidak pernah benar-benar selesai
Pasangan bingung apa yang salah
Jarak emosional semakin melebar
4. Menghindari Konflik Sama SekaliBanyak orang berpikir, “Kalau tidak bertengkar berarti hubungan baik-baik saja.”
Tidak selalu.
Menghindari konflik bisa berarti:
Takut ditolak
Takut ditinggalkan
Tidak nyaman dengan ketegangan
Padahal konflik yang sehat justru membantu pasangan memahami kebutuhan satu sama lain. Hubungan tanpa konflik sering kali hanya penuh dengan emosi yang ditekan. Dan emosi yang ditekan cenderung meledak di kemudian hari.
5. Terlalu Bergantung Secara Emosional (Emotional Dependency)Hubungan bukan tempat untuk menggantikan seluruh sistem dukungan hidup seseorang.
Ciri ketergantungan emosional:
Merasa tidak bisa bahagia tanpa pasangan
Cemburu berlebihan
Takut berlebihan ditinggalkan
Kehilangan identitas diri
Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan anxious attachment. Ketika satu pihak merasa pasangannya adalah satu-satunya sumber validasi, tekanan dalam hubungan menjadi sangat besar. Pasangan bisa merasa “tercekik”.
Hubungan sehat membutuhkan dua individu utuh, bukan dua orang yang saling menggantungkan eksistensi.
6. Tidak Mau Bertanggung Jawab atas KesalahanKalimat seperti:
“Kamu sih yang bikin aku marah.”
“Kalau kamu nggak begitu, aku nggak akan bereaksi seperti itu.”
Ini disebut externalizing responsibility. Individu memindahkan tanggung jawab emosinya kepada pasangan.
Dalam psikologi hubungan, kemampuan mengakui kesalahan dan meminta maaf secara tulus adalah indikator kedewasaan emosional. Tanpa itu, konflik akan berulang dengan pola yang sama karena tidak ada refleksi diri.
7. Komunikasi yang DefensifDefensif berbeda dengan membela diri secara sehat.
Defensif berarti:
Langsung membantah tanpa mendengar
Mengalihkan kesalahan
Merasa selalu diserang
Menurut penelitian John Gottman, defensiveness adalah respons alami terhadap kritik, tetapi jika menjadi kebiasaan, ia menghalangi penyelesaian konflik.
Komunikasi defensif menciptakan pola:
Kritik → Defensif → Eskalasi → Luka emosional
Dan pola ini bisa menjadi lingkaran setan.
8. Mengabaikan Kebutuhan Emosional PasanganHubungan tidak hancur karena kurang cinta, tapi karena kurang respons.
Dalam studi tentang “emotional bids”, pasangan sering membuat “permintaan kecil” untuk koneksi, seperti:
“Lihat deh lucu banget.”
“Hari ini capek banget.”
Jika pasangan terus-menerus:
Mengabaikan
Menjawab singkat tanpa perhatian
Tidak menunjukkan empati
Maka secara bertahap kedekatan emosional menurun.
Respons kecil yang konsisten justru menjadi fondasi intimacy. Mengabaikannya sama seperti membiarkan tanaman tanpa disiram—tidak mati hari ini, tapi perlahan layu.
Mengapa Kebiasaan Ini Sulit Dihentikan?Karena sebagian besar berasal dari:
Pola masa kecil
Trauma relasional
Gaya keterikatan
Pola komunikasi yang dipelajari sejak dini
Tanpa kesadaran diri, seseorang bisa mengulang pola yang sama dari hubungan ke hubungan.
Psikologi menunjukkan bahwa perubahan tidak dimulai dari menyalahkan pasangan, melainkan dari refleksi diri:
“Pola apa yang terus aku ulang?”
Penutup: Hubungan Rusak karena Pola, Bukan PeristiwaTidak ada hubungan yang sempurna. Tetapi hubungan yang sehat adalah hubungan di mana kedua pihak bersedia:
Mendengar tanpa menyerang
Mengakui kesalahan
Mengelola emosi
Saling menghormati
Kebiasaan kecil yang diulang setiap hari bisa menjadi racun, atau justru menjadi nutrisi.
Pilihan ada pada pola yang kita rawat.
Jika kamu mau, saya bisa lanjutkan dengan versi yang lebih mendalam dan analitis (dengan referensi teori tambahan), atau versi yang lebih reflektif dan emosional untuk pembaca umum.