Logo JawaPos
Author avatar - Image
20 Februari 2026, 17.43 WIB

8 Hal yang Dilakukan Orang yang Menua dengan Anggun Berbeda dari Mereka yang Menolaknya Menurut Psikologi

seseorang yang menua dengan anggun./ Freepik/shurkin_son

 
JawaPos.com - Menua adalah proses alami yang tidak bisa dihindari. Namun, cara seseorang menyikapinya sangat menentukan kualitas hidup di tahap selanjutnya. 
 
Dalam psikologi perkembangan, terutama teori dari Erik Erikson, fase kehidupan dewasa akhir berkaitan dengan konflik antara integrity vs despair—antara penerimaan penuh makna hidup atau penyesalan mendalam.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (17/2), orang yang menua dengan anggun tidak selalu lebih kaya, lebih sehat, atau lebih beruntung. Mereka hanya memiliki pola pikir dan kebiasaan yang berbeda dibanding mereka yang terus menolak kenyataan bertambahnya usia. Berikut delapan perbedaan utamanya.

1. Mereka Menerima Perubahan, Bukan Melawannya


Secara psikologis, penerimaan adalah bentuk kematangan emosi. Individu yang menua dengan anggun memahami bahwa perubahan fisik—keriput, rambut memutih, energi yang berkurang—adalah bagian dari siklus hidup.

Sebaliknya, mereka yang menolak penuaan sering terjebak dalam penyangkalan ekstrem. Mereka mengukur nilai diri hanya dari penampilan fisik dan berusaha mempertahankan citra masa muda secara obsesif.

Menurut pendekatan self-acceptance dalam psikologi humanistik yang dipopulerkan oleh Carl Rogers, penerimaan diri adalah fondasi kesehatan mental.

2. Mereka Menggeser Fokus dari Penampilan ke Makna


Seiring bertambahnya usia, orang yang menua dengan anggun lebih fokus pada kontribusi, hubungan, dan makna hidup dibanding sekadar citra diri.

Konsep generativity dalam teori perkembangan Erik Erikson menjelaskan bahwa individu dewasa yang sehat secara psikologis terdorong untuk membimbing generasi berikutnya, bukan bersaing dengan mereka.

Sebaliknya, orang yang menolak penuaan sering merasa terancam oleh generasi muda dan membandingkan diri secara tidak sehat.

3. Mereka Merawat Tubuh karena Menghargainya, Bukan Takut Kehilangan


Orang yang menua dengan anggun tetap berolahraga, menjaga pola makan, dan memperhatikan kesehatan. Namun motivasinya berbeda: bukan demi terlihat muda, tetapi agar tetap berfungsi optimal.

Psikologi motivasi membedakan antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Dalam kerangka Self-Determination Theory yang dikembangkan oleh Edward Deci dan Richard Ryan, motivasi intrinsik (karena nilai pribadi) jauh lebih berkelanjutan dibanding motivasi berbasis ketakutan atau tekanan sosial.

4. Mereka Fleksibel Secara Mental


Fleksibilitas kognitif adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan. Orang yang menua dengan anggun tidak terpaku pada “zaman saya dulu lebih baik.” Mereka terbuka terhadap teknologi, ide baru, dan perubahan sosial.

Sebaliknya, penolakan terhadap penuaan sering disertai sikap kaku dan nostalgia berlebihan, yang justru mempersempit pengalaman hidup.

5. Mereka Memelihara Hubungan yang Bermakna


Penelitian panjang tentang kebahagiaan dari Harvard University menunjukkan bahwa kualitas hubungan adalah prediktor utama kebahagiaan jangka panjang.

Orang yang menua dengan anggun berinvestasi pada hubungan yang tulus—keluarga, sahabat, komunitas. Mereka memahami bahwa koneksi emosional lebih penting daripada status sosial.

Sebaliknya, mereka yang menolak penuaan sering mengisolasi diri karena merasa malu dengan perubahan usia atau merasa tidak lagi relevan.

6. Mereka Berdamai dengan Masa Lalu


Menurut teori tahap akhir kehidupan dari Erik Erikson, individu yang sehat mencapai ego integrity—perasaan bahwa hidupnya memiliki arti, meski tidak sempurna.

Orang yang menua dengan anggun mampu berkata, “Saya telah hidup, belajar, dan bertumbuh.” Mereka menerima kesalahan sebagai bagian dari perjalanan.

Sebaliknya, penolakan terhadap penuaan sering berkaitan dengan penyesalan yang belum terselesaikan dan rasa takut menghadapi keterbatasan waktu.

7. Mereka Mengembangkan Identitas yang Lebih Dalam dari Sekadar Peran


Ketika karier berakhir atau anak-anak dewasa dan mandiri, banyak orang mengalami krisis identitas. Mereka yang menua dengan anggun sudah membangun identitas yang tidak semata-mata bergantung pada jabatan, penampilan, atau produktivitas.

Psikologi eksistensial, yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Viktor Frankl, menekankan pentingnya menemukan makna di setiap fase kehidupan—bahkan dalam kehilangan dan perubahan.

8. Mereka Mengembangkan Kebijaksanaan, Bukan Kepahitan


Kebijaksanaan bukan sekadar pengetahuan, tetapi kemampuan melihat kehidupan secara luas dan penuh empati. Orang yang menua dengan anggun cenderung lebih sabar, lebih reflektif, dan lebih toleran terhadap perbedaan.

Sebaliknya, penolakan terhadap penuaan sering muncul dalam bentuk sinisme, kritik berlebihan terhadap generasi muda, atau kemarahan terhadap perubahan.

Dalam psikologi positif, kebijaksanaan dianggap sebagai salah satu kekuatan karakter utama yang berkembang melalui pengalaman hidup dan refleksi mendalam.

Penutup


Menua dengan anggun bukan tentang terlihat muda selamanya. Ini tentang bertumbuh secara emosional, menerima perubahan, dan menemukan makna baru di setiap tahap kehidupan.

Menurut psikologi, perbedaan utama bukan terletak pada usia itu sendiri, melainkan pada cara kita memaknai perjalanan hidup. Pada akhirnya, yang membuat seseorang tampak “bersinar” di usia lanjut bukan kulit yang kencang, tetapi hati yang lapang dan pikiran yang bijaksana.

Jika Anda mau, saya bisa ubah artikel ini menjadi versi yang lebih reflektif, lebih ilmiah dengan referensi penelitian, atau lebih populer seperti untuk blog media online.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore