Logo JawaPos
Author avatar - Image
21 Februari 2026, 14.50 WIB

Orang yang Menua dengan Bermartabat, Biasanya Memahami 8 Hal yang Ditentang Kebanyakan Orang Sepanjang Hidup Menurut Psikologi

seseorang yang menua dengan bermartabat./Freepik/maophotostocker

JawaPos.com - Menua bukan sekadar proses biologis—ia adalah perjalanan psikologis yang dalam.

Sebagian orang memasuki usia senja dengan pahit, penuh penyesalan, dan ketakutan. Namun ada pula yang menua dengan tenang, berwibawa, dan bermartabat.

Menurut teori perkembangan dari Erik Erikson, tahap akhir kehidupan manusia diwarnai oleh krisis integrity vs despair—integritas versus keputusasaan.

Mereka yang mencapai integritas mampu menerima hidupnya apa adanya, dengan segala kegagalan dan keberhasilan.

Baca Juga: 7 Keterampilan yang Dulu Universal, Kini Terasa Seperti Keahlian Khusus, Apa Sajakah Itu?

Dilansir dari Geediting pada Rabu (18/2), orang-orang yang menua dengan bermartabat biasanya memahami beberapa kebenaran psikologis yang sering kali justru ditentang atau dihindari kebanyakan orang sepanjang hidup mereka.

Berikut delapan hal tersebut.

1. Tidak Semua Orang Akan Menyukai Anda — dan Itu Tidak Masalah


Sejak muda, banyak orang berusaha keras untuk disukai. Mereka menyesuaikan diri, menyenangkan semua pihak, bahkan mengorbankan prinsip pribadi.

Namun psikologi menunjukkan bahwa kebutuhan akan penerimaan sosial yang berlebihan sering berakar pada ketidakamanan diri.

Konsep self-acceptance dalam psikologi humanistik yang dipopulerkan oleh Carl Rogers menekankan bahwa penerimaan diri adalah fondasi kesehatan mental.

Baca Juga: Ramadhan 2026: 5 Tips Sahur agar Tidak Haus dan Segar Selama Puasa

Orang yang menua dengan bermartabat memahami bahwa tidak mungkin menyenangkan semua orang. Mereka memilih keaslian dibanding popularitas.

2. Kegagalan Adalah Guru Terbaik


Banyak orang takut gagal. Mereka menghindari risiko, menunda impian, atau berhenti mencoba.

Namun penelitian tentang growth mindset oleh Carol Dweck menunjukkan bahwa individu yang memandang kegagalan sebagai kesempatan belajar cenderung berkembang lebih jauh.

Orang-orang yang menua dengan bijak melihat kegagalan sebagai bagian alami dari perjalanan. Mereka tidak malu pada kesalahan masa lalu—mereka belajar darinya.

Baca Juga: Orang yang Membaca Komentar tetapi Tidak Pernah Berkomentar di Media Sosial, Biasanya Mencari 6 Jenis Informasi Ini Menurut Psikologi

3. Kebahagiaan Tidak Bergantung pada Pencapaian Eksternal


Masyarakat sering menanamkan gagasan bahwa kebahagiaan datang dari uang, jabatan, atau status sosial.

Namun riset panjang dari Harvard Study of Adult Development menunjukkan bahwa faktor terbesar kebahagiaan jangka panjang adalah kualitas hubungan, bukan kekayaan atau ketenaran.

Orang yang menua dengan bermartabat memahami bahwa koneksi emosional jauh lebih berharga daripada pengakuan publik.

4. Emosi Tidak Perlu Ditekan, Tetapi Dipahami

Banyak budaya mengajarkan untuk menekan kesedihan, kemarahan, atau ketakutan. Padahal, psikologi modern menekankan pentingnya regulasi emosi, bukan represi.

Baca Juga: Seni Hidup Sepenuhnya: Latih Otak Anda dengan Latihan Harian untuk Ketenangan, Fokus, dan Tujuan

Konsep emotional intelligence yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman menegaskan bahwa kemampuan mengenali dan mengelola emosi berkontribusi besar terhadap keberhasilan hidup.

Orang yang menua dengan anggun tidak menyangkal perasaan mereka. Mereka memprosesnya dengan sadar.

5. Waktu Lebih Berharga daripada Uang


Sepanjang hidup, banyak orang menukar waktu dengan uang—sering tanpa batas. Mereka mengorbankan kesehatan dan relasi demi karier.

Teori Socioemotional Selectivity dari Laura Carstensen menjelaskan bahwa ketika seseorang menyadari waktu hidupnya terbatas, ia menjadi lebih selektif dalam memilih aktivitas dan hubungan yang bermakna.

Orang yang menua dengan bermartabat memahami hal ini lebih awal: waktu adalah sumber daya paling berharga.

6. Kontrol Itu Terbatas


Manusia cenderung ingin mengendalikan segalanya—hasil, orang lain, bahkan masa depan. Ketika kenyataan tak sesuai harapan, stres pun muncul.

Psikologi positif yang dipelopori oleh Martin Seligman membedakan antara hal-hal yang dapat kita kendalikan dan yang tidak. Menerima keterbatasan kontrol justru meningkatkan kesejahteraan.

Orang yang menua dengan damai tahu kapan harus berusaha dan kapan harus melepaskan.

7. Identitas Tidak Harus Terikat pada Peran


Banyak orang mengidentifikasi diri sepenuhnya dengan profesi atau status: “Saya adalah jabatan saya.”

Ketika pensiun atau kehilangan peran tersebut, mereka merasa kehilangan arah.

Konsep aktualisasi diri dalam hierarki kebutuhan Abraham Maslow menekankan bahwa nilai diri tidak hanya bergantung pada pencapaian eksternal, melainkan pada pertumbuhan batin.

Orang yang menua dengan bermartabat memahami bahwa mereka lebih dari sekadar pekerjaan atau gelar.

8. Hidup Tidak Harus Sempurna untuk Tetap Bermakna


Perfeksionisme sering dianggap sebagai standar tinggi yang positif. Namun dalam banyak kasus, ia justru melahirkan kecemasan dan ketidakpuasan kronis.

Pendekatan logotherapy dari Viktor Frankl menekankan bahwa makna dapat ditemukan bahkan dalam penderitaan.

Orang yang menua dengan bermartabat menerima ketidaksempurnaan hidup. Mereka tidak menunggu kondisi ideal untuk merasa cukup.

Penutup: Integritas sebagai Puncak Kedewasaan


Pada akhirnya, menua dengan bermartabat bukan soal bebas keriput atau tetap produktif secara ekonomi. Ia adalah tentang penerimaan, kedewasaan emosional, dan keberanian menghadapi kenyataan hidup tanpa ilusi.

Sebagaimana dijelaskan oleh Erik Erikson, mereka yang mencapai integritas melihat hidupnya sebagai satu kesatuan yang utuh—bukan daftar kesalahan.

Dan mungkin, itulah yang membedakan antara sekadar menjadi tua… dan menjadi tua dengan bermartabat.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore