Logo JawaPos
Author avatar - Image
22 Februari 2026, 01.40 WIB

8 Hal yang Dimiliki Bersama oleh Orang-Orang dalam Pernikahan yang Diam-Diam Tidak Bahagia Menurut Psikologi

seseorang yang diam-diam tidak bahagia dalam pernikahan


JawaPos.com - Pernikahan sering terlihat baik-baik saja dari luar. Foto keluarga tampak harmonis, komunikasi terlihat normal, dan tidak ada konflik besar yang terlihat. Namun menurut psikologi, banyak pasangan yang sebenarnya menyimpan ketidakbahagiaan secara diam-diam.

Mereka tetap menjalani rutinitas, tetap tinggal bersama, bahkan tetap menjalankan peran sebagai suami atau istri dengan baik. Tetapi secara emosional, ada jarak yang perlahan tumbuh.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (19/2), terdapat delapan hal yang sering dimiliki bersama oleh orang-orang yang berada dalam pernikahan yang diam-diam tidak bahagia, berdasarkan temuan dan konsep psikologi hubungan.

Baca Juga: Orang yang Selalu Datang 5 Menit Lebih Awal Menunjukkan 8 Ciri Kepribadian yang Memprediksi Kesuksesan Jangka Panjang Menurut Psikologi

1. Komunikasi yang Fungsional, Bukan Emosional


Pasangan yang tidak bahagia sering kali masih berkomunikasi — tetapi hanya sebatas kebutuhan praktis.

Percakapan mereka berkisar pada:

Anak

Keuangan

Jadwal

Tanggung jawab rumah tangga

Namun mereka jarang membicarakan:

Perasaan terdalam

Kekhawatiran pribadi

Mimpi atau harapan masa depan

Menurut teori keterikatan (attachment theory) yang dikembangkan oleh John Bowlby, manusia membutuhkan kedekatan emosional sebagai rasa aman. Ketika komunikasi emosional berhenti, hubungan terasa kosong meskipun secara teknis masih berjalan.

Baca Juga: Jika Anda Sudah Pensiun dan Setiap Hari Terasa Sama, Anda Kehilangan 9 Kebiasaan Kehidupan Kerja Ini Menurut Psikologi

2. Konflik yang Jarang — Tapi Bukan Karena Harmonis

Banyak orang berpikir sedikit konflik berarti hubungan sehat. Padahal, dalam beberapa kasus, minimnya konflik justru menandakan penghindaran.

Penelitian dari John Gottman menunjukkan bahwa bukan konflik yang merusak pernikahan, melainkan cara pasangan mengelola konflik tersebut. Dalam hubungan yang diam-diam tidak bahagia, salah satu atau kedua pihak memilih diam, mengalah terus-menerus, atau menarik diri demi menghindari pertengkaran.

Hasilnya? Masalah tidak pernah benar-benar selesai — hanya ditumpuk.

3. Kehilangan Rasa Ingin Tahu terhadap Pasangan

Di awal hubungan, pasangan biasanya penuh rasa ingin tahu:

Apa yang kamu pikirkan?

Apa yang kamu rasakan?

Apa yang kamu impikan?

Namun dalam pernikahan yang tidak bahagia secara tersembunyi, rasa ingin tahu ini memudar. Mereka merasa sudah “tahu semuanya”, padahal manusia terus berkembang.

Ketika pasangan berhenti mengenal satu sama lain secara aktif, hubungan menjadi stagnan.

4. Intimasi Emosional yang Menurun


Intimasi bukan hanya soal fisik. Intimasi emosional adalah kemampuan untuk merasa dilihat, dipahami, dan diterima.

Menurut teori kebutuhan manusia dari Abraham Maslow dalam hierarki kebutuhannya, kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki adalah kebutuhan dasar psikologis. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi dalam pernikahan, seseorang bisa merasa kesepian meskipun tidak sendirian.

Banyak orang dalam pernikahan yang tidak bahagia mengatakan kalimat seperti:

“Kami tinggal bersama, tapi rasanya seperti hidup sendiri.”

5. Lebih Nyaman Curhat ke Orang Lain


Salah satu tanda halus adalah ketika seseorang merasa lebih nyaman berbagi cerita dengan:

Teman

Rekan kerja

Saudara

Bahkan orang asing di internet

Alih-alih berbagi dengan pasangan.

Ini sering menjadi awal dari emotional distancing, bahkan kadang membuka pintu untuk kedekatan emosional di luar pernikahan.

Bukan berarti selalu berujung perselingkuhan, tetapi menunjukkan bahwa koneksi utama dalam hubungan sudah melemah.

6. Merasa Terjebak, Bukan Memilih

Orang-orang dalam pernikahan yang diam-diam tidak bahagia sering merasa mereka bertahan karena:

Anak

Tekanan sosial

Finansial

Takut memulai ulang

Menurut Leon Festinger dan teorinya tentang cognitive dissonance, ketika seseorang merasa tidak bahagia tetapi tetap bertahan, mereka sering menciptakan pembenaran internal untuk mengurangi ketidaknyamanan psikologis.

Contohnya:

“Semua pernikahan memang seperti ini.”

“Tidak ada yang benar-benar bahagia.”

Padahal dalam hati, mereka tahu ada yang hilang.

7. Minimnya Apresiasi dan Validasi


Dalam hubungan yang sehat, pasangan saling menghargai hal-hal kecil:

Mengucapkan terima kasih

Memberi pujian

Mengakui usaha pasangan

Dalam pernikahan yang tidak bahagia, apresiasi perlahan menghilang. Interaksi menjadi transaksional, bukan emosional.

Ketika validasi hilang, seseorang bisa merasa tidak terlihat dan tidak dihargai — yang dalam jangka panjang mengikis harga diri.

8. Fantasi tentang “Hidup yang Berbeda”


Banyak orang dalam kondisi ini sering membayangkan:

Bagaimana jika hidup sendiri?

Bagaimana jika bertemu orang lain?

Bagaimana jika memilih jalan berbeda?

Fantasi ini bukan selalu tentang orang ketiga. Kadang hanya tentang kebebasan emosional atau kedamaian batin.

Psikologi melihat ini sebagai sinyal unmet needs — kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.

Penutup: Tidak Semua yang Bertahan Itu Bahagia


Pernikahan yang tampak stabil belum tentu memuaskan secara emosional. Banyak pasangan bertahan bertahun-tahun dalam keadaan “cukup baik untuk berjalan, tapi tidak cukup sehat untuk berkembang.”

Namun penting dicatat:
Tidak bahagia bukan berarti tidak bisa diperbaiki.

Kesadaran adalah langkah pertama. Dengan komunikasi yang lebih terbuka, terapi pasangan, atau refleksi pribadi, banyak hubungan bisa diperbaiki sebelum jarak menjadi permanen.

Jika seseorang merasa pernikahannya masuk dalam salah satu tanda di atas, itu bukan vonis — melainkan undangan untuk memahami diri sendiri dan hubungan dengan lebih jujur.

Karena pada akhirnya, pernikahan yang sehat bukan hanya tentang bertahan — tetapi tentang merasa terhubung.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore