Logo JawaPos
Author avatar - Image
25 Februari 2026, 04.23 WIB

Orang yang Diam-Diam Tidak Bahagia dalam Pernikahannya, Menunjukkan 9 Perilaku Ini di Acara Keluarga Menurut Psikologi

seseorang yang diam-diam tidak bahagia dalam pernikahan./Freepik/The Yuri Arcurs Collection

JawaPos.com - Di acara keluarga—entah itu pernikahan sepupu, ulang tahun orang tua, atau momen hari raya—kita sering melihat pasangan tampil kompak dan harmonis.

Namun menurut psikologi, tidak semua kebersamaan yang terlihat hangat benar-benar mencerminkan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Ada orang-orang yang sebenarnya sedang menyimpan ketidakbahagiaan dalam pernikahannya, tetapi memilih untuk diam.

Mereka tidak ingin membuka konflik di depan umum. Mereka tidak ingin membuat orang tua khawatir. Mereka tidak ingin terlihat gagal.

Baca Juga: Cara Masak Sambal Goreng Tempe Kacang Panjang Hemat Hanya Rp10 Ribu: Menu Buka Puasa & Sahur Praktis

Menariknya, psikologi menunjukkan bahwa ketidakbahagiaan yang ditekan jarang bisa sepenuhnya disembunyikan.

Dalam konteks sosial seperti acara keluarga, ada pola perilaku tertentu yang cenderung muncul berulang.

Dilansir dari Geediting pada Minggu (22/2), terdapat 9 perilaku yang sering ditunjukkan oleh orang yang diam-diam tidak bahagia dalam pernikahannya.

1. Terlihat “Terlalu Baik” di Depan Orang Lain


Alih-alih terlihat dingin, beberapa orang justru tampil sangat romantis di depan keluarga—berpegangan tangan berlebihan, memuji pasangan secara tidak wajar, atau tertawa terlalu keras pada hal kecil.

Baca Juga: Produsen Makanan Instan Gandeng PMI Distribusikan Bantuan untuk Korban Bencana di Indonesia

Dalam psikologi, ini sering disebut sebagai bentuk overcompensation—usaha menutupi ketegangan internal dengan tampilan eksternal yang berlawanan.

Semakin besar jarak emosional di rumah, terkadang semakin besar pula usaha untuk terlihat sempurna di depan publik.

2. Menghindari Duduk atau Berinteraksi Lama dengan Pasangan


Di meja makan keluarga besar, mereka memilih duduk berjauhan. Saat berbincang, mereka lebih sering berbicara dengan saudara atau sepupu dibanding pasangan sendiri.

Bukan karena tidak sopan—melainkan karena percakapan pribadi terasa canggung, hambar, atau berisiko memicu konflik kecil yang tak ingin diperlihatkan di depan orang lain.

Baca Juga: Kerap Membersihkan Rumah Saat Stres? Biasanya Terkait dengan 7 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

3. Mudah Tersinggung pada Hal-Hal Kecil


Komentar sederhana seperti, “Kalian kapan punya anak?” atau “Kok sekarang jarang kelihatan mesra?” bisa langsung memicu perubahan ekspresi.

Menurut teori regulasi emosi, orang yang menyimpan ketidakpuasan jangka panjang memiliki toleransi stres sosial yang lebih rendah. Hal kecil terasa seperti serangan pribadi karena luka internal sudah ada sebelumnya.

4. Sering Bercanda Sarkastik tentang Pernikahan


Candaan seperti:

“Ya beginilah nasib orang menikah.”

“Rumah tangga itu ya… penuh drama.”

“Yang penting masih bertahan, kan?”

Sekilas terdengar ringan. Namun dalam psikologi komunikasi, humor sarkastik sering menjadi cara aman untuk mengekspresikan ketidakpuasan tanpa harus mengakuinya secara langsung.

5. Lebih Banyak Menghabiskan Waktu dengan Ponsel


Di tengah obrolan keluarga, mereka terlihat sibuk dengan layar. Scroll media sosial. Balas pesan. Bermain gim.

Secara psikologis, ini bisa menjadi bentuk emotional escape—menghindari interaksi yang terasa tidak nyaman atau melelahkan secara emosional.

6. Bahasa Tubuh yang Kaku atau Minim Sentuhan


Perhatikan bahasa tubuh:

Tidak ada sentuhan spontan.

Tidak ada kontak mata hangat.

Tubuh sedikit menjauh saat berdiri berdampingan.

Menurut penelitian tentang komunikasi nonverbal, keintiman emosional sangat tercermin dalam mikro-ekspresi dan jarak fisik. Ketika hubungan sedang renggang, tubuh sering “jujur” meski kata-kata berusaha terlihat normal.

7. Cepat Pulang atau Terlihat Tidak Betah


Orang yang tidak bahagia dalam pernikahan sering merasa lelah secara emosional. Acara keluarga yang seharusnya menyenangkan justru terasa seperti “panggung” yang harus dijalani.

Mereka mungkin:

Terlihat gelisah.

Berkali-kali melihat jam.

Mengusulkan pulang lebih awal tanpa alasan jelas.

Bukan karena tidak suka keluarga—melainkan karena energi mental sudah terkuras.

8. Menghindari Topik Tentang Masa Depan Bersama


Saat keluarga bertanya:

“Rencana beli rumah di mana?”

“Liburan keluarga kapan?”

“Ada rencana tambah anak?”

Jawaban yang muncul cenderung mengambang, mengganti topik, atau disertai tawa kaku.

Ketika seseorang tidak merasa aman atau yakin dalam hubungannya, membicarakan masa depan terasa seperti membicarakan sesuatu yang rapuh.

9. Ekspresi yang Berubah Saat Pasangan Tidak Melihat


Ini yang paling halus.

Saat pasangan berbicara pada orang lain, ekspresi mereka bisa berubah:

Senyum menghilang.

Tatapan kosong.

Napas panjang tak sadar.

Dalam psikologi mikro-ekspresi, perubahan sepersekian detik ini sering menjadi sinyal kelelahan emosional yang tidak terucap.

Kenapa Mereka Tidak Mengungkapkan Ketidakbahagiaan?


Banyak orang bertahan dalam diam karena:

Takut mengecewakan orang tua.

Takut stigma perceraian.

Masih berharap pasangan berubah.

Bergantung secara finansial atau emosional.

Takut dianggap gagal.

Budaya kolektivis—seperti di Indonesia—juga membuat citra keluarga harmonis sering lebih diutamakan dibanding kesejahteraan emosional pribadi.

Penting untuk Dipahami


Tidak semua perilaku di atas otomatis berarti seseorang tidak bahagia dalam pernikahannya. Kita tidak bisa mendiagnosis hubungan orang lain hanya dari satu acara keluarga.

Namun jika beberapa tanda muncul berulang dan konsisten, itu bisa menjadi sinyal bahwa ada kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.

Dan jika Anda merasa mengenali diri sendiri dalam daftar ini, itu bukan tanda kegagalan—itu tanda bahwa ada perasaan yang butuh diperhatikan.

Ketidakbahagiaan yang dipendam terlalu lama tidak akan hilang sendiri. Ia hanya berubah bentuk—menjadi jarak, menjadi dingin, menjadi kebiasaan.

Dan hubungan yang sehat bukan yang terlihat sempurna di depan orang lain, tetapi yang jujur dan aman di balik pintu rumah
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore