Logo JawaPos
Author avatar - Image
04 November 2025, 06.10 WIB

Pembuluh Darah Terasa Kembung di Leher Kanan? Kenali Jugular Vein Distention dan Cara Mengatasinya

Ilustrasi pembuluh darah yang terasa sakit (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi pembuluh darah yang terasa sakit (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Kembungnya pembuluh darah di sisi kanan leher sering kali menjadi tanda dari gangguan jantung yang serius. Kondisi ini disebut Jugular Vein Distention (JVD), atau distensi vena jugularis, yang terjadi akibat meningkatnya tekanan pada pembuluh darah besar bernama vena cava superior. Meskipun tidak menimbulkan rasa sakit, JVD bisa menjadi sinyal adanya gagal jantung atau masalah kardiovaskular lain yang perlu segera mendapat perhatian medis.

Dalam tubuh manusia terdapat tiga jenis vena jugularis, yaitu vena jugularis eksternal, internal, dan anterior. Masing-masing sisi leher memiliki satu dari tiap jenis tersebut. Fungsi utama vena jugularis adalah mengalirkan darah dari kepala menuju vena cava superior, lalu ke jantung dan paru-paru untuk mendapatkan oksigen.

Dokter biasanya menilai tekanan darah dari kepala ke jantung dengan mengukur central venous pressure (CVP). Ketika tekanan dalam vena cava meningkat, vena jugularis eksternal dapat menonjol keluar, terutama di sisi kanan leher, sehingga tampak seperti tali yang menonjol di bawah kulit. Peningkatan volume darah dan CVP yang tinggi menjadi tanda utama adanya gagal jantung, meski distensi ini juga bisa muncul akibat penyumbatan atau gangguan lain.

Penyebab Terjadinya JVD

Ada beberapa kondisi medis yang dapat menyebabkan tekanan tinggi pada vena jugularis. Salah satunya adalah gagal jantung sisi kanan, di mana bilik kanan jantung tidak mampu memompa darah secara efektif ke paru-paru. Kelemahan ini biasanya terjadi akibat gagal jantung sisi kiri, yang menyebabkan penumpukan darah di paru-paru dan memberi tekanan tambahan pada bilik kanan.

Melansir dari Medical News Today, kondisi lain yang dapat memicu JVD adalah hipertensi pulmoner, yakni meningkatnya tekanan pada pembuluh darah paru-paru. Dinding pembuluh menjadi tebal dan kaku sehingga menghambat aliran darah dan memperberat kerja jantung. Akibatnya, tekanan dalam vena cava meningkat dan memicu pembengkakan vena di leher.

Selain itu, stenosis katup trikuspid (penyempitan katup yang memisahkan serambi kanan dan bilik kanan jantung) dapat menyebabkan aliran darah tersendat dan menumpuk di vena. Penyakit ini sering kali disebabkan oleh infeksi seperti endokarditis atau demam rematik.

Penyumbatan pada vena cava superior juga bisa menyebabkan darah sulit kembali ke jantung. Hal ini dapat terjadi karena adanya tumor di dada atau gumpalan darah, yang dikenal sebagai sindrom SVC. Penderitanya biasanya mengalami batuk, sesak napas, bengkak pada wajah, serta pusing.

Perikarditis konstriktif dan tamponade jantung merupakan penyebab serius lain. Pada perikarditis, selaput yang melapisi jantung kehilangan elastisitasnya sehingga menghambat aliran darah ke dalam ruang jantung. Sedangkan pada tamponade, cairan berlebih menumpuk di sekitar jantung, menekan organ tersebut dan mencegah pengisian darah secara normal.

Gejala yang Menyertai Distensi Vena Jugularis

Selain pembengkakan vena di leher, gejala JVD biasanya disertai tanda-tanda lain yang bergantung pada penyebab dasarnya. Pada gagal jantung, gejala yang umum meliputi sesak napas, nyeri dada, kelelahan, detak jantung tidak teratur, kehilangan nafsu makan, serta batuk berdahak darah.

Bila penyebabnya adalah hipertensi pulmoner, penderita mungkin merasakan nyeri dada, pembengkakan pada kaki, serta kelelahan berat. Pada stenosis katup trikuspid, gejalanya berupa pembengkakan kaki, rasa dingin di ekstremitas, dan sensasi berdebar di dada. Sedangkan pada tamponade jantung, penderita dapat mengalami pusing, tekanan darah rendah, dan sesak napas berat.

Gejala seperti nyeri dada dan kesulitan bernapas harus segera mendapat perhatian medis karena bisa menjadi tanda serangan jantung atau kondisi yang mengancam jiwa lainnya.

Faktor Risiko Terjadinya JVD

Meskipun dapat menyerang siapa saja, risiko JVD meningkat pada orang yang memiliki tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, diabetes, obesitas, serta kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol berlebih. Pola makan tinggi garam, lemak, dan kolesterol serta kurangnya aktivitas fisik juga dapat memperburuk risiko gangguan jantung yang menyebabkan JVD.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore