Logo JawaPos
Author avatar - Image
04 November 2025, 12.10 WIB

Cegah Kematian karena Syok, Pahami Lagi 3 Fase Penting Demam Berdarah Dengue pada Anak

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman di Indonesia. - Image

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman di Indonesia.

JawaPos.com – Demam Berdarah Dengue (DBD) memang masih menjadi penyakit yang menghantui Indonesia. Khususnya ketika memasuki musim hujan yang dapat memperluas penularan penyakit seperti dengue karena cepatnya perkembangbiakan nyamuk.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Indonesia masih menyumbang sekitar 66 persen kematian akibat dengue di Asia tahun lalu. Sekaligus menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus tertinggi di kawasan Asia pada 2024.

Jika dilihat tren kasus dalam beberapa tahun terakhir, kasus Dengue di Indonesia juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada 2023, demam dengue terda[at 114.720 kasus. Lalu melonjak menjadi 257.271 kasus pada 2024. Situasi sampai 28 Oktober 2025, telah dilaporkan 131.393 kasus dan 544 kematian. Tak terkecuali pada anak-anak.

Bahkan, anak-anak termasuk dalam kelompok paling rentan terinfeksi dengue dengan risiko tinggi yang bisa berdampak pada kematian. Dipaparkan Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K), Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pada 2024, sekitar 43 pesen kasus dengue terjadi pada golongan usia kurang dari 14 tahun. Dengan proporsi kematian terbesar yaitu 53 persen terjadi pada golongan usia 5-14 tahun.

“Penyebab kematian tersering adalah syok atau renjatan yang terjadi pada hari ke 4-5 demam,” ujar Prof Hartono dalam acara media briefing bertajuk Urgensi dan Kepemimpinan Indonesia dalam Perjuangan Melawan Dengue baru-baru ini di Jakarta.

Untuk itu, sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui dan memahami pencegahan hingga fase kritis demam berdarah dengue itu seperti apa. Terlebih sampai saat ini masih belum ada obat khusus untuk menyembuhkan anak atau pasien dari infeksi dengue.

“Pencegahan, diagnosis  dini dan intervensi segera tepat waktu sangat penting dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas DBD,” tukasnya.

Para pembicara dalam acara media briefing bertajuk Urgensi dan Kepemimpinan Indonesia dalam Perjuangan Melawan Dengue baru-baru ini di Jakarta. (IST)

Lantas bagaimana pencegahannya? Pastinya tetap menjaga kebersihan lingkungan dan menjalankan program 3M plus terutama di musim hujan penting untuk mengurangi populasi nyamuk. Lalu, penting untuk imunisasi bagi anak-anak yang memenuhi syarat mulai usia empat tahun, memberikan perlindungan terhadap virus dengue.

Jika anak telah menderita demam, Prof. Hartono menekankan,  orang tua memiliki peran sentral dalam membawa anak berobat segera. Sebab, keterlambatan diagnosis dan intervensi berperan dalam terjadinya DBD yang berat.

3 Fase DBD

Diungkapkan Prof Hartono, DBD memiliki tiga fase penting dalam perjalanannya. Pertama yakni Fase demam, di mana biasanya terjadi pada 1-3 hari pertama. Lalu fase kedua adalah fase kritis pada hari ke- 4 dan 5. Lalu fase ketiga pad hari ke-6-7 adalah fase penyembuhan.

Dirinya mengingatkan kembali, apabila demam turun pada hari 4-5 bukan berarti sembuh 100 persentapi perlu diwaspadai kemungkinan terjadinya syok. “Orang tua perlu berhati-hati dan waspada terhadap adanya syok dalam fase kritis. Bila anak tampak lemas, pucat, kaki tangan dingin, nyeri perut hebat perlu segera berobat ke fasyankes terdekat,” tukasnya.

Target Zero Dengue Deaths 2030

Data Kementerian Kesehatan di atas menunjukkan dengue merupakan ancaman yang terus meningkat di Indonesia. Mengingat kondisi cuaca saat ini, risiko penularan dengue berpotensi meningkat, dengan jumlah daerah endemis naik menjadi 471 pada 2025. Bahkan hampir semua kabupaten/kota telah melaporkan kasus, meski beberapa bersifat sporadis.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore