Logo JawaPos
Author avatar - Image
04 November 2025, 17.27 WIB

Powell Guncang Kripto: Investor Kabur dari Bitcoin ETF, Tapi Dana Rp 6,9 Triliun Mengalir ke Solana

Ketua The Fed, Jerome Powell. (Britannica) - Image

Ketua The Fed, Jerome Powell. (Britannica)

JawaPos.com – Pasar aset digital global kembali terguncang setelah Ketua The Federal Reserve Jerome Powell mengisyaratkan keraguan untuk segera menurunkan suku bunga. Akibat sentimen hawkish tersebut, produk investasi aset digital mencatat outflow sebesar USD 360 juta atau sekitar Rp 5,94 triliun dalam sepekan terakhir.

Dikutip dari BeInCrypto, Selasa (4/11), tekanan terbesar datang dari Bitcoin ETF, yang kehilangan USD 946 juta (Rp 15,6 triliun) hanya dalam tujuh hari. Sebaliknya, Solana (SOL) justru mencatat rekor aliran dana masuk hingga USD 421 juta (Rp 6,9 triliun), menjadikannya aset kripto paling diincar investor institusi pekan ini.

Dalam pidatonya pekan lalu, Powell menyebut bahwa pemangkasan suku bunga pada Desember belum tentu dilakukan, dengan alasan terlalu cepat melonggarkan kebijakan bisa menggagalkan penurunan inflasi.

“Kebijakan yang dilonggarkan terlalu dini dapat mengancam kemajuan terhadap inflasi, sementara keterlambatan bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi,” ujar Powell.

Pernyataan tersebut langsung mengguncang ekspektasi pasar yang sebelumnya menanti pelonggaran moneter lebih cepat. Investor pun bereaksi dengan menarik dana dari aset berisiko, termasuk produk investasi kripto berbasis ETF.

Data dari CoinShares menunjukkan, Amerika Serikat mencatat outflow terbesar senilai USD 439 juta (Rp 7,25 triliun). Sebaliknya, pasar Eropa justru mencatat arus masuk moderat, dengan Jerman menerima USD 32 juta (Rp 528 miliar) dan Swiss USD 30,8 juta (Rp 508 miliar).

Kondisi ini menunjukkan bahwa meski investor Amerika masih berhati-hati, kepercayaan terhadap aset kripto tetap tinggi di wilayah lain yang memiliki kebijakan moneter lebih stabil.

Bitcoin menjadi aset paling terdampak dari tekanan kebijakan tersebut. Total outflow mingguan BTC mencapai USD 946 juta, menandai penarikan terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Sebaliknya, Solana (SOL) justru menjadi bintang minggu ini. Aset ini menarik minat investor institusional setelah peluncuran ETF Solana di Amerika Serikat, termasuk produk Bitwise BSOL yang mencatat inflow USD 200 juta (Rp 3,3 triliun) hanya dalam empat hari pertama perdagangan.

Selain itu, peluncuran produk Grayscale GSOL di NYSE Arca pada 29 Oktober juga memperluas akses investor terhadap Solana dengan menawarkan paparan langsung terhadap staking reward, sesuatu yang tidak dimiliki produk ETF Bitcoin konvensional.

“Permintaan terhadap Solana meningkat karena kombinasi antara imbal hasil staking dan biaya transaksi rendah. Investor melihat SOL sebagai alternatif yang lebih efisien dibanding BTC,” tulis laporan CoinShares.

Sementara itu, Ethereum (ETH) masih mencatat inflow positif sebesar USD 57,6 juta (Rp 951 miliar). Namun, dibandingkan Solana, permintaan terhadap ETH relatif datar, seiring investor menunggu konfirmasi kenaikan harga yang lebih kuat di atas level USD 4.200.

Aset lain seperti XRP (USD 43,2 juta), Sui (USD 9,4 juta), dan Litecoin (USD 1,5 juta) juga mencatat aliran masuk kecil. Namun, dominasi Solana di minggu ini memperlihatkan pergeseran minat institusional dari aset mapan ke jaringan blockchain yang menawarkan utilitas dan efisiensi transaksi lebih tinggi.

Secara keseluruhan, total dana kelolaan (AUM) produk aset digital mencapai USD 227 miliar (Rp 3.745 triliun). Meski terjadi penurunan di Bitcoin, total YTD inflow masih mencapai USD 48,9 miliar (Rp 807 triliun).

Analis menilai tren minggu ini mencerminkan rotasi aset di kalangan investor institusi: menjauh dari Bitcoin yang lebih dipengaruhi kebijakan makro, dan mengarah ke proyek seperti Solana yang memiliki utilitas tinggi di sektor DeFi dan tokenisasi aset.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore