Logo JawaPos
Author avatar - Image
16 Oktober 2025, 01.34 WIB

Jika Anda Tidak Ingin Ditandai Sebagai “Boomer” di Facebook, Hilangkan 8 Kebiasaan Ini Menurut Psikologi

seseorang yang tidak ingin ditandai sebagai boomer di facebook (Freepik/seventyfour) - Image

seseorang yang tidak ingin ditandai sebagai boomer di facebook (Freepik/seventyfour)


JawaPos.com - Media sosial adalah panggung besar tempat berbagai generasi mengekspresikan diri. 
 
Namun, di antara meme, komentar, dan unggahan nostalgia, sering muncul istilah yang kini jadi semacam “cap sosial”: boomer behavior. 
 
Istilah ini bukan sekadar menunjuk usia, tetapi lebih pada pola perilaku yang terlihat “ketinggalan zaman”, berlebihan, atau tidak selaras dengan dinamika digital modern.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (14/10), menurut psikologi komunikasi dan sosial, perilaku seperti itu sering muncul karena kebiasaan lama yang tak disadari, rasa ingin diterima, atau dorongan nostalgia yang berlebihan. 
 
Nah, jika Anda ingin tetap tampil relevan dan tidak dicap boomer oleh generasi muda di dunia maya—khususnya di Facebook—mari lihat delapan kebiasaan yang sebaiknya mulai dihindari.

1. Terlalu Sering “Curhat Publik” Tentang Masalah Pribadi

Psikologi menyebut ini sebagai bentuk emotional oversharing—yakni keinginan untuk mendapat validasi emosional melalui perhatian publik. 
 
Mungkin Anda ingin sekadar berbagi perasaan, tapi bagi pengguna modern, curhatan terbuka soal konflik keluarga, kesehatan, atau pekerjaan terasa terlalu pribadi.

Solusinya: simpan topik sensitif untuk lingkaran dekat atau pesan pribadi. 
 
Gunakan status publik untuk hal yang lebih inspiratif atau ringan.

2. Menulis Status Panjang Penuh Petuah


Generasi sebelumnya terbiasa menasihati, tapi di era digital, format komunikasi berubah: ringkas, visual, dan kontekstual. 
 
Status panjang berisi wejangan hidup sering dipersepsikan sebagai “kuliah umum” yang membosankan.

Menurut psikologi sosial, kebiasaan memberi nasihat tanpa diminta memicu psychological reactance—respon resistensi dari audiens yang merasa “diceramahi”.

Cobalah ubah gaya: sampaikan pesan bijak lewat cerita pendek, humor, atau kutipan ringan.

3. Menulis Semua Huruf Kapital


“HARI INI SUNGGUH LUAR BIASA!!!” — dalam psikologi komunikasi, tulisan dengan huruf kapital penuh diartikan sebagai shouting alias berteriak. 
 
Ini memberi kesan agresif dan tidak sopan.

Gunakan kapital secukupnya untuk penekanan, bukan keseluruhan kalimat. 
 
Netizen akan lebih nyaman membaca nada yang tenang dan ramah.

4. Membagikan Hoaks atau Info Tanpa Verifikasi


Salah satu tanda paling klasik dari perilaku “boomer online” adalah oversharing berita yang belum jelas sumbernya. 
 
Dari sisi psikologi kognitif, hal ini terjadi karena confirmation bias—kecenderungan mempercayai informasi yang sesuai dengan pandangan pribadi.

Sebelum klik “Bagikan”, cek kebenarannya. 
 
Generasi muda sangat sensitif terhadap fake news, dan kepercayaan digital dibangun dari kredibilitas.

5. Mengomentari Semua Postingan dengan “Aamiin” atau “Cantik Sekali Nak!”


Respons seperti ini sebenarnya bentuk kasih sayang atau sopan santun yang tulus. 
 
Namun di ruang digital, konteks menjadi penting. 
 
Komentar terlalu sering atau tidak relevan dapat dianggap sebagai “noise sosial”.

Psikolog sosial menyebut ini social over-engagement—terlalu ingin terlibat sampai melampaui batas konteks.

Berikan komentar yang relevan atau cukup dengan reaction emoji bila tak perlu tanggapan panjang.

6. Mengunggah Foto Random dengan Caption Tidak Terkait


Foto makanan disertai caption “Nikmati hidup selagi bisa, waktu takkan kembali”—klasik. Tapi algoritma dan budaya digital kini menghargai kejelasan pesan. 
 
Orang ingin tahu apa makna unggahan Anda, bukan sekadar isi hatinya.

Padukan visual dan narasi yang selaras. 
 
Ini bukan soal gaya muda, tapi tentang clarity and coherence dalam komunikasi digital.

7. Tag Semua Orang di Setiap Postingan


Kebiasaan ini dulu dianggap sopan—sebagai tanda perhatian. 
 
Tapi kini, psikologi media menyebutnya sebagai bentuk attention hijacking, yaitu memaksa orang lain ikut terlibat tanpa izin.

Tag hanya orang yang benar-benar relevan dengan isi unggahan. 
 
Bila ingin menyapa banyak teman, gunakan fitur mention di komentar atau grup.

8. Nostalgia Berlebihan Tentang “Zaman Dulu Lebih Baik”


Psikologi nostalgia mengakui bahwa mengingat masa lalu dapat menenangkan emosi.
 
Tapi jika terlalu sering, hal itu memberi kesan resistance to change—penolakan terhadap perkembangan zaman.

Nikmati kenangan, tapi seimbangkan dengan rasa ingin tahu terhadap hal baru. 
 
Menyukai masa lalu tidak harus berarti menolak masa kini.

Kesimpulan: Dewasa Secara Digital, Bukan Ketinggalan Zaman


Menjadi “boomer” di Facebook bukan tentang umur, tapi tentang mindset. 
 
Dunia digital menghargai keterbukaan, humor, dan kemampuan beradaptasi. 
 
Psikologi sosial menegaskan bahwa individu yang fleksibel secara kognitif dan emosional akan lebih mudah diterima di komunitas apa pun—termasuk dunia maya.

Jadi, sebelum menekan tombol “Posting”, tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini menambah nilai, menghibur, atau memberi makna bagi orang lain? 
 
Jika jawabannya “ya”, maka Anda bukan sekadar pengguna Facebook—Anda adalah komunikator digital yang matang.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore