Logo JawaPos
Author avatar - Image
21 November 2025, 01.39 WIB

Perjalanan Para Kreator dari Viral ke Panggung Nyata Bersama TA Pro

Dedi Mega yang berprofesi sebagai sopir truk di Kalimantan, kini menghiasi berbagai platform digital seperti YouTube, TikTok, dan Instagram dengan warna musik khas logat Jawanya yang kental (Istimewa) - Image

Dedi Mega yang berprofesi sebagai sopir truk di Kalimantan, kini menghiasi berbagai platform digital seperti YouTube, TikTok, dan Instagram dengan warna musik khas logat Jawanya yang kental (Istimewa)

JawaPos.com - Penyanyi viral dengan latar belakang unik meramaikan jagat musik digital Indonesia. Seperti Dedi Mega, Bu Guru Eni Mulyasari dan banyak kreator lainnya yang naik daun usai viral di media sosial seperti Youtube, TikTok, dan Instagram.

Pria yang berprofesi sebagai sopir truk di Kalimantan mewarnai belantika musik Indonesia lewat logat jawanya yang kental.

Nama Dedi melambung setelah videonya viral menyanyikan sejumlah lagu populer, seperti 'Stecu' dan 'Tia Monika' dengan logat jawa medoknya.

Sosoknya menjadi trending setelah diangkat Ta Pro Musik & Publishing, sebuah perusahaan label yang aktif mengangkat penyanyi dan musisi unik untuk diorbitkan, baik secara off air maupun digital. Namun, Dedi Mega hanyalah satu dari sekian banyak talenta yang diangkat label ini.

Bukan hanya Dedi, Ada pula Bu Guru Eni Mulyasari yang viral dengan lagu 'Jang'. Begitu juga dengan Bunda Dor Dor yang juga viral lewat lagu 'Waktu Ku Kecil'.

Ada juga Pak Slamet Pengamen melalui lagu 'Salahmu Sendiri' dan 'Tambal Ban', serta Kades Hoho (Kades Banjarnegara) yang melejit berkolaborasi dengan Lala Widi. Nama-nama ini tak hanya viral, tetapi juga kerap menguasai chart trending YouTube Musik Indonesia.

Direktur TA Pro, Tole Sutrisno menyampaikan komitmen labelnya memang terfokus pada pemberdayaan para musisi dan penyanyi kreatif dari akar rumput.

“Kami memang punya komitmen untuk membantu mereka yang kreatif, dan punya semangat untuk berkarya di dunia musik Indonesia,” ujar Tole dalam diskusi di sebuah kafe di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Kamis (20/11).

Lebih dari sekadar menjadikan mereka viral, Tole menekankan pentingnya keberlanjutan dan manfaat ekonomi bagi para kreator.

“Kami juga membantu mengangkat mereka, seperti Dedi, Pak Slamet, dan Bu Guru Eni, agar bisa menikmati keterlibatan mereka di dunia kreatif seni. Secara ekonomi mereka akan mendapatkan manfaatnya,” ucapnya.

Sebagai sebuah label, langkah TA Pro tidak terbatas pada mengorbitkan penyanyi.

Pihgaknya juga aktif membuka kesempatan bagi pelaku industri kreatif di daerah, mulai dari pencipta lagu (composer), Orkes Melayu (OM), hingga grup musik melalui berbagai kerja sama dan kolaborasi.

Tak hanya memproduksi lagu, TA Pro juga menyediakan wadah manajemen artis bagi penyanyi dan musisi yang ingin berkembang lebih serius.

Hingga saat ini, ratusan lagu produksi TA Pro telah menghiasi tangga lagu trending YouTube dan berbagai Digital Streaming Platform (DSP) lainnya.

Tole meyakini bahwa industri kreatif, termasuk musik, adalah sektor yang tangguh. “Industri kreatif itu tidak pernah terpapar krisis ekonomi, jadi menjadi peluang ekonomi yang cukup besar bagi para pelaku industri musik tanah air,” jelasnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore