DEFORESTASI: Ilustrasi penebangan pohon di hutan. (AI/DIMAS PRADIPTA/JAWAPOS.COM)
JawaPos.com - Akhir November 2025 menjadi petaka bagi jutaan warga Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Mereka tidak pernah menyangka hujan deras kala itu menjadi awal dari rangkaian bencana alam memporak-porandakan 3 provinsi yang dilintasi Pegunungan Bukit Barisan itu.
Pemerintah memang sudah mengungkap Siklon Tropis Senyar sebagai pemicu bencana alam yang merenggut lebih dari 1.178 korban meninggal dunia (data terakhir 6 Januari 2026). Namun, data-data dari aktivis lingkungan seperti Wahana Lingkungan Indonesia (WALHI) berkata lain.
Direktur Eksekutif WALHI Boy Jerry Even Sembiring menuturkan, bencana alam di Sumatera adalah bencana ekologis yang terjadi akibat praktik alih fungsi lahan, baik alih fungsi lahan secara legal maupun ilegal.
Jerry tidak menampik soal Siklon Tropis Senyar turut memberi andil. Namun, jauh sebelum badai tersebut terjadi, ada tangan-tangan yang terlibat dalam alih fungsi lahan. Tidak tanggung-tanggung, sejak 20 tahun lalu jutaan hektare hutan alam hilang dari tiga provinsi yang terdampak bencana.
Baca Juga: Jaksa Agung Lapor ke Prabowo: Alih Fungsi Lahan jadi Sebab Banjir dan Longsor di Sumatera
”Bencana ekologis yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mempunyai keterhubungan erat dengan praktik alih fungsi lahan, baik secara legal dan ilegal,” kata Jerry dalam wawancaranya dengan JawaPos.com pada Senin (5/1).
Dia merinci bahwa Sumut adalah provinsi yang kehilangan paling banyak hutan alam selama dua dekade terakhir. Dalam data WALHI, tidak kurang dari 1,7 juta hektare hutan alam di Sumut beralih fungsi. Angka itu merupakan akumulasi dari tahun ke tahun sejak 2001 silam.
”Aceh dalam 20 tahun terakhir kehilangan hampir 1 juta hektare hutan alamnya. Sumatera Barat kehilangan hampir 800 ribu hektare hutan alam,” ucap Jerry.
Tanpa ragu-ragu, dia menunjukkan data-data tersebut. Dalam tabel yang tersusun rapi, angka-angka itu berderet panjang. Melihat data tersebut, sekelebat potret hamparan kayu gelondongan di lokasi terdampak bencana alam di Sumatera melintas.
Tidak heran bila kayu gelondongan yang belum diketahui asal-usulnya itu meluncur dari wilayah hulu. Terbawa arus banjir bandang yang lebih sering disebut oleh orang Minang sebagai galodo. Ada yang bilang kerusakan 776 jembatan di 3 provinsi itu karena banjir bandang datang membawa gelondongan kayu berukuran raksasa.
Menurut Jerry, data alih fungsi lahan di Aceh, Sumut, dan Sumbar sedikit banyak menggambarkan betapa rusaknya wilayah hulu daerah terdampak bencana. Titik-titik yang seharusnya masih hutan alam, kini beralih fungsi menjadi berbagai tempat usaha. Keberadaan usaha-usaha itu dimulai dengan deforestasi.
”Mayoritas penyebab deforestasi adalah penerbitan izin sektor kehutanan, perkebunan, dan tambang,” ujarnya.
