Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 November 2025, 04.53 WIB

Gedung Baru Ponpes Al Khoziny Sidoarjo akan Dibangun di Lahan 4.100 m², Usai Tragedi Bangunan Roboh

Potret bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Kabupaten Sidoarjo. Bangunan baru ponpes tersebut akan dibangun di lahan seluas 4.100 meter persegi. (Novia Herawati/JawaPos.com) - Image

Potret bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Kabupaten Sidoarjo. Bangunan baru ponpes tersebut akan dibangun di lahan seluas 4.100 meter persegi. (Novia Herawati/JawaPos.com)

JawaPos.com - Usai tragedi yang merenggut puluhan nyawa santri pada Senin (29/9) lalu, gedung Pondok Pesantren Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo akan dibangun ulang dalam waktu dekat. 

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Dewi Chomistriana saat meninjau lahan yang direncanakan menjadi lokasi gedung baru Ponpes Al Khoziny, Kamis (13/11). 

"Sekarang ini kita sedang siapkan DED atau detail engineering design-nya, mudah-mudahan bisa segera disetujui dan di-approve. Harapannya mulai akhir tahun ini kita bisa laksanakan (pembangunan ulang)," tutur Dewi. 

Sebagai informasi, bangunan empat lantai di Pondok Pesantren Al Khoziny tiba-tiba ambruk pada Senin (29/10) sekitar pukul 15.35 WIB, saat para santri sedang menunaikan salat Asar berjamaah. 

Akibatnya, sebanyak 167 santri menjadi korban dalam tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny. Dari ratusan korban tersebut, 104 korban selamat dan 63 korban meninggal dunia.

Lokasi yang direncanakan berjarak sekitar 1,4 kilometer dari bangunan lama Ponpes Al Khoziny yang ambruk, tepatnya di Jalan Siwalanpanji II, Buduran, Sidoarjo, dan masih berupa lahan kosong.

"Total luas (lahannya) 4.100 meter persegi, sesuai dengan ketersediaan lahan yang disiapkan oleh yayasan. Jadi ini kami sedang berproses untuk menyelesaikan administrasi tanahnya," imbuhnya. 

Setelah disepakati detail engineering design, Dewi mengatakan Kementerian PU akan membangun tiang pancang sebagai pondasi. Penggunaannya akan menyesuaikan kondisi lahan yang merupakan bekas persawahan. 

“Jadi nanti tiang pancangnya harus seberapa dalam, karena ini kan (bekas) persawahan, ya. Kalau sawah biasanya lembek tanahnya, itu pasti kita butuh engineering tersendiri,” ucap Dewi.

Terkait pemilihan lokasi baru, Dewi mengatakan langkah tersebut dilakukan karena lokasi lama dinilai kurang memadai, terutama dari segi akses yang terbatas. Hal ini menyulitkan penanganan apabila terjadi keadaan darurat. 

"Kita bisa lihat di sana aksesnya sangat terbatas, alat berat sulit (masuk). Sementara di sini, kita lihat aksesnya mudah, dekat jalan raya, cukup lebar jalannya, jadi kami kira pemindahan ini jalan terbaik," pungkasnya. 

Editor: Bayu Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore