
Ilustrasi: Pemanfaatan teknologi AI untuk sektor kesehatan. (WhaTech)
JawaPos.com - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam beberapa tahun terakhir semakin mendorong transformasi di industri kesehatan, terutama pada aspek distribusi, manajemen inventori, dan pengelolaan data layanan.
Pemanfaatan AI tidak lagi terbatas pada diagnosis dan analisis medis, tetapi juga merambah ke rantai pasok obat yang menuntut kecepatan, ketepatan, serta pengawasan mutu secara berkelanjutan.
Di Indonesia, kebutuhan sistem distribusi yang lebih efisien dan transparan membuat berbagai pelaku industri mulai mengadopsi teknologi prediktif, pemantauan real-time, hingga otomatisasi rute pengiriman.
Salah satunya, PT Medela Potentia Tbk (MDLA) dan entitas anak memperluas penerapan teknologi digital dalam pengelolaan rantai pasok kesehatan dengan memanfaatkan data operasional yang diklaim telah dikumpulkan selama lebih dari dua dekade.
Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan akurasi perencanaan, efisiensi distribusi, serta kualitas layanan di jaringan apotek dan fasilitas kesehatan.
Information Technology Director MDLA, Cahyadi Suwindra Sugondo, menjelaskan bahwa perusahaan telah memulai digitalisasi sejak 2003. Sistem yang dibangun saat itu menghasilkan basis data besar yang kini diolah menggunakan analitik dan kecerdasan buatan (AI).
“Kami sudah menggunakan digital sejak 2003 dan datanya sangat banyak. Saat ini kami mencoba mengolah data tersebut dan mencari insight dengan teknologi seperti AI,” ujarnya baru-baru ini di Jakarta.
Digitalisasi diterapkan pada berbagai titik proses usaha. Pada layanan konsumen, perusahaan mengoperasikan platform GoApotik serta sistem GPOS B2B dan GPOS Lite untuk mendukung pemesanan produk secara digital dan meningkatkan akurasi pencatatan stok di apotek.
Di bagian pergudangan, MDLA mengimplementasikan Warehouse Management System (WMS), pemantauan suhu real-time, barcode system, dan integrasi inventori guna mempercepat pemenuhan permintaan.
Teknologi AI digunakan untuk pengadaan dan perencanaan distribusi melalui AI Optimizer Planning System, yang memprediksi kebutuhan stok berdasarkan pola permintaan. Pada tahap pengiriman, perusahaan memakai sistem AI-powered courier routing untuk menentukan rute distribusi secara otomatis.
Di sisi internal, aplikasi Infostep membantu tim komersial memantau stok dan histori transaksi dari perangkat mobile. Seluruh sistem terhubung dalam platform TI terintegrasi untuk mendukung proses distribusi yang lebih responsif.
HR & Sustainability Director MDLA, Nancy Kartika, menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi juga terkait dengan upaya menjaga kualitas layanan. “Pendekatan teknologi membantu meningkatkan konsistensi dan transparansi di seluruh proses,” katanya.
Inisiatif digital tersebut sebelumnya dievaluasi oleh dewan juri independen dalam ajang BeritaSatu Malam Apresiasi 2025, yang menilai pengembangan teknologi dan digitalisasi sepanjang 2024.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
