Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 November 2025, 13.20 WIB

Dampak Kecanduan Gadget pada Anak Bisa Sangat Fatal, dari Gangguan Motorik hingga Autisme

dr. Eko Teguh Budianto, ST.FT., M.K.M., Owner Klinik Smiley RS Atma Jay. (Tazkia Royyan/JawaPos.com) - Image

dr. Eko Teguh Budianto, ST.FT., M.K.M., Owner Klinik Smiley RS Atma Jay. (Tazkia Royyan/JawaPos.com)

JawaPos.com – Para ahli mengingatkan bahaya penggunaan gadget yang berlebihan pada anak karena dapat menghambat tumbuh kembang mereka, terutama dalam perkembangan motorik dan sosial-emosional. Kebiasaan anak bermain gadget tanpa pengawasan dinilai menjadi salah satu faktor meningkatnya gangguan perilaku, emosi, dan bahasa pada anak.

Menurut dr. Eko Teguh Budianto, ST.FT., M.K.M., Owner Klinik Smiley RS Atma Jaya, lingkungan menjadi faktor utama yang berperan besar terhadap tumbuh kembang anak saat ini.

“Saya nggak ngomong genetik nih sekarang, lingkungan. Lingkungan ini memegang peranan penting saat ini, salah satunya adalah handphone, visual sensorik,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (6/11).

dr. Eko menjelaskan, penggunaan gadget atau visual sensorik pada anak secara berlebihan menjadi aspek paling berisiko jika tidak diarahkan dengan benar. 

“Kalau anak dilepas begitu saja, ini membahayakan. Karena anak tidak akan berkembang secara motorik dan sensorik bahasanya. Mungkin secara visual dia berkembang, tapi motoriknya tertinggal,” paparnya.

Ia mencontohkan, banyak anak masa kini yang cerdas secara visual, namun kemampuan motoriknya lemah, misalnya tidak lincah saat berlari atau kesulitan melakukan koordinasi tubuh.

Lebih lanjut, dr. Eko menuturkan, gangguan pada perkembangan motorik dan sensorik dapat berujung pada masalah kesulitan belajar atau learning disability. 

“Kalau learning disability itu kesulitan belajar yang diakibatkan masalah patologis seperti autisme atau ADHD. Tapi ada juga problem learning, anaknya tidak bermasalah secara medis, namun konsep belajarnya sulit dipahami. Ini bisa disebabkan karena saat kecil motorik dan sensoriknya tidak berkembang dengan baik,” jelasnya.

Ketika sensorik dan motorik anak tidak terstimulasi dengan benar, proses sosialisasi dan kemampuan kognitif mereka pun ikut terhambat.

“Orang tua sering maunya langsung anaknya pintar, padahal kalau dasar motorik dan sensoriknya terganggu, perkembangan kognitifnya juga tidak bisa optimal,” ungkap dr. Eko.

Dalam kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik RS Atma Jaya, dr. Jane Meinheart, mengatakan bahwa setiap anak memiliki ritme perkembangan yang berbeda dan perlu didampingi dengan penuh perhatian.

“Setiap anak memiliki irama tumbuh kembang yang unik. Melalui Klinik Tumbuh Kembang ini, kami berupaya membantu orang tua memahami bahwa deteksi dan stimulasi dini bukan hanya soal terapi, tapi tentang memberi kesempatan bagi anak untuk menemukan potensinya sejak awal,” tuturnya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Anak, dr. Felincia Dewi menambahkan bahwa perkembangan anak tidak bisa hanya diukur dari tinggi dan berat badan.

“Tumbuh kembang anak tidak hanya diukur dari indikator fisik, tetapi juga dari cara mereka berinteraksi, berekspresi, dan belajar. Kehadiran klinik ini menjadi wujud nyata komitmen kami untuk mendampingi keluarga dalam setiap fase tumbuh kembang anak,” jelasnya.

Untuk diketahui, Klinik Tumbuh Kembang RS Atma Jaya hadir sebagai layanan terpadu bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus, seperti keterlambatan bicara, kesulitan belajar, gangguan sensorik, gangguan perilaku, dan kebutuhan terapi lainnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore