Logo JawaPos
Author avatar - Image
16 November 2025, 01.39 WIB

Anak Suka Marah Ketika Dikoreksi? Pelajari Teknik Ampuh Mengoreksi Anak Tanpa Melukai Hatinya

Ilustrasi Anak Marah Ketika Dikoreksi (peoplecreations/freepik)


JawaPos.com - Setiap anak memang membutuhkan koreksi, tetapi tidak semua cara koreksi menghasilkan dampak yang sama. Ada koreksi yang memperkuat karakter, dan ada pula koreksi yang melemahkan semangat.

Banyak orang tua tidak menyadari bahwa cara penyampaian dapat menentukan apakah anak menerima arahan atau justru menutup diri karena merasa terancam secara emosional.

Penelitian perkembangan anak menunjukkan bahwa koreksi bukan sekadar soal benar atau salah, melainkan soal rasa aman. Anak tidak menolak arahan karena mereka tidak ingin belajar, melainkan karena mereka takut kehilangan koneksi.

Baca Juga: 8 Pola Parenting yang Justru Buat Anak Menjauh dari Orang Tua, Simak Penjelasannya!

Reaksi menarik diri, menangis, atau membantah sering kali bukan bentuk perlawanan, melainkan bentuk perlindungan diri terhadap rasa malu atau takut.

Di sinilah peran Anda sebagai orang tua menjadi krusial. Ketika koreksi disampaikan dengan lembut dan terhubung secara emosional, anak akan merasa aman untuk belajar.

Artikel ini akan membahas lima langkah berdasar psikologi anak yang dapat membantu Anda mengoreksi tanpa mematahkan semangat, melainkan membangun kedekatan.

Teknik-teknik ini akan mengubah momen koreksi menjadi kesempatan memperkuat hubungan yang dirangkum dari kanal YouTube Parenting Hacks pada Sabtu (15/11).

Baca Juga: Hadapi Anak Tantrum dengan 5 Baterai Kasih Sayang versi Parenting Aisah Dahlan

1. Memahami Akar Masalah: Mengapa Anak Menolak Koreksi

Anak sering menolak koreksi bukan karena keras kepala, tetapi karena koreksi menyentuh rasa harga diri mereka. Menurut riset Dr. Daniel Siegel, otak anak memproses nada suara dan bahasa tubuh lebih cepat dibanding isi kalimat.

Karena itu, sebelum mereka mendengar pesan Anda, otak mereka lebih dulu bertanya: “Apakah saya aman? Apakah saya masih disayangi?” Ketika koreksi terasa seperti penolakan, otak anak langsung masuk mode bertahan.

Dalam mode bertahan, anak dapat menunjukkan reaksi seperti membantah, menarik diri, atau menangis. Ini bukan sikap melawan, tetapi respons biologis akibat tekanan emosi.

Memahami hal ini membantu Anda tidak lagi mengambil respons anak secara pribadi. Anda justru dapat lebih tenang dalam menentukan pendekatan yang tepat.

Setelah memahami akar masalahnya, Anda dapat melihat bahwa yang dibutuhkan anak bukanlah kekerasan nada, tetapi rasa aman.

Koreksi akan jauh lebih efektif ketika anak merasa bahwa jati dirinya tidak diserang dan bahwa Anda berada di pihaknya, bukan melawannya.

2. Membangun Koreksi yang Aman Secara Emosional

Koreksi yang aman secara emosional adalah koreksi yang memperbaiki perilaku tanpa menghancurkan martabat anak. Psikolog menyebut metode ini sebagai emotionally safe correction.

Intinya, bukan kata-kata Anda yang menyakiti anak, melainkan bagaimana Anda menyampaikannya. Nada yang tinggi, mimik marah, dan ekspresi kecewa sering kali mengirim sinyal ancaman bagi anak.

Ketika koreksi dilakukan dengan cara yang aman, anak cenderung tumbuh menjadi pribadi yang lebih resilien secara emosional. Mereka terbiasa menerima arahan tanpa takut gagal atau takut disalahkan.

Sebaliknya, koreksi yang memalukan atau merendahkan dapat membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang mudah cemas atau menghindari tanggung jawab.

Tujuan Anda bukan menghindari koreksi, tetapi mengelola cara penyampaian agar tidak merusak hubungan. Dengan menjaga rasa aman anak, Anda justru memperkuat dasar emosional yang dibutuhkan untuk membangun karakter dan kemandirian.

3. Membentuk Koneksi Sebelum Koreksi

Sebelum memberikan koreksi, bangunlah jembatan koneksi. Dr. Laura Markham menyebutnya the connection bridge, yaitu pendekatan yang menenangkan emosi anak sebelum Anda memberi arahan.

Caranya sederhana: turunkan posisi tubuh agar sejajar dengan mata mereka, gunakan nada lembut, dan beri sentuhan ringan seperti menyentuh bahu mereka.

Tindakan kecil ini mengirim pesan kepada otak anak bahwa mereka aman. Begitu perasaannya tenang, kemampuan menerima informasi meningkat.

Tidak ada koreksi yang dapat masuk ke hati anak yang tertutup, tetapi koreksi dapat diterima dengan mudah ketika hati mereka terbuka.

Setelah koneksi terbangun, sampaikan arahan dengan kalimat empatik. Misalnya, “Saya tahu Anda tidak bermaksud begitu. Mari kita bicarakan apa yang bisa kita lakukan lebih baik.”

Pendekatan seperti ini mencegah anak merasa diserang dan membuka jalan untuk pembelajaran yang efektif.

4. Mengajar, Bukan Mengancam

Tujuan disiplin sejatinya adalah mengajar, bukan menghukum. Ketika anak melakukan kesalahan, lihat itu sebagai momen belajar, bukan momen untuk memberi ancaman.

Ancaman hanya membuat anak patuh sementara, tetapi tidak memahami alasan di balik aturan. Sebaliknya, pendekatan mengajar membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir dan mengelola diri.

Cobalah mengganti ancaman seperti “Jika kamu ulangi, saya ambil ponselmu” dengan dialog seperti “Apa yang bisa kita lakukan berbeda lain kali?”

Pertanyaan seperti “Bagaimana perasaan orang lain saat itu terjadi?” atau “Apa langkah yang lebih baik menurut Anda?” membantu mengaktifkan bagian otak anak yang memproses empati dan pengendalian diri.

Dengan pendekatan ini, Anda bukan hanya memperbaiki perilaku, tetapi juga melatih kecerdasan emosional mereka. Anak belajar memahami konsekuensi, mengatur reaksi, dan mengambil tanggung jawab secara alami tanpa paksaan.

5. Mengakhiri Koreksi dengan Keyakinan dan Kasih

Setiap koreksi sebaiknya ditutup dengan penguatan positif. Ungkapan seperti “Saya mengoreksi karena saya percaya Anda bisa lebih baik” memberi pesan bahwa kesalahan tidak membuat anak kehilangan cinta atau nilai dirinya.

Ini membantu anak memisahkan kesalahan dari identitas mereka. Reassurance seperti ini membangun ketahanan emosional jangka panjang.

Anak yang tahu bahwa mereka tetap dicintai meskipun berbuat salah akan tumbuh menjadi pribadi yang berani mencoba, tidak takut gagal, dan lebih percaya diri.

Mereka belajar bahwa kegagalan bukan akhir, tetapi bagian dari proses bertumbuh. Pada akhirnya, anak akan memahami bahwa tujuan koreksi bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membangun.

Reassurance yang konsisten membuat mereka merasa aman dan percaya bahwa setiap koreksi merupakan bentuk perhatian, bukan penolakan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore