Logo JawaPos
Author avatar - Image
02 Januari 2026, 01.53 WIB

Sulit Bilang “Tidak” Saat Dewasa? Bisa Jadi Kamu Tumbuh dengan Pola Asuh Seperti Ini

Ilustrasi pola asuh orang tua yang keliru (peoplecreations/freepik) - Image

Ilustrasi pola asuh orang tua yang keliru (peoplecreations/freepik)

JawaPos.com - Banyak orang baru menyadari satu hal ketika sudah dewasa, mereka kesulitan menetapkan batasan, baik dalam hubungan, pekerjaan, maupun kehidupan pribadi. Kamu mungkin sering merasa tidak enakan, takut mengecewakan orang lain, atau terbiasa mengorbankan diri sendiri demi diterima.

Tanpa disadari, pola ini sering kali berakar dari pengalaman masa kecil. Cara orang tua memperlakukan anak, baik melalui tuntutan, kontrol, maupun inkonsistensi, bisa membentuk cara seseorang memandang dirinya dan orang lain hingga dewasa.

Orang yang tumbuh besar dengan menyaksikan tiga pola pengasuhan berikut ini, dalam banyak kasus, mengalami kesulitan besar dalam menetapkan batasan yang sehat saat dewasa.

Berikut 3 macam pola asuh yang membuat kita sulit mengatakan “tidak” saat dewasa seperti dirangkum dari laman Your Tango!

1. Dipaksa Menjadi Sosok yang Bukan Dirimu

Bayangkan kamu anak yang cenderung pendiam, suka membaca, dan nyaman dengan duniamu sendiri. Namun orang tua terus mendorongmu agar lebih sosial, lebih vokal, atau menjadi sesuatu yang menurut mereka “lebih baik”. Atau kamu menikmati belajar dengan ritme sendiri, tapi terus dipaksa mengikuti cara yang tidak sesuai dengan kecenderunganmu.

Pengasuhan memang membutuhkan aturan, tetapi akan jauh lebih efektif jika orang tua mau membaca isyarat alami anak. Ketika kecenderungan alami ini diabaikan dan anak terus dipaksa masuk ke dalam “cetakan ideal” versi orang tua, konflik dan tekanan emosional pun muncul. Anak tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya tidak pernah cukup.

Dalam jangka panjang, kondisi ini membuatmu terbiasa menyesuaikan diri demi diterima. Saat dewasa, kamu mungkin kesulitan mengatakan tidak karena sejak kecil terbiasa menomorsatukan keinginan orang lain di atas kebutuhan sendiri. Padahal, orang tua seharusnya menjadi pemandu, bukan penentu takdir anak. Ketika anak diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri, rasa percaya diri dan batasan pribadi akan tumbuh lebih sehat.

2. Setiap Gerak-Gerik Selalu Dikomentari dan Dikritik

Jika semasa kecil kamu sering mendengar komentar seperti, “Kenapa kamu pakai itu?”, “Kenapa nilaimu tidak sebagus kakakmu?”, atau “Kenapa teman-temanmu seperti itu?”, besar kemungkinan kamu tumbuh dalam lingkungan yang terlalu mengontrol.

Omelan, ceramah panjang, dan kritik terus-menerus sering kali dibungkus dengan alasan “demi kebaikanmu”. Padahal, pola ini justru membuat anak merasa tidak pernah cukup baik. Anak belajar bahwa setiap tindakan akan diawasi dan dinilai, bukan dipahami.

Saat dewasa, dampaknya bisa sangat terasa. Kamu mungkin menjadi orang yang selalu ragu mengambil keputusan, takut salah, dan sulit membela diri sendiri. 

3. Aturan Ada, Tapi Tidak Pernah Ditegakkan dengan Konsisten

Orang tua yang sering mengancam konsekuensi tetapi tidak pernah benar-benar menindaklanjutinya, tanpa sadar mengajarkan satu hal penting, kata-kata tidak perlu dianggap serius. Anak belajar bahwa batasan bisa dinegosiasikan atau bahkan diabaikan.

Ketika aturan tidak konsisten, anak menjadi bingung tentang apa yang benar dan salah. Hari ini boleh, besok dimarahi. Akibatnya, anak tidak belajar tentang tanggung jawab atau konsekuensi, melainkan tentang bagaimana menguji batas orang lain.

Saat dewasa, kamu mungkin tumbuh dengan batasan yang kabur. Kamu sulit tegas karena tidak pernah melihat contoh ketegasan yang sehat. Disiplin yang konsisten sebenarnya membantu anak merasa aman karena tahu apa yang diharapkan. Tanpa itu, anak tumbuh dengan ketidakpastian, dan ketidakpastian inilah yang sering terbawa hingga dewasa dalam bentuk kesulitan menetapkan batasan.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore