Ferenc Puskas kini jadi ikon sepak bola dunia melalui FIFA Puskas Award. (Real Madrid)
JawaPos.com — Cerita kelam Ferenc Puskas tak pernah lepas dari bayang-bayang rezim radikal yang membelenggu Hungaria sepanjang karier awalnya. Ia tumbuh di tengah tekanan politik yang keras, namun justru menjelma menjadi ikon sepak bola dunia yang kisahnya terus dikenang.
Puskas dikenal sebagai penyerang yang insting golnya tak tertandingi pada masanya. Semua sorotan terhadap kondisi politis di sekelilingnya tak pernah menghentikan semangatnya untuk bermain dan menang.
Namanya kini abadi lewat “Puskas Award” yang diberikan FIFA untuk gol terbaik setiap tahun. Banyak yang meyakini Puskas akan memenangkan penghargaan itu berkali-kali bila sudah ada sejak era keemasannya.
Laga di Wembley pada 1953 menjadi momen ikonik ketika Puskas memimpin Hungaria menghajar Inggris 6-3. Aksinya ketika membuat Billy Wright tertinggal jauh menjadi bukti begitulah Puskas, kejam dan inovatif.
Kariernya tak pernah mudah sejak klubnya, Kispest, diambil alih tentara pada 1949 dan berubah menjadi Honved. Kekuasaan militer membuat sepak bola Hungaria sarat kepentingan politik dan tekanan dari rezim.
Puskas menegaskan dalam autobiografinya, Puskas, dirinya selalu berkomitmen pada permainan dan keluarganya. “Saya harus mengatakan saya bukannya orang yang tak pernah berkomitmen,” tulisnya dalam buku tersebut.
Ia menambahkan tak punya ketertarikan pada politik yang melingkupinya. “Saya sama sekali tak tertarik pada politik, di dalam dunia sepak bola saya, isinya cuma bermain dan berlatih, dan memimpin kehidupan keluarga yang bahagia.”
Meski begitu, Puskas dan rekan setim tetap tampil total ketika membela Hungaria.
Di bawah Gusztav Sebes, mereka mencatat kemenangan beruntun selama empat tahun termasuk emas Olimpiade 1952 dan kemenangan 6-3 di Wembley.
Kiper Gyula Grosics menegaskan kemenangan tersebut lahir dari tekanan hidup yang dialami masyarakat Hungaria.
“Kami hidup di bawah rezim yang sangat radikal yang menggunakan banyak senjata, termasuk intimidasi, untuk memaksakan visi,” ujarnya.
Grosics menyebut sepak bola menjadi ruang kecil bagi rakyat untuk bernapas.
“Sementara otoritas politik mencoba untuk memonopoli dan memanipulasi kesuksesan kami untuk tujuan mereka sendiri, massa dalam jumlah besar orang dibebaskan selama 90 menit untuk sepakbola.”
Ketika Piala Dunia 1954 digelar di Swiss, publik Hungaria menaruh harapan sangat tinggi. Mereka percaya mengalahkan Jerman Barat bukan hal sulit meski Puskas sedang mengalami cedera engkel.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
