Frustrasi Arda Guler mencuat saat Real Madrid kalah 4-2 dari Benfica. Pundit menilai kemarahan sang gelandang Turki wajar, mengingat performa impresifnya justru berakhir dengan keputusan pergantian.
JawaPos.com - Frustrasi di tubuh Real Madrid semakin sulit disembunyikan sepanjang musim ini, dan semuanya tampak jelas saat mereka tumbang 4-2 dari Benfica.
Dua gol Kylian Mbappe tak cukup menyelamatkan Los Blancos, yang justru harus menyaksikan Jose Mourinho memimpin comeback menyakitkan atas mantan klubnya sendiri.
Alvaro Arbeloa tak lari dari tanggung jawab atas kekalahan di Estadio da Luz, hasil yang memaksa Madrid harus melalui babak play-off demi mengamankan tiket ke 16 besar Liga Champions.
Sang pelatih interim tetap berdiri di barisan terdepan membela para pemainnya, meski beberapa keputusan di lapangan jelas memicu tanda tanya.
Salah satu momen paling disorot malam itu terjadi pada menit ke-79, ketika Arbeloa menarik keluar Arda Guler.
Saat itu, Madrid sedang mati-matian mengejar gol penyama kedudukan—dan ironisnya, Guler justru menjadi salah satu pemain paling hidup di lapangan.
Melansir The Real Champs, Matthew Guyett selaku pundit memahami mengapa pemain timnas Turki tersebut marah ketika diganti dengan Brahim Diaz.
Musim Arda Guler sejauh ini memang penuh naik turun. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, ia terlihat mulai menemukan ritmenya di bawah asuhan Arbeloa. Assist demi assist mengalir, kontribusinya terasa nyata, dan perannya dalam skema permainan mulai terlihat krusial.
Sayangnya, kepercayaan itu belum sepenuhnya diwujudkan dalam bentuk menit bermain penuh. Ketika papan pergantian menunjukkan nomornya, kamera menangkap ekspresi kesal Guler yang bergumam.
"Selalu aku, selalu aku." Sebuah kalimat pendek yang terasa sarat makna.
Sebelum laga, Arbeloa sempat memuji Guler sebagai pemain masa depan klub. Namun, dalam pertandingan krusial ini, keputusan tersebut justru menimbulkan kesan bahwa sang pelatih lebih sibuk memikirkan jangka panjang, ketimbang kebutuhan mendesak di depan mata.
Secara statistik, Guler tampil menonjol. Ia mencatat satu assist, menciptakan enam peluang, menyelesaikan 51 dari 57 operan, serta mengirim sembilan umpan ke sepertiga akhir lapangan.
Dalam kondisi tim yang butuh gol, sulit mencari alasan kuat untuk menarik satu-satunya sumber kreativitas Madrid dari lapangan.
Keadaan Madrid bahkan kian memburuk setelah Guler keluar. Raul Asencio dan Rodrygo harus menerima kartu merah di pengujung laga, sebelum Benfica menutup malam dengan gol sundulan kiper Anatoliy Trubin pada menit ke-90+8. Skor 4-2 pun memastikan Madrid pulang dengan kepala tertunduk.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
