
Museum Listrik dan Energi Baru (MLEB) di kawasan Taman Mini Indonesia Indah. (Dok. MLEB)
Listrik kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Namun, perjalanan panjang Indonesia menuju terang benderang ini ternyata menyimpan kisah menarik sejak masa penjajahan Belanda hingga era energi hijau yang tengah dikembangkan saat ini.
Museum Listrik dan Energi Baru (MLEB) adalah satu dari sekian banyak saksi perjalanan kelistrikan di Indonesia. Supervisor Bidang Pengembangan MLEB, Jamaludin, menjelaskan secara rinci bagaimana kelistrikan Indonesia berkembang dari masa ke masa, hingga menjadi tulang punggung peradaban modern.
Perjalanan listrik di Indonesia dimulai pada akhir abad ke-19, saat negeri ini masih berada di bawah kekuasaan Belanda. Jamaludin menuturkan, saat itu listrik belum digunakan untuk kepentingan menyalakan lampu rumah milik rakyat, melainkan kepentingan pemerintah kolonial dan perusahaan swasta Belanda.
"Pada masa itu, listrik bukan untuk rakyat, melainkan digunakan untuk kepentingan pemerintah kolonial dan perusahaan swasta Belanda, seperti perusahaan gula, pertambangan, dan perkeretaapian," ujarnya saat berbincang dengan JawaPos.com.
Listrik pertama kali menyala di Batavia (kini Jakarta) pada tahun 1897. Pembangkit tersebut dikelola oleh NV NIGM (Nederland Indische Gas Maatschappij), perusahaan gas Belanda yang kemudian merambah bisnis listrik. Dari situ, penerangan mulai menjangkau kota besar lain seperti Surabaya, Semarang, dan Medan, meski hanya untuk kalangan elit kolonial.
Saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942, seluruh aset listrik Belanda diambil alih oleh pemerintah militer Jepang. Sayangnya, karena Perang Dunia II, banyak pembangkit rusak dan pasokan listrik menurun drastis. Namun, masa ini justru menjadi momen penting bagi tenaga lokal.
"Masa ini menjadi titik awal bagi tenaga teknis lokal Indonesia untuk mulai belajar mengoperasikan sistem kelistrikan dari pihak Jepang. Sebuah pengalaman yang kelak menjadi penting setelah kemerdekaan," jelas Jamaludin.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, para pemuda Indonesia bergerak cepat merebut aset kelistrikan dari tangan Jepang.
Peristiwa penting terjadi pada 27 Oktober 1945, ketika para pekerja listrik dan gas di Jakarta berhasil mengambil alih perusahaan listrik Jepang dan membentuk lembaga baru bernama Jawatan Listrik dan Gas di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga.
"Tanggal inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari Listrik Nasional setiap 27 Oktober," terangnya.
Tanggal tersebut kini diperingati sebagai Hari Listrik Nasional. Saat itu, kapasitas listrik nasional baru sekitar 157,5 megawatt. Namun semangat untuk menghadirkan listrik hingga seluruh pelosok negeri mulai berkobar.
Listrik pertama kali menyala di Batavia (kini Jakarta) pada tahun 1897. Pembangkit tersebut dikelola oleh NV NIGM (Nederland Indische Gas Maatschappij). (dok. MLEB)
Memasuki tahun 1950-an, pemerintah gencar membangun pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di berbagai daerah. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat.
Pada tahun 1961, dibentuk Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai Badan Usaha Milik Negara yang bertanggung jawab atas penyediaan tenaga listrik di seluruh Indonesia.
PLN kemudian memimpin proyek besar seperti PLTA Jatiluhur, PLTU Tanjung Priok, dan PLTA Sigura-gura. Listrik mulai menjangkau daerah-daerah di luar Jawa, meskipun masih terbatas di perkotaan.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
