
Aksi teatrikal Parade Surabaya Juang 2025, Minggu, (2/11). (Novia Herawati/JawaPos.com)
JawaPos.com - "Dor..dor...dor..." dentum suara tembakan terdengar nyaring di jalan Gubernur Suryo saat itu.
Diantara kerumuman ribuan orang, dua gadis berbalut kebaya putih berdiri tegas diatas puing-puing reruntuhan perang. Keduanya membentangkan spanduk perjuangan “Surabaya Merah Putih”.
Di belakangnya, Kusno Wibowo dan Hariyono memanjat senyap tangga rooftop Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit Surabaya, Red.). Diiringi sorak-sorai warga kota, duet pejuang muda itu merobek bagian biru Prinsenvlag – sebutan bendera Belanda -.
Bahu bertemu bahu, warga rapat tumplek blek menyaksikan Merah Putih yang berkibar gagah pada aksi teatrikal Parade Surabaya Juang 2025, Minggu, awal November lalu (2/11).
Arek-arek Suroboyo melakukan reka ulang aksi heroik Kusno dan Hariyono yang dulu dilakukan pada 19 September 1945. Aksi ini diihwali dari bebalnya Victor Willem Charles Ploegman, pejabat Belanda yang ndableg mengibarkan bendera Belanda meskipun Republik Indonesia telah mengumandangkan kemeredekaan. Eskalasi emosi ini meledak dan menjadi salah satu pemantik perang bulan November di Surabaya.
Momen bersejarahan itu sekarang menjadi "kemeriahan" yang selalu hadir setiap tahun jelang peringatan Hari Pahlawan 10 November. Acara yang digagas Pemerintah Kota Surabaya ini tak pernah absen sejak 2008.
Mengusung tema Surabaya Epic, sekitar dua ribu peserta dari berbagai komunitas dan latar belakang ikut memeriahkan Parade Surabaya Juang 2025 dengan kostum-kostum bernuansa tempo dulu.
Dari kostum pejuang kemerdekaan yang khas dengan seragam cokelat susu, gadis pribumi berkebaya-jarik, sampai tentara Belanda-Inggris yang lengkap dengan senapan dan kendaraan tempurnya.
Soegiarto merupakan bek andalan Persebaya era 1930-an yang turut andil dalam mempertahankan Surabaya dari gempuran agresi militer tentara Inggris. Pria asli Ngaglik Surabaya ini akhirnya gugur dalam pertempuran 10 November 1945.
Pertunjukkan itu seolah menarik perhatian penonton untuk larut dalam suasana perang yang menegangkan. "Wah!…." celetuk kagum salah satu penonton. Mereka terpukau dengan kegigihan para pejuang.
Tim Persebaya saat masih bernama SIVB (Soerabaiasch Indische Voetbalbond) tahun 1936. Soegiarto turut membawa Persebaya juara babak daerah Jawa Timur. (Dok. Soerabaijasch Handeslblad, 22 Mei 1936)
Rangkaian Heroic Days Hidupkan Kembali Semangat 10 November
November selalu menjadi bulan istimewa bagi Kota Surabaya. Pertempuran besar 10 November 1945 yang menewaskan Brigjen A.W.S. Mallaby, membuat daerah ini dikenal luas sebagai Kota Pahlawan.
Bangunan tua, monumen, hingga sudut-sudut kotanya menjadi saksi bisu bagaimana arek-arek Suroboyo bertempur habis-habisan melawan penjajah demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Pemerintah Kota Surabaya juga menunjukkan komitmen untuk merawat warisan sejarah. Setiap tahun, beragam acara dalam Surabaya Heroic Day digelar untuk menyambut peringatan Hari Pahlawan 10 November.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
